Puisi – puisi Irman Hermawan

Matinya Senja

Oleh :
Irman Hermawan
Alumnus MA Lughatul Islamiyah

Suatu ketika, aku duduk di tepi pantai
Menikmati nyanyi camar
Menunggu senja menari di kanvas langit.

Lalu angin menghembus dengan kencangnya
Membawakan kabar dengan awan halimun
“hujan akan segera datang” katanya.

Apa yang harus kukatakan!
; Senja yang kutunggu mati di ujung halimun kelabu.

Pantai Lombang, 2022

Si Pikun

Segala suara telah kau lepaskan pada Si Pikun dan ia masih bertahan dalam gelombang suaramu
Kadang kala ia pergi membawa sebotol Vodka yang dipuasakan pada puisi cinta.

: Saya tak akan mabuk, berjalan dengan linglung hanya isyarat untuk melepas dahaga.

Tanpa kesadarannya ia, tiap tetes keringatnya menjadi tinta
Dan jemarinya menjadi pena menulis langit dengan gemetar ditujukan pada takdir.

Langkah makin linglung suara takdir terus bernyanyi,
debu-debu doa makin menyatukan dirinya pada ketiadaan.

Legung 2022

Di antara Kegelisahan

Di antara kegelisahan, ada bangau
membentangkan sayapnya hingga
jatuh bulunya meninggalkan jejak.

Kau terlahir dari sunyi
hingga sepi tersenyum
lalu angin pun berbisik
tentang kerinduan padaku.

Legung 2022

Hanya Aku

Pada suatu ketika kepergiannya
Cahaya, udara bahkan gelombang
Pergi dari samudera.

Tapi, lukisan-lukisan menjadi pelukisnya
Puisi-puisi menjadi penyairnya
Hanya aku bertanya dengan tatapan kosong

: Siapa aku?

Padahal sebenarnya hanya aku yang dapat membaca diriku.

2022

Kekasih

Kepergiannya tak untuk meninggalkan luka
Tapi mempersegerakan tangan takdir mengambilnya
Dan kini takdir memiliki aku atau aku memiliki takdir.

2022

———— *** ———–

Tentang Penulis :
Irman Hermawan
Kelahiran Legung Timur, 15 Oktober 2003. Tinggal, dan besar di kampung kasur pasir, Legung Timur, Batang-Batang, Sumenep. Alumnus MA Lughatul Islamiyah. Sering dipanggil Sableng oleh teman-temannya. Puisinya tersiar di media cetak maupun Online seperti dunia santri, Suara Kerajan, Pos Bali, Majalah Elepsis, Bhirawa, dll.

Rate this article!
Tags: