PTM Terbatas Minimalisasi Learning Loss

foto ilustrasi

Demi tetap terlaksananya proses pembelajaran selama masa pandemi Covid-19 sejatinya pemerintah terus berusaha memberikan yang terbaik buat anak bangsa di negeri ini. Berbagai langkah dan upaya mengatasi hambatan dan kendalapun terus dilakukan. Salah satunya adalah pemberian paket data kepada siswa dan guru. Namun, kendati demikian masih banyak kendala dan hambatan.

Data resmi UNICEF (September 2020) menunjuk angka 31 persen atau 463 juta anak sekolah di seluruh dunia tidak dapat dijangkau kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis siaran dan internet baik karena kurangnya aset teknologi yang diperlukan di rumah. Secara global, 3 dari 4 siswa yang tidak terjangkau oleh kebijakan PJJ berasal dari daerah pedesaan atau rumah tangga termiskin. Beranjak dari situasi tersebut, banyak studi dari berbagai lembaga yang mengkhawatirkan terjadinya krisis pembelajaran saat ini.

Oleh karena itu, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas didorong agar tidak terjadi learning loss atau kehilangan pembelajaran yang semakin besar. Diperkirakan 33 ribu siswa SD putus sekolah dan 1,2 juta siswa belum mendapatkan akses pendidikan yang layak karena imbas dari PJJ yang berkepanjangan. Survei Tanoto Foundation pada 2.218 siswa di 454 sekolah mitra menunjukan sekitar 48,3 persen siswa senang belajar dari rumah, 41 persen siswa menyebut pembelajarannya menarik dan menyenangkan, sedangkan 31 persen siswa mengaku mendapat pengalaman belajar yang bermakna. Dilanjutkan, sekitar 64 persen orangtua berharap anak dapat kembali ke sekolah, dan 52 persen guru berharap pembelajaran kembali normal. Terlebih, 85 persen negara di Asia Pasifik sudah melakukan PTM terbatas, (Kompas, 5/6/2021)

Itu artinya, potensi PJJ menyimpan pekerjaan rumah yang ekstra agar tidak terjadi learning loss yang semakin besar. Learning loss merupakan kondisi pada sebuah generasi yang kehilangan kesempatan menuntut ilmu akibat penundaan proses belajar mengajar. Sehingga dibutuhkan strategi pembelajaran yang berdasar pada kemampuan dasar anak untuk dikembangkan sesuai rangkaian perkembangan kompetensi, salah satunya melalui PTM terbatas.

Asri Kusuma Dewanti
Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Tags: