Program Makmur Petrokimia Gresik, Tingkatkan Panen Benih Kangkung 12 Persen

Salah satu AgroMan saat menejelaskan informasi skema kerjasama Petrokimia Gresik dengan PT East West dalam Program Makmur (kiri) kepada Dirut PG (no.2 dari kanan) dan pejabat terkait.

Gresik, Bhirawa.
PT Petrokimia Gresik terus memperluas manfaat program makmur dengan mengawal budidaya benih kangkung, di lahan seluas 567 hektare yang tersebar di lima kabupaten di Jawa Timur. Kesuksesan ditandai dengan peningkatan hasil panen benih kangkung hingga 12 persen, di lahan seluas 36,11 Ha di Gresik.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan. Bahwa selama pandemi Covid-19, peran sektor pertanian sebagai penyedia pangan sehat menjadi semakin penting dan strategis. Sehingga kegiatan produksi pertanian, termasuk komoditas hortikultura harus ditingkatkan.

“Untuk itu, kami terus berupaya mengoptimalkan manfaat program makmur, dengan menyasar lebih banyak komoditas. Tidak hanya komoditas pangan, tapi juga komoditas hortikultura,” ujar Dwi Satriyo.

Setelah padi, tebu, jeruk, kentang dan bawang merah, kali ini Program Makmur menyasar tanaman kangkung, yang merupakan komoditas hortikultura primadona petani Gresik. Jika selama ini banyak petani beranggapan bahwa kangkung bukanlah tanaman yang menguntungkan, tidak demikian dengan petani di Gresik.

Budidaya tanaman kangkung oleh petani Gresik, diambil bijinya sebagai benih untuk diekspor oleh perusahaan penampung ke berbagai negara mulai dari Thailand, Filipina, India. Hingga Jepang. Meski ditengah pandemi Covid-19, kuantum ekspor benih kangkung masih menembus angka 80 ton pada tahun 2020.

“Melalui program makmur, Petrokimia Gresik berkolaborasi dengan berbagai stakeholder untuk mewadahi petani kangkung agar mendapatkan jaminan permodalan, jaminan mutu hasil panen hingga jaminan pasar,” ujar Dwi Satriyo.

Dari sisi pendanaan, BNI memberikan pinjaman modal hingga Rp800 miliar, kemudian anak perusahaan Petrokimia Gresik, yaitu Petrosida Gresik berperan sebagai penyalur pupuk dan penanggulangan hama/penyakit, dan PT East West Seed Indonesia (EWINDO) berperan sebagai offtaker yang membeli hasil panen petani binaan.

Sedangkan petrokimia sendiri berperan dalam menyediakan layanan mobil uji tanah, untuk memberikan analisis lahan pertanian. Sehingga petani dapat memperoleh rekomendasi pupuk, sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman.

Adapun rekomendasi pemupukan dalam program makmur, pada komoditi kangkung ini menggunakan kombinasi pupuk subsidi dan pupuk non subsidi. Yaitu pupuk NPK Phonska subsidi 200 kg/ha, NPK Phonska Plus 200 kg/ha, pupuk ZA non subsidi 200 kg/ha, pupuk SP-36 subsidi 100 kg/ha, dan pupuk organik Petroganik sebanyak 2 ton/ha.

Formula ini, terbukti mampu meningkatkan produktivitas benih kangkung di Gresik. Hingga 12 persen, dari rata-rata 1,49 ton/ha, menjadi rata-rata 1,67 ton/ha. Dengan demikian, omset petani pun meningkat hingga 20-25 persen.

“Melalui program makmur, petani dapat memenuhi kekurangan kebutuhan pupuk bersubsidi. Karena keterbatasan alokasi yang tersedia, untuk meningkatkan produktivitas hasil panen sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani,” ujar Dwi Satriyo.

Sementara Anang Ma’ruf, salah satu petani kangkung binaan EWINDO yang mengikuti program ini mengatakan. Bahwa program makmur, sangat berdampak positif bagi dirinya dan petani kangkung lainnya.

“Kami merasa sangat diuntungkan, karena kebutuhan petani sangat bisa terpenuhi. Untuk itu, kami berharap terus dibantu melalui Program Makmur untuk memakmurkan petani,” ujarnya.

Selain di Gresik, program Makmur pada komoditi benih kangkung kerja sama dengan EWINDO. Juga dilaksanakan di Kabupaten Mojokerto (37 Ha), Jombang (50 Ha), Lamongan (81 Ha), dan Tuban (363 Ha).

Kegiatan Panen Benih Kangkung Program Makmur antara Petrokimia Gresik & PT East West Seed.

Terakhir, Dwi Satriyo menegaskan bahwa program makmur. Merupakan wujud visi petrokimia sebagai perusahaan solusi agroindustri, di bawah komando pupuk indonesia. Serta terobosan dan strategi untuk meningkatkan produksi pertanian, guna mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Berharap program makmur, dapat dijalankan di seluruh Indonesia. Mampu menjadi solusi peningkatan produktivitas pertanian, sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani di berbagai daerah.

“Komitmen ini, akan terus kami tingkatkan dengan menyasar lebih banyak komoditas di berbagai daerah. Agar manfaat program makmur, dapat dirasakan lebih banyak petani di Indonesia,” tandas Dwi Satriyo. (kim)

Tags: