Puasa Ramadan Bentuk Pendisiplinan Bangsa

Drs H M Yusuf, MPd

Oleh:
Drs H M Yusuf, MPd, Dosen Pend. Pancasila dan Kewarganegaraan Univ. Muhammadiyah Malang
Berpuasa pada bulan Ramadan sebenarnya dapat mengubah karakter manusia yang semula tidak disiplin menjadi disiplin. Pasalnya, puasa diciptakan oleh Allah lengkap dengan fasilitas dan keistemewaannya untuk dimanfaatkan manusia sebagai madrasah kehidupan yang melatih kedisiplinan diri dan mempelajari pola kehidupan yang menghargai waktu.
Didalam surat Al-Asr, ayat 1-3 Allah berfirman yang artinya: “demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati‚Ķ”. Dari gambaran potongan ayat tersebut, tidak diragukan lagi bawa Islam mengajarkan kedisiplinan dalam segala bidang.
Merujuk dari Al-Asr, ayat 1-3 tersebut, sekiranya sangat jelas adanya bahwa ibadah puasa yang sedang dilakukan kaum muslimin pada saat ini merupakan salah satu contoh pendidikan kedisiplinan diri. Pasalnya, pada puasa kita diwajibkan untuk disiplin waktu imsak, buka, dan sahur.
Sama halnya ketika meninggalkan puasa, maka wajib hukumnya menganti dengan jumlah hari yang sama, di lain waktu. Begitupun, saat berbicara ketepatan waktu, jika azan magrib berkumandang maka bersegeralah berbuka dan sholat Magrib tanpa harus mengabaikannya. Demikian pula dengan waktu imsak, mengakhiri sahur dengan tanda adzan shubuh berkumandang.
Itu artinya, saat menjalani puasa, seseorang belajar disiplin untuk mengendalikan diri dari makan dan minum sesuai waktu yang ditentukan sejak menjelang Subuh hingga beduk magrib. Sementara masalah terbesar dari bangsa Indonesia ialah disiplin.
Di sini, kunci kemajuan sebuah bangsa, yakni sejauh mana bangsa Indonesia mampu mendisiplinkan diri agar bisa menjadi bangsa yang maju. Artinya lagi, puasa Ramadan adalah ibadah yang sangat memperhatikan kedisiplinan. Paling tidak, ada tiga bentuk disiplin yang dibangun melalui ibadah puasa Ramadan.
Pertama, disiplin dalam ibadah (hablun minallah). Sebagaimana firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS al-Baqarah:183).
Kedua, disiplin dalam waktu, yakni menggunakan waktu sebaik mungkin, dengan menimbang terus efektif dan efesiensi waktu benar-benar terjaga. Alangkah indahnya ketika hidup disiplin bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk sikap dan bukti manusia yang beriman dan bertaqwa, sekaligus sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
Ketiga, disiplin dalam hukum, manusia tentunya terikat dengan hukum sebagai daya pengikat dalam dirinya. Salah satunya, adalah aturan atau norma menjadi barometer untuk mengukur diri apakah masih pada jalan yang benar atau sebaliknya. Melalui puasa Ramadhan inilah, sebagai umat muslim dianjurkan untuk berdisiplin diri dalam hukum. Hal tersebut, bisa tertunjukkan dari semua hal yang dilarang pada saat berpuasa hendaknya tidak dilakukan alias perlu ditinggalkan, sehingga diperlukan pengendalian diri dan disiplin, menjadi manusia yang bertaqwa, (surah Al-Baqarah, 187).
Melalui tiga bentuk disiplin yang dibangun melalui ibadah puasa Ramadhan, sekiranya semakin menunjukkan bahwa nilai kedisiplinan dan puasa merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebab, ada aturan-aturan dalam berpuasa yang memang harus dipatuhi ketika menjalankan ibadah tersebut sehingga jelas adanya bahwa puasa Ramadhan bener-bener memberikan kontribusi besar dalam pembentukan disiplin bagi setiap diri pribadi menuju kemajuan bangsa. [*]

Tags: