Puasa dan Solidaritas Sosial di Tengah Pandemi Covid-19

Gumoyo Mumpuni Ningsih

Oleh:
Gumoyo Mumpuni Ningsih
Pengajar Universitas Muhammadiyah Malang

Ujian wabah Covid-19 hingga saat ini masih melanda bangsa ini. Suatu keadaan yang sulit ditentukan kapan berakhirnya. Sungguh suatu situasi yang membawa kesedihan secara kolektif bangsa di seluruh penjuruh tanah air. Berbagai upaya lahir dan batin untuk mengobati keadaan saat inipun bisa jadi kita lakukan. Berbagai doa dan ihktiar kita hanturkan kepada Allah SWT, demi berakhirnya pandemi ini.
Banyak hikmah yang sekiranya bisa kita petik di bulan Ramadan kali ini. Alquran, melalui surat Al Baqarah ayat 286 mengajarkan, bahwa Allah tidak akan memberi cobaan yang umat tidak kuat memikulnya. “Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,”
Melalui pemahaman ayat yang diajarkan Alquran tersebut, setidaknya menjadi rujukan kita bersama bahwa melalui ujian wabah Covid-19, semakin menggugah kesadaran dan ketaatan kita sebagai modal dan solusi bagi permasalahan bangsa termasuk dalam mengatasi wabah Covid-19.
Melalui bulan puasa Ramadan, setiap kita muslim dilatih agar menjadi insan yang mampu merasakan derita sesamanya, dengan begitu diharapkan kita mampu melahirkan sikap ta’awun, yakni semangat saling menolong orang lain secara tulus dan baik.
Artinya, jika posisi kita orang kaya, kita harus mampu berbagi dengan saudara kita yang kurang mampu atau miskin. Sedangkan, jika kita berilmu, kita harus mampu berbagi atas ilmu yang kita miliki pada saudara kita yang sedang membutuhkan.
Masih banyak yang bisa kita lakukan di bulan Ramadan, yang jelas semua adalah menggiring kita pada upaya atau perbuatan yang bisa bergunan pada saudara kita. Apalagi di tengah pandemik begini setiap keperdulian, sekecil apapun sangat dibutuhkan untuk mengurangi beban hidup.
Semangat ta’awun atau tolong-menolong dan keperdulian merupakan perintah dalam Islam. Allah berfirman yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS al-Maidah: 2). Ajaran ini sangat mulia karena setiap Muslim diajarkan untuk mau ber-ta’awun dengan siapa pun dalam hal-hal yang baik, sebaliknya jangan bekerja sama dalam segala keburukan.
Melalui kehidupan sehari-hari, tidak jarang ada yang bekerja sama untuk sesuatu yang buruk dan merugikan orang lain. Karena kepentingan-kepentingan duniawi yang sifatnya sesaat, sebagian orang saling berdusta dan mengembangkan hal-hal yang negatif yang menjatuhkan orang lain.
Sementara, orang juga sering tidak bersikap adil dan baik, tidak toleran, dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama karena yang bersangkutan mengejar nafsu dunia. Selain itu, tampak terjadi erosi dalam kehidupan bersama, seperti egoisme, membantu karena pamrih, hedonis atau memuja kenikmatan dunia, sikap acuh tak acuh, kepura-puraan, dan lain-lain.
Oleh sebab itulah, setiap muslim yang berpuasa akan mampu menjaga dirinya untuk menyemaikan benih-benih ta’awun membangun solidaritas sosial yang bersih dan baik dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia kemanusiaan universal.
Sikap ta’awun yang serba utama tersebut harus ditanamkan dan disebarluaskan di seluruh lapisan masyarakat, termasuk di kalangan anak-anak sebagai generasi umat dan bangsa. Jadi sangatlah jelas bahwa bulan Ramadan adalah bulan pengembangan kecerdasan sosial, termasuk keperdulian atau solidaritas sosial kita pada sesama. Semua upaya konkret tentu sangat dinantikan oleh semua umat, guna mengurangi tingkat kesedihan di tengah pandemic Covid-19. [*]

Tags: