Putus Mata Rantai Kekerasan di Sekolah

Belakangan ini beragam peristiwa kekerasan dengan korban atau pelaku siswa, guru, maupun wali murid menjadi perhatian publik. Pasalnya, hingga saat ini rentetan kekerasan di lingkungan sekolah yang melibatkan guru dan siswa masih terus terjadi. Fenomena ini seolah tidak dapat dihentikan. Oleh karena itu, kondisi ini harus menjadi alarm keras bagi pendidikan nasional. Kesadaran tentang nilai-nilai kemanusiaaan perlu dikembangkan lebih serius.

Pencegahan dan penanganan kekerasan disatuan pendidikan ini harus serius. Jadi jangan hanya gerakan atau slogan, harus ada aksi nyata. Dilansir dari Katadata, menurut data yang dikumpulkan oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), tercatat 16 insiden perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah selama periode Januari hingga Agustus 2023. Lebih rinci, perundungan dilingkungan sekolah paling sering terjadi di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang menyumbang sekitar 25% dari total insiden tersebut. Selain itu, perundungan juga terjadi di lingkungan Sekolah Menengah Akhir (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), masing-masing dengan persentase sekitar 18,75%. Sedangkan di Madrasah Tsanawiyah dan pondok pesantren, insiden perundungan tercatat masing-masing sekitar 6,25%,(Republika, 20/11/2023)

Itu artinya, kasus kekerasan di satuan sekolah menujukkan prosentase yang cukup tinggi. Secara regulatif untuk mencegah dan mengatasi kekerasan disekolah sudah ada, tepatnya melalui regulasi Undang-Undang No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Hukum terhadap Kekerasan Pada Anak. Ditambah berdasarkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023, ada enam jenis kekerasan yang sering tejadi di satuan pendidikan. Antara lain kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi dan intoleransi, serta kebijakan yang mengandung unsur kekerasan.

Namun, dalam penerapannya patut disayangkan pasalnya masih lemah. Oleh sebab itu kasus kekerasan di satuan sekolah ini perlu mendapat perhatian bersama. Selain pihak sekolah, mengingat, betapa pentingnya figur orangtua dalam pembentukan psikologi, pendidikan karakter dan tumbuh kembang anak maka dalam memutus mata rantai kekerasan di sekolah tentu dibutuhkan juga keterlibatan serta peran orangtua dalam mencegah terjadinya perundungan terhadap anak, bisa melalui sosialisasi bahkan edukasi.

Oleh :
Asri Kusuma Dewanti
Dosen FKIP Univ. Muhammadiyah Malang.

Tags: