Proyeksikan Eks TPA Kota Batu Jadi Kawasan Organik

eddy-rumpoko1Kota Batu,Bhirawa
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus berupaya menjadi kota ini menjadi sentra pertanian organik. Untuk itu mereka terus mencari dan menyediakan tempat untuk dijadikan sarana pembibitan tanaman orgtanik. Karena itu pula, pemkot segera menyulap lahan eks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Ngaglik menjadi sebuah kawasan pertanian organik.
Di tempat ini, selain dipergunakan untuk pembibitan tanaman organic, juga akan dijadikan tempat.pengelolaan pupuk organic. Rencana ini dilontarkan setelah Walikota Batu, Eddy Rumpoko (ER), meninjau langsung ke eks TPA Ngaglik tersebut.  Saat melihat lokasi TPA yang sudah tidak dipergunakan lagi, walikota menginginkan agar lokasi tersebut dijadikan kawasan pertanian orgnaik.
“Eks TPA Ngaglik ini memang akan diproyeksikan untuk kawasan pertanian organic, dan untuk demplot pertanian organic,” ujar ER saat dikonfirmasi.
Diketahui, TPA Ngaglik ini ditutup oleh Pemkot Batu sekitar tahun 2010 lalu. TPA ini ditutup karena sudah tidak mampu lagi menampung sampah Kota Batu. Selain itu, beberapa hotel serta permukiman warga mengeluhkan bau busuk yang ditebarkan dari TPA ini. Berdasarkan hal tersebut, Pemkot Batu menutup TPA tersebut, dan mengalihkan pembuangan sampah ke TPA Tlekung.
TPA Ngaglik seluas 1 hektar ini sudah tidak terlihat lagi gundukan sampahnya. Juga tidak lagi menebarkan bau busuk, yang ada hanyalah rumput serta ilalang yang menghijau. Di bawah TPA ini masih tersimpan gas metan.
Awalnya TPA ini diuruk tanah dan menebarkan kapur di bawah. Cara ini bisa menghilangkan bau busuk yang mengganggu warga. Aktivitas ini dilanjutkan dengan merapikan areal untuk tandon baru sampah. Kegiatan ini dilakukan agar bau busuk dari gas metan hasil sampah tidak keluar kemana-mana. Sehingga gasnya tersimpan dan bisa digunakan untuk keperluan yang lain.
Sistem yang disebut dengan sanitary landfill ini memang membutuhkan pengurukan tanah dan pengkapuran setiap harinya. Tentu saja perlakuan ini membutuhkan dana yang besar disesuaikan dengan kebutuhan yang dikeluarkan. Idealnya, untuk pengurukan dan pengapuran tanah ini dibutuhkan dana yang cukup besar berkisar Rp 500 juta pertahunnya.  “Upaya tersebut berhasil, kini eks TPA Ngaglik sudah menjadi kawasan hijau yang bisa dimanfaatkan untuk konservasi,”pungkas ER. (nas)

Keterangan Foto : Walikota Batu, Eddy Rumpoko

Tags: