Puso Sulitkan Pengadaan Beras Bulog

Kepala Divre Bulog Jabar, Alip AffandiJakarta, Bhirawa
Anomali cuaca tahun ini, yang ditandai hujan berkepanjangan berakibat menurunnya produksi gabah pada musim panen kali ini. Banjir yang merendam sawah sawah menjelang panen, mengakibatkan hasil panen berkualitas buruk dan produksi menyusut.
Cuaca juga mengubah iklim menjadi lembab dengan hawa panas, kondi si seperti ini jadi media bagus bagi  berkembangbiaknya hama Wereng Batang Coklat (WBC). Serangan WBC ini membuat puso di banyak tempat, menambah anjloknya produksi gabah.
“Penurunan produksi gabah di ber bagai sentra sentra produksi, telah menyulitkan Bulog dalam pengadaan gabah/beras. Sehingga kemungkinan target pengadaan gabah/beras dalam negeri, tahun ini, tak terpenuhi,” papar Kepala Divre Bulog Jabar, Alip Affandi dalam acara temu mitra kerja dan wartawan Bulog di Bandung.
Disebutkan, sentra sentra padi di Jawa Barat seperti Bandung,Subang, Kerawang, Indramayu,Cirebon, Ciamis, Cianjur, gagal panen juga gagal tanam karena banjir. Rendahnya kualitas beras akibat panen terendam banjir, terjadi di banyak wilayah. Sedang gagal tanam membuat petani dua kali harus beli bibit, dua kali tanam dan panen mundur. Semua hal tersebut membuat kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu) gabah/beras menurun.
“Ironisnya, dikala petani butuh pupuk dan pestisida pembasmi hama, kedua bahan pokok itu langka. Semen tara bibit padi yang dibeli petani seringkali palsu, tidak bisa tumbuh,” ungkap salah satu petani merangkap mitra Bulog yang hadir dalam temu wicara.
Jawa Tengah, tak jauh beda dengan Jabar, kuantitas dan kualitas gabah/ beras juga merosot akibat banjir. Di tambah hama wereng, produk gabah/beras di Jateng merosot tinggal sepa ruhnya saja atau 50%. Tahun lalu per hektar sawah bisa menghasilkan 6,5 ton gabah, tahun ini paling hanya 4,5 ton gabah. Situasi ini menyebabkan harga beras stabil tinggi, jauh dari HPP. Sehingga menyulitkan Bulog dalam memenuhi target pengadaan. Gabah/beras petani yang dilepas dengan HPP berkualitas rendah, sulit disimpan di gudang Bulog, karena cepat rusak. Sementara kualitas bagus dijual petani dengan harga tinggi jauh diatas HPP, tak mungkin dibeli Bulog.
“Beras kelas premium berkualitas bagus, harganya saat ini Rp 8.500,- per kg. Harga tinggi beras premium ini akan mendongkrak harga beras medium, untuk ikut naik.  Harga beras yang jauh diatas HPP tentu  mengham bat pengadaan beras Bulog. Hingga 30 April 2014 Divre Bulog Jateng baru berhasil menyerap beras 142.653 ton atau 18,29% dari target setahun sebesar 780.000 ton,” papar Kadivre Bulog Jawa Tengah Damin Hartono.  [ira]

Keterangan Foto : Kepala Divre Bulog Jabar, Alip Affandi

Rate this article!
Tags: