Puisi-Puisi Pendek yang Bertenaga

Judul Buku : Kumpulan Puisi Rindu dan Kenangan
Pengarang : Muhammad Lefand
Penerbit : Inti Karya Aksara, Jember
Cetakan : I, Desember 2023
Tebal : 50 halaman
ISBN : 978-623-5478-04-3
Peresensi : Ahmad Fatoni, Penikmat Sastra dan Pengajar di Unmuh Malang

Kumpulan puisi ini bagaikan sebuah potret kehidupan penulisnya yang berbalutkan suka dan duka. Melalui puisi-puisi pendek Muhammad Lefand serasa menuntun pembaca ke lorong masa lalu untuk menggali kembali kedalaman rindunya yang membiru. Puisi-puisi dalam buku ini memang pendek-pendek. Setiap judulnya hanya terdiri dari dua baris saja. Tetapi, lewat kepadatan diksi yang dihadirkan, sang penyair berupaya menghidupkan makna yang luas.

Tema keseluruhan buku ini menggiring pembaca untuk berselancar di atas gelombang pasang surut kehidupan mulai dari lika-liku kerinduan, penyesalan, perjuangan dan harapan, perjumpaan serta perpisahan. Tema-tema yang diangkat penyair asal Sumenep ini melukiskan sebuah perjalanan panjang yang terkadang diwarnai kegetiran dan kepahitan. Melalui puisi-puisi yang singkat, Lefand menulis dengan caranya yang ajaib, membentangkan cakrawala baru, dan mengulik secara dakik pernak-pernik kehidupan.

Dalam dunia sastra, puisi pendek adalah jenis puisi yang di dalamnya menggunakan kata-kata yang singkat. Meski begitu, makna yang terkandung di dalam puisi tersebut tetap kuat dan bertenaga, sehingga membuat pembaca ikut larut dalam suasana batin yang dahsyat. Lefand mengemas pilihan kata puisinya dalam Rindu dan Kenangan ini dengan apik sekaligus etis dalam himpunan puisi yang mengundang analisis khusus untuk memaknainya.

Simak contoh puisi pendek berikut ini; Rindu (I): //Hati menjelma sungai/ Rasa mengalir mencari muara. Melewati Jalan ke Rumahmu: //Bunga-bunga bermekar/ Tak kutemukan senyum di pagar. Sepasang Kekasih Membaca Luka: //Kembali ke masa lalu/ Semua luka menghilang.

Ungkapan puitis di atas begitu jelas ingin mengabadikan setiap kenangan pengarangnya yang pernah dialaminya. Jamak dimaklumi bahwa kehidupan setiap orang memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Ada fase susah, senang pun hal yang lumrah. Dari fase ke fase pengalaman memberikan banyak pesan dan kesan yang senyatanya sayang untuk dibuang.

Bagi seorang penyair, pengalaman adalah puisi. Maka, kumpulan puisi ini sangat boleh jadi bukanlah hasil pengalaman pribadi penulisnya semata, tetapi juga dari pengalaman orang lain yang terserak di setiap jengkal kehidupan yang kemudian menguar dalam lembaran buku maupun lipatan koran. Buku: // Lembar demi lembar, kehidupan/ Halaman masa depan. Koran: // Halaman demi halaman kubaca/ Luka-luka halaman utama.

Buku bersampul nuansa hijau cerah ini tampak lebih banyak menyodorkan tema rindu secara universal. Lefand seolah ingin mempersembahkan kumpulan puisinya untuk jiwa-jiwa yang tengah memburu belaian kasih yang hakiki. Kendati dalam proses perburuan itu harus dilalui dengan berdarah-darah. Jalan Lain: // Puisi-puisiku beda arah/ Huruf-huruf militan: puisiku berdarah.

Antologi puisi ini juga mempertegas betapa perjuangan dan derai air mata adakalanya tidak dapat mengatasi rasa bersalah yang kemudian berujung penyesalan. Ke Mana Aku Akan Minta Maaf? //Awal musim denganmu; penuh khilaf/ Dosaku piatu. Sebuah pengakuan yang tulus dari seorang suami-penyair kepada istrinya bernama Diani Noor Cahya. Untungnya penyesalan itu mengantarkan sang penyair menuju ke jalan Tuhan sebagai sandaran semua harapan. Gelisah: // Pikiran tak beranting/ Tuhan dekaplah aku sering-sering.

Puisi-puisi pendek dengan tema semacam ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang mememdam gumpalan rindu kepada orang terkasih, tentu utamanya kepada Sang Pencipta. Penulis di sini berhasil menyindir keras siapa pun dengan mempermalukan dirinya di hadapan Allah. Doaku: // Waktu berganti-ganti baju/ Sajak-sajak tegak bersujud malu. Aku Malu Padamu Allah: // Islam agamaku/ Maksiat kupelihara, pahala kupenjara; astaghfirullah. Muhasabah: // Merenungi diri sendiri/ Manusia, hewan atau setan?

Dalam pengantar buku ini, ada beberapa alasan kenapa Lefand menulis puisi-puisi pendek. Menurutnya, banyak puisi yang sengaja dipanjang-panjangkan. Tujuannya, boleh jadi agar terlihat mengandung gagasan yang luas dan mendalam. Padahal, karya tersebut justru menjadi liar dan mengambang.

Kedua, karakter dari puisi adalah kata-katanya yang pendek tetapi bertenaga dari segi makna. Bahkan, sekalipun puisi naratif, karakter semacam ini perlu diperhatikan. Kenyataannya, banyak sekali penulis yang seakan menulis puisi, namun hakikatnya adalah cerita.

Ketiga, ada beberapa puisi sekalipun pendek yang tetap memiliki daya ledak luar biasa. Lefand mencontohkan puisi Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran yang hanya memiliki bait: Bulan di atas kuburan. Puisi ini menjadi luar biasa, sebab mengandung ruang multi tafsir yang melebar. Tiga alasan itulah yang mengikhtiarkan puisi-puisi pendek dalam buku ini tidak dibuat dengan main-main.

Andaikan di dalam buku ini disertakan foto-foto ilustrasi yang ‘amazing’ dalam beberapa judul puisi, mungkin buku ini akan lebih kuat lagi dan bertenaga ganda. Ilustrasi dari foto-foto tersebut akan memberikan ‘nyawa lebih’ ke dalam keseluruhan puisi.

————- *** ————-

Rate this article!
Tags: