PSSI Dibekukan (Lagi)

PSSIPRESTASI sepakbola Indonesia, niscaya akan merosot lagi, karena terhentinya liga resmi. Berbagai pertandingan yang diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia (dibawahkan oleh PSSI), tidak diakui oleh BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia). Ini konsekuensi pembekuan kepengurusan PSSI oleh Kemenpora. Padahal PSSI baru saja menggelar KLB (Kongres Luar Biasa). Kisruh ini bagai mengulang tragedi perpecahan tahun 2012 lalu.
Pada hari yang sama, di Ancol, Jakarta, “panitia” ISL (KPSI) juga menggelar kongres luar biasa (KLB) dihadiri 81 pemilik suara. Agenda utamanya tidak mengakui keberadaan PSSI dibawah kepemimpinan Djohar Arifin. KLB memilih La Nyalla Mahmud Mattalitti, sebagai Ketua Umum, dengan paradigma dan persepsi menggantikan Djohar Arifin. Untuk meng-akur-kan kedua PSSI, AFC (Asosiasi Sepakbola Asia) mengulurkan bantuan pendamaian.
Kuala Lumpur, 7 Juni 2012, melalui mediasi Wapres AFC Abdullah Ibni Sultan Ahmad Shah, dua lembaga sepakbola Indonesia menandatangani MoU. Beberapa isi MoU, tak beda dengan rekomendasi FIFA kepada Kemenpora. Diantaranya, rehabilitasi empat anggota komit eksekutif PSSI yang dipecat (termasuk La Nyalla Mattaliti). Syukur, PSSI bisa “dipersatukan” setelah berbagai campur tangan oleh FIFA dan pemerintah.
Namun ternyata, persatuan PSSI tidak pernah utuh. Konflik yang bersumber dari dari dua liga (LPI dan LSI) terus tersimpan, bagai api dalam sekam. Seharusnya, dua liga dapat bersaing sehat. Sebagaimana di Spanyol, terdapai liga BBVA (La Liga), serta ada Copa del Rey (Piala Raja). Di berbagai negara lain memiliki varian ajang prestasi sepakbola.
Di Indonesia, antara liga primer maupun liga super dalam posisi persaingan diametral. Dulu, PSSI hanya mengakui LPI. Tetapi pengurus PSSI yang baru berganti meng-akomodir ISL. Saat itu BOPI menyatakan kedua liga sama-sama legal, sah. Agaknya, diperlukan proses pendewasaan agar benar-benar siap memiliki dua jadwal liga yang berbeda. Di berbagai negara, beragamnya liga dianggap sebagai pembinaan lebih intensif.
Kali ini, entry point kisruh PSSI dipicu pajak penghasilan (PPh) pemain liga profesional. Dalam UU Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan, klausul tentang pajak atlet profesional memang tidak diatur. Namun terdapat pasal tentang olahraga profesional. Definisinya dituliskan, “Olahraga profesional adalah olahraga yang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain yang didasarkan atas kemahiran berolahraga.”
Terdapat frasa kata “memperoleh pendapatan” yang bermakna penghasilan. Dus, wajib dipungut pajak. Sehingga kisruh PSSI bukan “perang” saudara, melainkan bermasalah dengan persyaratan BOPI (pemerintah).
Kini, “bola” berada di tangan pemerintah (Kemenpora). Jika Menpora gagal mem-fasilitasi, maka PSSI akan out (dicoret) dari pergaulan sepakbola internasional. Tidak akan ada negara yang bersedia bertanding melawan kesebelasan dari Indonesia. Timnas Indonesia akan dilarang bertanding pada even internasional di semua tingkatan: ASEAN, Asia, Olimpiade maupun Piala Dunia. Bahkan, walau sekadar pertandingan persahabatan (friendly match) sekalipun.
Itu berarti (anacaman) kiamat perspakbolaan Indonesia. Dulu, kisruh PSSI menyebabkan prestasi terus merosot, sampai tragedi dibantai 10:0 oleh skuad Bahrain. Skor telak ini juga menyebabkan timnas diganjar denda, karena dianggap melakukan pertandingan “untuk kalah.” Beberapa kali pembentukan timnas juga mengalami gangguan. Saat itu peringkat Indonesia pada posisi ke-169, satu tingkat di atas Sri Langka dan Nepal. Sekarang peringkat Indonesia berada pada posisi ke-102.
Memang tidak mudah membekukan PSSI. Sama sulitnya dengan mengatur suporter-mania antar klub. Harus ekstra hati-hati. Jika tidak, per-sepakbola-an akan masuk program “penyehatan.” Itu domain FIFA, yang tidak menguntungkan sistem pembinaan prestasi. Seluruh kompetisi akan terganggu. Sehingga target mencapai podium tertinggi pada SEA-Games 2015 (Juli di Singapura) bisa berantakan.

                                                                                                                   ————- 000 ————-

Rate this article!
PSSI Dibekukan (Lagi),5 / 5 ( 1votes )
Tags: