Pulang Yang Ditiadakan

Pulang Yang Ditiadakan

Tidak ada pulang lebaran kali ini, Nak
tubuhku terkepung gedung-gedung
yang orangnya masih ramai namun senyap dalam sunyi diri
semua terkurung di dalam rumah
jalan-jalan di hadang dan dilarang pergi

aku mengisap udara yang perih di dada
baju lebaran jauh-jauh hari telah dibeli
sebagai tebusan diri dalam kepulangan

Tidak ada pulang lebaran kali ini
sepi di dalam diri merangkai banyak kealpaan
heboh di mana-mana, berebut sesuap nasi
kabarnya pemerintah menanggung pesakitan ini
telah didata yang patut didata
dicatat juga segala yang ingin dicatat

Semuanya akan sampai, Nak
bau keringatmu yang masih lembab di hidung
tawa dan segala tingkah yang memecahkan riak air di tepian
bila malam tiba kau mendengkur dengan rasian
naik kuda putih ke atas bukit di ujung desa

Kita akan sampai, Nak
dan cerita telah tertinggal jauh di awal mula
kisah ini diurak tukang dendang.
2020

Pusara
Telah aku jenguk pusara bapak di kuburan suku
sebelum ramadan datang tahun ini
air mata jatuh ke dalam – sudah menahun rantau di jalang
hingga pohon durian beberapa depa
di sebelah barat telah tumbuh besar dan rindang daunnya
mejan telah rapat di kiri kanan
petanda hari-hari lalu saudara suku di tanam dengan iba musim
begitu juga aku yang terkubur rindu
kala jarak menumbuk arah jalan pulang.
2020

Selepas Perang banjar
selepas meletusnya perang Banjar
kala Belanda memaksa kerja rodi
orang-orang Banjar melarikan diri ke Sumatera
dan manerobos pekat malam lewat muara Sungai Indragiri
membangun gubuk dan membuka lahan
menanam padi, palawija, dan kelapa
mereka hidup di dukuh-dukuh pesisiran
terus beranak dan tumbuh.

Suara di Masa Lalu
Bila suara di masa lalu kembali memanggil
getah dan lada minta disiangi di kebun tuan tanah
akan aku kerjakan semua itu tanpa mengharapkan upah
demi mengisi lambung anak bini di rumah
semuanya telah usai jauh-jauh hari sebelum badan dikayuh pulang
selepas tangis jatuh ke dalam
dan seusai badai berkecamuk di rumah kami

Bapak telah lama meninggalkan kampung
menggadaikan bertumpak-tumpak sawah
dan ladang dahulu tempat menanam hidup
kini kami hanya menggarap kebun tuan tanah
demi agar bisa tersenyum dari hari ke hari

Kepala terasa nanar dan mata sirah seumpama buah saga
napas tergesa-gesa dan kaki gemetar menyapa bumi
api apalagi yang harus kuhidupkan agar dapur kami tetap berasap
dipilih lauk pilihan di pasar ikan
beras terbaik dari tanah sejuk, Solok

beberapa hari lagi
kelak terpakai baju baru di hari lebaran
dan terhidang bermacam kue orang Banjar.
2020

Pulang yang Tak Dirindukan
Selepas malam yang pergi ditarik paksa dari hidupku
tak ada lagi yang bisa digadang-gadangkan
selain sehelai baju lusuh pembalut badan
telah terjual segala uncang dan rasa iba orang banyak
kemana lagi jalan harus ditempuh?
rantau telah panjang dikembang
kampung telah lama terkepung kabut di halaman terakhir ratapan

Di kota yang dilintasi rel-rel kereta api yang berkarat ini
dan dulu bukit meninggi dengan pepohonan di lerengnya
kini telah tergenang air di lubuk yang dalam selepas galian tambang yang dibiarkan terbengkalai

Apalagi yang harus digadang-gadangkan dari diri yang malang ini
pulang yang tak dirindukan atas kebun sawah yang telah hancur
sungai yang keruh dan air mata yang tercurah ke dalam.
2020

———– *** ———-

Redovan Jamil, lahir Padang Benai salah satu kampung kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Terpilih menjadi Penggiat Literasi 2019 dan diundang Residensi Penggiat Literasi di Yogyakarta. Suka menulis puisi, cerpen, esai, dan opini. Puisi terbarunya “Abun-abun yang Abrak” (2018), “Dari Jauh ke Pasar Jongkok” (2019), dan “Kenangan Tanpa Judul” (2019).

Rate this article!
Pulang Yang Ditiadakan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: