Puisi-Puisi Fathurrozi Nuril Furqon

Oleh :
Fathurrozi Nuril Furqon

Menangkap Iblis
Di Temple of Solomon
Doa-doamu kembali
Dengan wajah riang gembira
Dan sekelumit sabda
Tertinggal di ubun-ubunnya

“Jadilah tanganmu rantai”

Maka jadilah tanganmu rantai
Ia berkejaran
Meraih jemari iblis
Dan memerangkapnya
Hingga tuntaslah segala harap
Seperti tanah lepas dari ranggas
Dari paceklik tak berkesudahan

Sebab tiada riwayat
Dalam tanakh yang sanad
Sepanjang Samaria hingga Bersyeba
Waktu membangun panggung
Dan pancang-pancang penjagalan
Lalu membiarkanmu duduk
Melihat anak palu hakimmu
Lahir dari rahim gelisah
Sebagai kebenaran munajat
Atau frasa cacat
Gresik, 2022
Kemelut Ekspektasi
Kau layangan yang bermimpi mencumbu matahari sambil berharap tangan angin memutuskan benang pengikat, beban kuasa dan tangan raja yang mencengkerammu.
Kau jam yang terus menyembelih angka, sementara mimpi karat dan masa lalu tidak mendirikan asta untuk kau berziarah dan menangisinya.
Kau pintu yang begitu leluasa menatap kaki pagi, tapi tak pernah bisa beranjak untuk mengenal bahasa hujan dan bahasa rerumputan, serta hanya bisa menafsir ayam di halaman sebagai kebebasan.
Kau doa yang terpincang-pincang melepaskan diri dari jerat jurang.
Sumenep, 2022
?
Dadu Qadar
Dadu-dadu qadar dilemparkan
Segala kemungkinan berpendar-pendar
Sebuah pena di balik rembulan
Meneteskan tinta dalam jiwa gemetar
Sumenep, 2022
?
Unitas Linguarum
diam-diam kau menjadi tali
mengikat segala yang semula tercerai
dalam satu simpul; persatuan
menggapai keterasingan makna
juga lafadz yang belum teraba

tanya yang purba bersemayam di muka
kala waktu menuntut tutur sapa
memasung dirinya
lalu segala terpaut hasta
menjadi begitu akrab
begitu dekat

tangan-tangan semula ragu bertautan
kini erat bergenggaman
dan angin mengusir sunyi
yang menjadi musim bahari
Sumenep, 2022
?
Gundah Menerka Ajal
Mataku leleh
dibakar ketakutan serupa ledakan;
bom-bom waktu.
Dibisikkannya hitungan mundur ajal
sambil menampakkan bayangan nisan.

Aku selalu ketakutan
pada apa yang terhalang tabir zaman.
Sebab, rahasia menuntut persiapan
dari tiap insan
agar bilamana rahasia membuka pakaian
takkan ada kejutan
juga ratapan
hanya detik jam, bersiap mencatat peristiwa
sebagai sebab kenangan.

Mataku leleh,
cairannya mengalir ke mimpi
jadi sungai
menghidupkan pepohonan di malamku
darinya tersemailah buah gundah.
Sebab, teramat banyak noktah
tertulis sepanjang pembuluh darah
tak mampu kusikat seluruh
dengan amal berpuluh-puluh.
Sumenep, 2022
?
Mencium Jejakmu
; Untuk HAMKA
Mendung tak selamanya merintikkan hujan
gurun tak selamanya gersang
Itu sudah kau buktikan
lewat peta nasib di tangan
memfragmenkan geliat kanak penuh kenakalan
lalu tumbuh jadi pohon dengan beribu bebuahan.

Hari yang berjeruji adalah isyarat kasih sayang Tuhan
diberikannya kau waktu untuk merenung
hingga dari rahim tanganmu lahirlah kitab paling turots
kitab yang menjala nur
kitab yang menggalah mabrur.

Di hatimu tak pernah ada bara
setiap nyala api akan menjelma bunga
menguarkan wangi surga
putiknya menjelma benang sutra
yang menyatukan riwayat pelukan di pigura semesta.
Sidoarjo, 2022
?
Ikan dalam Bayang Ajal
Menjadi ikan adalah buih lautan di pantai
yang menunggu waktu tuk sirna,
adalah asap kuali yang menanti angin
tuk menjadikannya tiada.
Dari sela insang angka-angka berloncatan,
berlarian dikejar kematian.
Kematian adalah deru mesin kapal
tempat nelayan menaruh harapan
tapi harapan kami adalah kutub magnet yang sama,
selalu berbenturan
dan kami nisbatkan diri sebagai wujud kekalahan
dalam pertempuran harapan tak berujung.

Kami telah lelah pandangi matahari
sebab ia selalu menjelma almanak paling purba
diisyaratkannya pada kami bayang-bayang ketakutan
itulah hitung mundur menuju kehampaan.

Kami telah lelah, rebah
tapi garis qadar dalam tubuh kami
seakan terus mencambuki,
memaksa kami terus berjudi di kasino ini
Sumenep, 2022
?
Sejak Kau Terjun
; O Amerika
Ketika kau menumbalkan dirimu
untuk menjadi puisi kematian
bagi musuh yang bukan musuhmu,
kau telah menamsilkan diri
sebagai batu karang yang harus bertahan
dari segala kemungkinan.
Diksi-diksimu akan menjadi musim
di setiap pori-pori tubuh,
musim yang tidak pasti,
dan kutahu musim itu telah berhasil
menjadikanmu sebuah pohon di tebing jurang
yang dipermainkan angin.

Matahari yang memenggal bilangan umur,
akan menakutimu dengan bayang-bayang ajal
yang mengintai dan menunggu waktu hendak menyerang.
Sejak kau terjunkan diri di medan perang,
taman bunga di lembah hatimu telah terbakar seluruhnya.
Tiada lagi tawa,
tiada lagi musim semi,
tiada lagi bebintang.
Sejak kau menjejakkan diri di pelataran rumah Izrail,
kau tahu bahwa nafasmu
sudah kau pertaruhkan
di perjudian kilat pedang,
tajam peluru
dan gelegar atom.
Dan bisa jadi detik-detik ini
akan menjadi detik-detikmu mengumpati diri.
Sumenep, 2022
?
Datang ke Padang Panjang
Ke kota ini
aku datang sebagai katak
meminta pertemuan dengan hujan
mengorek menggitakan angan
agar rintiknya merinai
di lembah kata hatiku yang sahara.

Pada embun yang resap ke tanah
kutitipkan ketukan
berharap lempeng bumi mengirim getaran
ke dinding kota ini
biar imaji yang tersembunyi di sela batanya berguguran
jatuh jadi pupuk
di lahan bahasa kepalaku yang perdu.

Di kota ini
aku menjadi petualang
mengunjungi setiap rumah gadang
mungkin di lantainya bisa kutemukan pendar abjad
yang menyimpan riwayat puisi paling babad.
Sumenep, 2022
?
Datang ke Padang Panjang
Ke kota ini
aku datang sebagai katak
meminta pertemuan dengan hujan
mengorek menggitakan angan
agar rintiknya merinai
di lembah kata hatiku yang sahara.

Pada embun yang resap ke tanah
kutitipkan ketukan
berharap lempeng bumi mengirim getaran
ke dinding kota ini
biar imaji yang tersembunyi di sela batanya berguguran
jatuh jadi pupuk
di lahan bahasa kepalaku yang perdu.

Di kota ini
aku menjadi petualang
mengunjungi setiap rumah gadang
mungkin di lantainya bisa kutemukan pendar abjad
yang menyimpan riwayat puisi paling babad.

Sumenep, 2022

———– *** ————-

Tentang Penulis :
Fathurrozi Nuril Furqon
Peminat sastra asal Sumenep.

Rate this article!
Tags: