Pupuk Langkah, Bupati Madiun Tagih ke Pemprov Jatim

7-bupati madiun n kadispertaKab Madiun, Bhirawa
Kelangkaan pupuk  di Kabupaten Madiun, membuat Bupati Madiun, Muhtarom gerah. Untuk mengatasi permasalah ini, ia melayangkan surat permintaan tambahan alokasi pupuk ke Pemprov Jatim yang hingga saat ini masih belum sesuai dengan Rencana Defintif Kebutuhan Kelompok (RDKK) petani setempat.
Dalam suratnya tertanggal 28 april 2014 , Muhtarom meminta tambahan 4.193 ton pupuk urea, 192 ton pupuk SP36, 2.370 ton pupuk ZA, 8.681 ton pupuk NPK dan 22.265 ton pupuk organik ke Pemprov Jatim. Alasan dikirimkannya surat tersebut, karena sejauh ini, alokasi pupuk untuk Kabupaten Madiun tahun 2014 berdasar Peraturan Gubernur (Pergub), masih di bawah angka RDKK.
Dari data Dinas Pertanian Kabupaten Madiun, RDKK untuk pupuk urea adalah 23.181 ton. Namun alokasi dari Pergub baru terealisasi 18.988 ton. Sedangkan untuk RDKK SP36 adalah 4.462 ton namun alokasi Pergub 4.270 ton, RDKK ZA mencapai 13.971 ton namun alokasi Pergub 11.601 ton dan RDKK NPK mencapai 25.421 ton denan alokasi Pergub 16.740 ton. Sedangkan untuk pupuk organik, RDKK-nya adalah 33.620 ton dengan alokasi Pergub baru 11.355 ton.
“Jadi sesuai RDKK memang masih kurang. Makanya kita minta tambahan agar sesuai RDKK. Tapi sampai saat ini belum ada jawaban dari gubernur (Pemprov Jatim),”tegas Bupati Madiun, Muhtarom, kepada wartawan, Minggu (18/5), seraya menambahkan, kekurangan ini, merupakan antisipasi untuk musim tanam pada akhir tahun (November) dengan masa tanam pada Oktober.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Madiun, Mochamad Najib, SP.MM mengatakan, sebenarnya sampai saat ini jumlah realisasi pupuk di lapangan masih lebih sedikit dibanding jumlah pupuk alokasi sesuai Pergub untuk tahun 2014. Dirincinya, untuk urea baru 8.539 ton, SP36 1.673 ton, ZA 4.966 ton, NPK 9.579 ton dan pupuk organik 5.095 ton. Jumlah ini untuk 26.963 hektare lahan sawah.
“Jadi masih ada pupuknya. Tapi kalau kalangan petani menyebut langka, saya tidak bisa menuduh siapa yang jadi penyebabnya,”ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Madiun, Mochamad Najib, saat mendampingi Bupati Muhtarom kepada wartawan.
Menurutnya lagi, dalam rantai penyaluran pupuk, ada beberapa elemen yang terlibat. Yakni produsen, distributor, kios dan kelompok tani. Angka penyaluran dari produsen selalu berdasarkan RDKK yang dibuat kelompok tani. Karena itu, seharusnya tidak ada kekurangan atau kelangkaan pupuk pada petani.
Sementara itu, ada beberapa temuan tim yang telah diterjunkan Dinas Pertanian terkait kelangkaan pupuk yang terjadi akhir-akhir ini. Salah satu penyebabnya, yakni kesulitan modal pada kios. Akibatnya, kios tidak bisa melakukan penyetokan dengan baik.
“Polanya, dari distributor itu cash and carry (bayar bawa pulang). Ada kios yang kurang modal sehingga tidak bisa menebus pupuk. Karena itu, penyaluran ke petani jadi tersendat,” papar Nadjib.
Selain itu, tim Dinas Pertanian juga menemukan adanya peningkatan kebutuhan di beberapa daerah karena petani memberikan dosis lebih untuk tanamannya. Akibatnya, permintaan jadi naik sehingga alokasi di daerah tersebut menjadi lebih cepat habis. “Mungkin juga ada hambatan di produsen atau di enam distributor di sini. Kami terus mencari penyebabnya. Kalau petani ada yang merasa kekurangan pupuk, silakan lapor. Kami akan telusuri. Apakah kios, distributor atau produsen yang menjadi penyebabnya,”tegas Najib. [dar]
Keterangan foto. File bupati n kadisperta
Bupati Madiun Muhtartom, S.Sos (kiri baju putih) dan Mochamad Nadjib, SP. MM saat memberikan keterangan pers Minggu (18/5).sudarno/bhirawa

Tags: