PTPN X Produksi 468.337 Ton Gula

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Surabaya, Bhirawa
PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) mencatatkan produksi gula 468.337 ton selama musim giling tahun 2014 yang dihasikan dari 11 pabrik gula miliknya di Jawa Timur.
“Meski dihadang dampak lanjutan anomali iklim, kinerja produksi perusahaan relatif tetap stabil. Bahkan, produksi gula tercatat hanya turun sekitar tiga persen dibandingkan tahun 2013,” Dirut PTPN X, Subiyono di Surabaya, Rabu (7/1).
Ia optimistis, dengan produksi 468.337 ton maka PTPN X tetap menyandang predikat sebagai produsen gula terbesar se-Indonesia. Performa produksi gula selama musim giling tahun 2014 dipengaruhi dampak anomali iklim yang terjadi pada 2013 di mana terjadi hujan berkepanjangan.
“Akibatnya kondisi itu menghambat pembentukan gula pada batang tebu. Selain itu, tebu tidak bisa ditebang tepat waktu dan sulit dirawat selama hujan pada tahun 2013,” ujarnya.
Walau begitu, jelas dia, pihaknya telah melakukan antisipasi antara lain dengan perbaikan di sektor budidaya dan revitalisasi mesin-mesin pabrik. Selain itu, beberapa indikator kinerja menunjukkan perbaikan.
“Pada tahun 2014, kadar gula dalam tebu (rendemen) mencapai 7,64 persen. Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibanding 2013 saat terjadi anomali iklim sebesar 7,19 persen,” tuturnya.
Sementara, tambah dia, produktivitas lahan rata-rata mencapai 85 ton per hektare termasuk yang tertinggi di antara perusahaan pergulaan yang lain. Luas areal tebu yang dikelola PTPN X bersama petani binaannya pada 2014 adalah sebesar 72.233 hektare dengan total 6,11 juta tebu digiling. “Dengan demikian, perusahaan mempunyai kapasitas giling pabrik sebesar 37.234 ton tebu per hari,” ucapnya.
Ia menyebutkan, kinerja 2014 juga terhambat penurunan harga gula yang sangat drastis. Bahkan, hingga ke kisaran Rp8.500 per kilogram. Angka itu di bawah pencapaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp9.500 per kilogram dan menembus Rp10.000 per kilogram pada 2012. “Harga gula turun lantaran penawaran yang berlebih karena rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi,” katanya.
Ia melanjutkan, gula rafinasi yang berbahan gula mentah impor seharusnya untuk pasar industri makanan-minuman. Namun, kenyataannya masuk ke pasar gula konsumsi sehingga menekan penjualan gula berbahan tebu petani.
“Untuk menyiasati penurunan harga gula, kami terus berupaya melakukan efisiensi untuk menekan biaya pokok produksi. Biaya pokok produksi gula di PTPN X bisa ditekan menjadi Rp5.758 per kilogram pada 2014 atau menurun dibanding 2013 sebesar Rp6.376 per kilogram,” katanya. [ma,ant]

Rate this article!
Tags: