Kota Batu Kekurangan 12 Alat Detektor Longsor

Petugas operator terlihat sedang menunjukkan tanda yang ditangkap dari sinyal yang dikirim alat detector yang terpasang di lokasi rawan longsor.

Petugas operator terlihat sedang menunjukkan tanda yang ditangkap dari sinyal yang dikirim alat detector yang terpasang di lokasi rawan longsor.

Kota Batu,Bhirawa
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Jawa Timur masih kekurangan 12 alat pendeteksi longsor atau ekstensometer. Alat ini diperlukan untuk mendeteksi potensi longsor di Kota Batu menyusul puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Januari-Februari. Saat ini baru 3 alat ekstenso meter yang telah dimiliki BPBD dan telah dipasang di titik-titik rawan longsor di Batu.
Dalam menghadapi puncak musim hujan ini, BPBD Batu telah mendeteksi ada 15 titik rawan longsor di Kota Batu. Dan titik-titik tersebut paling banyak berada di Desa Gunungsari, Sumberbrantas, Tulungrejo, dan Songgokerto.
“Dari lima belas titik tersebut, lokasi yang dekat dengan pemukiman penduduk kita prioritaskan untuk dipasang alat detector longsor,”ujar Kasie Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Nugroho, Kamis (8/1).
Saat ini, katanya, sudah ada 3 alat detektor longsor yang telah dipasang di titik yang mendapatkan prioritas. Satu detektor longsor telah dipasang di Dusun Kekep, Desa Tulungrejo. Sedangkan dua detektor yang lain di pasang di Dusun Brau, Desa Gunungsari. “Desa Gunungsari memang menjadi prioritas, karena di sana titik rawan longsor yang ada dekat dengan pemukiman penduduk,”
Dengan terpasangnya detector di tiga titik tersebut, berarti masih dibutuhkan 12 detektor lagi untuk dipasang di 12 titik rawan longsor yang lain. Dan untuk pengadaan alat ini, BPBD Kota Batu harus berkordinasi dengan BPBD Provinsi Jatim.
Dari 12 titik rawan longsor tersisa, telah dibuat/ditentukan skala prioritas yang memiliki kerawanan paling tinggi. Skala prioritas ini dibuat untuk menentukan titik mana yang akan dipasang detector lebih dulu, ketika ada tambahan alat yang diterima BPBD Batu.
Dan untuk memantau potensi hujan di Kota Batu, BPBD terus melakukan kordinasi dengan BAdan Meteorologi Kilmatologi dan Geofisika (BMKG) dan Stasiun Klimatologi Karangploso. Karena stasiun klimatologi Karangploso ini yang lokasinya paling dekat dengan wilayah Kota Batu.
Data dari BMKG Karangploso, curah hujan di Malang Raya termasuk Kota Batu pada bulan Januari dan Februari berada di atas normal. Artinya, dalam kondisi musim hujan normal, curah hujan bisa terjadi 85-100 persen. Namun untuk curah hujan di Bulan Janurai-Februari bisa terjadi di atas 115 persen. “Kondisi ini bisa mengakibatkan potensi banjir bandang dan tanah longsor menjadi semakin tinggi,”tambah Sekretaris BPBD, Agung Sedayu.
Untuk mengantisipasi hal itu, katanya, di alat detektor longsor yang dipasang tersebut juga dilengkapi dengan alarm. Alarm tersebut diperuntukkan untuk peringatan bagi warga yang ada di sekitarnya. Alarm tersebut akan berbunyi ketika status mulai waspada, siaga, dan awas dengan bunyi yang berbeda-beda. Selain itu detektor juga akan mengirimkan sinyal yang akan diterima oleh alat pemantau yang ada di Kantor BPBD Batu. [nas]

Tags: