Puluhan Ribu Ton Gula Milik Petani Tebu Kabupaten Malang Belum Bisa Terjual

Lahan pertanian tebu di wilayah Kab Malang, yang saat ini menghasilkan ratusan ribu ton gula. [cahyono/Bhirawa]

Kab Malang
Imbas masuknya gula impor di Indonesia, hal ini telah berdampak pada penjualan gula lokal turun drastis, bahkan tidak terjual. Seperti di Kabupaten Malang sebanyak 60 ribu ton gula lokal tidak laku dijual. Sedangkan gula lokal itu tertumpuk rapi di dalam dua gudang Pabrik Gula (PG) Krebet Baru, di wilayah Kecamatan Bululawang, dan PG Kebonagung, di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Redjeki, Rabu (20/1), kepada wartawan mengatakan, ribuan ton gula yang berada di gudang PG Krebet Baru dan PG Kebonagung, hal itu merupakan milik petani tebu warga Kabupaten Malang. Sedangkan dengan menumpuknya gula tersebut, tentunya disebabkan belum ada tangan kedua yang bisa menampung hasil tani tebu itu. Dan gula lokal yang belum terjual itu, karena masuknya gula impor ke Indonesia.

“Investor yang awalnya akan membeli gula hasil dari petani tebu Kabupaten Malang itu, gak jadi dibeli. Karena banyaknya jumlah gula impor yang masuk ke Indonesia, yang akhirnya berdampak pada penuruanan daya beli gula lokal,” terangnya.

Dijelaskan Pantja, pada bulan November 2020, PG Kebonagung menghasilkan produksi gula seberat 24 ribu ton, dan untuk PG Krebet Baru seberat 62 ribu ton. Sedangkan selama masa giling, Pusat Koperasi Petani Tebu Rakyat (PKPTR) dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) terus berkomunikasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perekonomian (Kemenko), serta Komisi VI DPR RI, yang disepakati harga gula lokal sebesar Rp 11.200 per kilogram. Dan jumlah gula lokal yang disepakati itu seberat 800 ribu ton, yang akan dibeli investor.  

“Namun dalam perjalanan waktu, ternyata investor tidak cukup berkomitmen, dan tidak ada pembayaran atau menyetor uang terhadap hasil panen petani tebu. Sehingga tidak ada tebu yang dikeluarkan dari kedua PG yang ada di wilayah Kabupaten Malang,” ungkap dia.

Dan tak lama kemudian, masih Pantja ungkapkan, muncul kabar bahwa telah ada penandatanganan impor gula ke Indonesia sebanyak 1.946 juta ton gula. Sehingga hal tersebut, gula yang ada di dua PG itu tidak bisa terjual dengan harga sesuai kesepakatan, dan investor juga tidak mau membel. Dengan dasar itu, para kelompok petani tebu rakyat akhirnya mengambil inisiatif untuk melakukan penjualan gula secara bebas ke beberapa pihak.

“Tapi tidak semua gula yang ada di dua gudang pabrik gula itu terjual, hanya yang terjual 22 ribu ton saja, yang bisa diuangkan. Sehingga saat ini masih ada 60 ribu ton gula yang belum bisa terjual,” sebutnya.

Sementara, lanjut dia, di gudang PG Krebet Baru kini terdapat 40 ribu ton gula, dan di PG Kebonagung terdapat 20 ribu tob gula. Sehingga dengan terjualnya gula yang berada di gudang dua pabrik gula tersebut, maka berimbas pada pembayaran keuntungan hasil tani tanaman tebu rakyat yang belum bisa dibayarkan. Karena gula dari produksi tebu mereka belum terbeli. Sehingga petani tebu belum bisa merasakan hasil keuntungan gula mereka.

“Petani tebu Kabupaten Malang yang hasil produksinya digiling di PG Krebet Baru sebanyak 16 ribu petani. Sedangkan petani yang menggilingkan hasil produksi tebunya di PG Kebonagung, dirinya masih belum mengetahui berapa jumlah petani,” tandas Pantja. [cyn]

Tags: