Provokasi dalam Jurnalisme

JurnalisLyberty too can corrupt. Absolute liberty can corrupt absolutely,” begitu kicauan (mantan presiden) SBY dalam akun twitter miliknya, seperti dikutip Metronews.com. Kicauan itu merupakan komentar SBY tentang “mutualisme” antara serangan terorisme di Perancis dengan penggambaran karikatur Nabi Muhammad di majalah Charlie Hebdo. Juga memunculkan phobia terhadap muslim dan agama Islam.
Komentar yang mirip juga dinyatakan oleh pemimpin redaksi televisi Al-Jazeera. Meski tidak mirip benar, namun sama-sama menunjuk adanya sebab akibat. Pemimpin redaksi Al-Jazeera menyatakan “I agree to condemn the attack but I am not Charlie.” Al-Jazeera secara resmi menyatakan, seharusnya di dalam jurnalistik tiada penistaan dan penghasutan. Terdapat pesan yang sama: kebebasan absolut berpotensi penyimpangan.
Komentar senada juga dinyatakan oleh pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiscus. “Seseorang tidak boleh melakukan provokasi, orang tidak boleh menghina keyakinan orang lain, orang tidak boleh mengolok-olok keyakinan. Di dalam kebebasan berekspresi ada batas-batas,” ucap Sri Paus yang dikutip Guardian. Paus juga mengatakan bahwa hujatan dapat menimbulkan pembalasan, dan itu merupakan hal yang nomal.
Masa kini, banyak “celoteh” yang menistakan agama Islam. Men-ciderai pergaulan agama-agama, dan mem-provokasi kemarahan umat. Apakah warga muslim boleh membalas dengan celoteh pula? Namun konyolnya, muslim yang tidak sabaran, memilih pembalasan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW memberi contoh menjawab penistaan dan penghasutan dengan kasih sayang.
Terhadap seorang pengemis yang lumpuh dan buta. Nabi Muhammad SAW selalu menyuapi makanan bergizi secara santun, tanpa memperkenalkan diri sebagai Muhammad SAW. Padahal pada setiap suapan Nabi SAW selalu “di-celotehi” oleh pengemis agar jangan menggubris ucapan Muhammad yang mengaku sebagai utusan Tuhan. Sampai Nabi Muhammad SAW wafat, penyuapan digantikan oleh Umar bin Khatthab.
“Celoteh” pengemis terus berlanjut, diucapkan pula kepada Umar bin Khatthab. Sampai suatu ketika pengemis buta itu bertanya, kemana perginya penyuap makan yang dahulu, yang lebih santun? Dijawab oleh Umar bin Khatthab, bahwa penyuap makan terdahulu, adalah Muhammad SAW sudah wafat. Seketika pengemis buta menangis meronta sampai menyesali “nasehat-nya” yang konyol.
Itulah teladan Nabi Muhammad SAW dalam membalas penistaan dalam bentuk ucapan. Namun untuk penistaan dalam bentuk combatan (tantangan bersenjata) Nabi Muhammad SAW tak segan meladeni. Sering pula Nabi SAW maju terdepan dalam peperangan, sampai berdarah-darah. Tetapi perang oleh Nabi SAW bukan dari belakang dan ujug-ujug (serangan mendadak). Melainkan dengan pemberitahuan waktu dan tempat perang yang disetujui kedua pihak.
Komentar Sri Paus, twit SBY dan komentar Al-Jazeera, merupakan bentuk kritik atas kebebasan absolut jurnalisme seperti dilakukan oleh majalah Charlie Hebdo dalam pembuatan karikatur Nabi Muhammad. Sekaligus juga sebagai kecaman terhadap penyerangan terhadap majalah itu. Menewaskan 12 jiwa. Meski dengan “celoteh” karikatur itu Charlie memperoleh popularitas sangat pesat.
Penistaan agama selalu cuma menjadi wacana perdebatan, dihubungkan dengan hak asasi manusia (HAM). Hak kebebasan berbicara dan berpendapat. Padahal penistaan maupun penghasutan agama, nyata-nyata melanggar HAM. Khususnya terhadap minoritas muslim di berbagai belahan dunia, penistaan agama telah mengarah pada tindak kekerasan. Sampai diserang dan dibunuh (tragedi Rohingya).
Kebebasan berbicara (bagian dari HAM) selalu menjadi dalih konyol  penistaan agama. Padahal deklarasi universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights, UDHR) nyata-nyata melarang penistaan. Bahkan dalam mukadimah HAM UDHR, sudah di-ingatkan bahwa penistaan akan menyebabkan kemarahan.
Pergaulan agama-agama kini memasuki masa kritis, bahkan mengancam keamanan di seluruh dunia. Agaknya, dunia internasional memerlukan semacam mahkamah ke-agama-an yang diberi wewenang untuk menghukum setiap penistaan agama.
————– 000 —————-

Rate this article!
Tags: