Lahan Pertanian Kota Batu Harus Diselamatkan

Dengan tidak menggunakan pupuk kimia, diharapkan peremajaan lahan pertanian di Kota Batu bisa segera terealisasi.

Dengan tidak menggunakan pupuk kimia, diharapkan peremajaan lahan pertanian di Kota Batu bisa segera terealisasi.

Batu, Bhirawa
Dunia pertanian terutama perkebunan apel di Kota Batu harus segera diselamatkan. Karena masih banyak petani di kota ini yang menggunakan pupuk kimia. Untuk itu perlu dilakukan peremajaan pohon apel, dan penggunaan pupuk organik pada lahan yang ada.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kota Batu Arif As-Shiddiq mengatakan, pemerintah telah memprogramkan bantuan bibit apel kepada petani. Selain itu pemkot juga menyediakan pupuk organik dengan tujuan peremajaan lahan pertanian.  “Dengan langkah ini diharapkan dalam tiga hingga empat tahun kedepan  produk apel di Kota Batu akan jauh lebih bagus lagi. Dan diharapkan pertanian apel di Batu akan kembali mengalami masa kejayaan seperti dulu,”ujar Arif, Minggu (21/9).
Saat ini, katanya, produksi buah apel di Kota Batu sudah kalah bersaing dengan produksi apel dari Kecamatan Poncokusomo, dan Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Padahal dari segi rasa dan kualitas, produk apel Kota Batu, justru lebih bagus.
Untuk lebih mempermudah pengarahan dan pengawasan terhadap perkembangan pertanian organik, pihak Distanhut juga membangun lokasi percontohan organik. Lokasi percontohan tersebut berada di lima desa/kelurahan.Yaitu, di Kelurahan Sisir,  Desa Tlekung, Desa Pendem, dan Desa Giripurno. “Khusus di Kelurahan Sisir, kita memiliki dua lokasi percontohan pertanian organik,”tambah Arif.
Dengan adanya lokasi percontohan ini, diharapkan konsep dan pelaksanaan program pertanian organik bisa lebih terarah dan lebih maksimal. Ke depan, di setiap desa akan memiliki tempat percontohan organik sehingga mempermudah sosialisasi kepada masyarakat petani.
Untuk diketahui, pengembangan pertanian organik ini merupakan visi dan program dari kepala daerah setempat. Untuk itu ditargetkan dalam dua tahun ke depan seluruh produk pertanian di Kota Batu sudah berbasis organik. Mulai dari benih, bibit, pupuk hingga produk yang dihasilkan. Selain itu, pemkot juga akan membangun gudang multi organik. Gudang ini akan dibangun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung, Kecamatan Junrejo.
Penunjukan TPA Tlekung sebagai lokasi gudang multi organik sekaligus untuk mengatasi penumpukan sampah di tempat ini yang sangat tinggi. Untuk itu Distanhut akan memanfaatkan sampah organik yang ada di TPA tesebut untuk dijadikan pupuk organik.
Untuk merealisasikan rencana itu, kata Arif, pihaknya akan melakukan pengadaan alat pencacah sampah organik dari Jerman. Untuk itu Pemkot Batu harus mengeluarkan uang dari APBD sebesar Rp 13 miliar.
“Adapun mekanisme kerja alat tersebut, sampah masuk ke alat lalu keluar dalam sampah pilahan, yakni, organik dan non organik. Khusus sampah organik akan diberi perlakuan lebih lanjut. Dan dengan kapasitas sampah di Kota Batu yang mencapai 70 ton per hari, maka Kota Batu bisa mendapatkan pupuk organik setiap hari,”pungkas Arif.  [nas]

Tags: