PUISI-PUISI AMING AMINOEDHIN

Oleh :
Aming Aminoedhin
Aalumni fakultas sastra, Universitas sebelas Maret surakarta

MISTERI TAK TERBACA

Perjalanan panjang virus wabah Korona itu belum tahu
kapan berakhir. Ada banyak prediksi, ternyata hanya
fatamorgana, seperti ada dan tiada.
Tiada ternyata ada. Dilema.

Janji prediksi bulan Mei, ketika muncul bintang pagi.
Tak ada terjadi. Prediksi musim kemarau tiba, hujan masih ada.
Lantas kapan? Tanya itu hanya membentur impian
ke impian. Jauh dari kenyataan. Fatamorgana.

Impian orang, kasus ini bagai penyakit biasa, kasih obat
lantas sirna. Padahal ada sesuatu tak terbaca oleh mata batin kita.
Ada misteri tak terencana, di balik ini semua.
Ada dimensi misteri tak terbaca manusia. Ada misteri!

Mojokerto 4/6/2020

Aming Aminoedhin
DI MATA ZAMAN

Masih ingat petasan lebaran? Masa lalu indah menawan.
Penanda hebat, jika halaman rumah, penuh
berkas-berkas pecahan kertas petasan. Berserakan!

Simbol itu kini sirna. Anak-anak lebih enjoy game-online
seharian. Tak perlu bakar-bakar petasan. Apa lagi
ada virus wabah keliaran. Virus tak takut suara ledakan.
Di rumah habiskan kuota pulsa internet
hingga lupa hitungan. Kasihan!

Zaman telah berganti. Simbol tak perlu lagi.
Barangkali juga puisi. Bahkan gelar, kini jadi hambar.
Mungkin tawar tanpa makna di mata zaman. Adakah?

Mojokerto, 5/6/2020

aming aminoedhin
DARI HALAMAN KOMPLEKS
BALAI PEMUDA SURABAYA

memandang arah timur ada tampak
gedung menjulang, awan bergelantungan
di atasnya. begitu hitam! (mungkin menakutkan)

hujan memang sejak pagi mengguyur kota ini
jalanan basah. cuaca dingin sekali
padahal bulan telah sampai pada Mei
hujan tak mau berhenti. entahlah?

barangkali minum kopi warungnya Ning
akan sungguh ternikmati, apa lagi
sambil berbincang tentang Walikota
membuka museum Surabaya
amat tergesa-gesa

padahal pertemuan baru kemarin
di balai kota, terasa belum final kita bicara
tiba-tiba museum telah dibuka
(ada apakah ini?) merasuk tanya di hati

dari halaman kompleks balai pemuda surabaya
aku bertanya-tanya, buat apa gedung kesenian
di kompleks ini? (tak ada gaung, tak ada juntrung
suaranya). untuk apa?

memandang gedung kesenian itu
terasa menakutkan, seperti awan bergelantungan
pagi ini. ah… entahlah!

Surabaya, 4/5/2015

aming aminoedhin
RUANG KELAS HENING SEPI

mengamati anak-anak baca puisi
seperti terasa lelah sekali, berteriak-teriak
seperti membentak-bentak di ruang kelas
sekolah itu. padahal ruang kelas hening
mata-mata mereka bening
bersama guru mendampingi

di luar ruang kelas, sidoarjo dalam hujan
di ruang kelas lain, anak-anak menata kata
jadi puisi bisa terjalin. hujan kian bergegas
sidoarjo dalam genggaman hujan
tak terbatas

belum lepas hujan itu, ijinkan aku mengalir
bersama hujan membasahi
mereguk kota surabaya
yang tiada hentinya bersuara
hiruk-pikuk kendaraan berlarian
suara kereta api membelah kota
memperparah suara-suara
serta klakson-klakson motor-mobil
menjerit tak mau kalah
bersuara!

sidoarjo dalam genggaman hujan
tak kuasa aku menulis sebaris puisi
lantaran gerimis tak habis-habis
terpaksa kutembus hujan
meski tubuh basah hujan
basah oleh puisi, yang kauteriakkan
di ruang kelas hening sepi

Sidoarjo, 28/4/2015

aming aminoedhin
DI UJUNG TIMUR BY-PASS KRIAN

hujan pagi memaksaku berteduh
minum kopi yang tersuguh di warung
ujung timur by-pass krian itu

senin pagi, biasa ratusan motor berlarian
mengejar waktu, memburu impian
agar terkejar di tangan kehidupan
tapi hujan pagi itu, aku tak keburu waktu
minum kopi bersama angan lebih ternikmati
sedang motor-motor itu tetap belarian
tetap mengejar impian tanpa kepastian

hujan pagi dan segelas kopi
bersama angan dan bayang-bayang mentari
menggodaku menulis puisi, meski
tak kutahu apa yang kutulis hari ini

hujan pagi, bayang-bayang mentari
ratusan motor belarian kejar impian
bemo, bison, dan bus mini rebutan penumpang
segalas kopi, sebungkus rokok dan korek api
tak membantuku menulis puisi. teramat susah
atau mungkin teramat basah
tubuh ini. ah…. persetan dengan puisi
biarkan kutulis saja ini.

Krian, 4/5/20015

aming aminoedhin
TITIK NOL SURABAYA

Berhenti pada pal titik nol Surabaya
terasa hidup berlarian
bagai kendaraan bersliweran
tanpa henti tanpa kesudahan
ribuan bahkan jutaan

Pada pal titik nol Surabaya
kulihat Tugu Pahlawan
gagah tinggi menjulang
mengajakku tak bimbang
menapak kehidupan
kian jumpalitan

Pada pal titik nol Surabaya
kulihat gedung tua memanggul jam
jarumnya terus berputar, seperti
mentari setiap hari bersinar
terasa langkah hidup menuju tua
seperti gerahnya siang kota
menuju senja

Pada pal titik nol Surabaya
kuingin mengeja usia negeri ini
seberepa panjang jika negara
terus dikorupsi, jika
rakyat tidak dimengerti pejabat
jika rakyat hanya diapusi
punya mandat hanya dipolitisasi?

Surabaya, 13/5/2019

Biodata Penulis:

Aming Aminoedhin
alumni fakultas sastra, universitas sebelas maret surakarta, jurusan bahasa dan sastra indonesia. aktif kegiatan teater, dan pernah menyandang predikat “aktor terbaik”
festival drama se jatim tahun 1983 dari teater persada ngawi, pimpinan mh. iskan
pernah menjabat biro sastra – dewan kesenian surabaya. ketua hp-3-n (himpunan pengarang, penulis, dan penyair nusantara) jatim, koordinator fass (forum apresiasi sastra surabaya), dan penggagas kegiatan malam sastra surabaya atau “malsasa” di dewan kesenian surabaya. punya predikat ‘presiden penyair jatim’ dijuluki oleh profesor doktor suripan sadi hutomo, almarhum.
Mendapatkan penghargaaan seni Gubernur Jawa Timur Bidang Sastra, tahun 2011.
puisi aming, juga ada yang diterjemahkan dalam bahasa inggris dan jerman, pada kumpulan puisi “equator” (2011). ikut temu penyair jateng di semarang (1983), temu penyair indonesia di taman ismail marzuki jakarta (1987), pertemuan sastrawan nusantara XII di singapura (2003), serta ceramah dan baca puisi di berbagai kota di jawa timur.

—————— *** ————–

Rate this article!
Tags: