Raih Gelar Doktor Bersamaan, Satu Keluarga Catatkan Rekor MURI

Sukses raih gelar doktor FH Unair secara bersamaan, Dr Tandyo beserta istri dan kedua putranya merasa bangga.

Sempat Diancam Tak Boleh Ambil FH, hingga Tantangan jadi Yang Terbaik
Kota Surabaya, Bhirawa
Cerita menggelitik dan penuh kebanggaan datang dari keluarga Dr Tandyo Hasan SH MH MKn. Sebab, tak hanya Tandyo yang berhasil merampungkan gelar doktoralnya di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair). Jejak tersebut juga diikuti istrinya Inge Soesanto SH MKn beserta dua putranya yaitu Dr Michael Hans SH SE MKn LLM CLA CCD dan Dr Mitchell Hans SH MKn LLM CCD. Mereka diwisuda secara bersamaan, Sabtu (13/8) lalu.
Senyum sumringah terpancar dari keluarga Tandyo. Untuk pertama kalinya, Tandyo membawa istri dan kedua putranya menjadi alumni Ilmu Hukum Universitas Airlangga (FH Unair) diwaktu yang bersamaan.
Satu keluarga ini bahkan mencatatkan namanya di piagam rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia atau MURI. Mereka dinobatkan sebagai “Keluarga Pertama Peraih Gelar Doktor Ilmu Hukum dari Perguruan Tinggi yang Sama”.
Rekor tersebut juga membawa Fakultas Hukum dan Unair sebagai fakultas dan universitas pertama yang meluluskan satu keluarga dari program studi doktor ilmu hukum. Hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga Tandyo Hasan.
“Sebetulnya ini adalah sesuatu yang tidak istimewa, tapi ini bentuk kebanggan yang bisa kita berikan atau kita persembahkan untuk universitas dan fakultas, yang mana prestasi yang kita capai satu keluarga punya gelar doktor,” ucap Tandyo Hasan dalam konferensi pers di Aula Amerta Kantor Manajemen Unair pada, Jumat (12/8).
Tandyo mengaku tidak pernah memaksakan anaknya untuk ikut mengambil prodi Ilmu Hukum layaknya kedua orang tuanya. Bahkan mereka justru mewanti-wanti agar tidak mengambil prodi yang sama.
“Ibunya malah ngancam, kalau pilih ilmu hukum dan hasilnya tidak bagus kami tidak terima. Diancam lagi jangan sampai istrinya di Ilmu hukum juga,” candanya.
Namun, larangan Tandyo dan istri justru menjadi penyemangat dua putranya hingga mereka sangat berusaha untuk menjadi yang terbaik.
“Kalau saya dulu ambil S1 Ilmu Hukum karena biar cepat selesai, cari duit, dan waktu itu banyak pemimpin dari fakultas hukum. Tetapi saya tidak pernah memaksakan kedua anak saya,” tegasnya.
Iapun membebaskan anaknya menekuni profesi yang mereka pilih. Bahkan dirinya mendukung jika memang anak-anaknya masih terus akan mencari ilmu untuk mengembangkan diri.
Putra tertua Tandyo, Michael menceritakan saat kuliah S1 merasa belum menemukan minat. Sehingga ia menempuh dua prodi dan mendapat dua gelar S1.
“Separo kesasar, S1 saya juga sempat ambil ekonomi karena masih bingung juga sama hukum dan lulus juga. Karena pekerjaan saya di bidang hukum makanya saya ingin meningkatkan profesi dengan pendidikan lanjutan,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak memiliki tujuan awal harus menyelesaikan doktoral, tetapi hal ini berjalan alami. Mengingat dirinya juga bekerja sebagai pengajar diploma 3 di UPH, UK Petra dan Unair.
“Orang tua sangat membantu, family support sangat besar karena kami di bidang hukum. Mereka lebih dahulu jadi bisa saling memberikan masukan,” pungkasnya.
Rekor MURI tahun 2022 ini merupakan rekor yang ketiga bagi keluarga Tandyo Hasan. Sebelumnya, Ia mendapatkan rekor MURI sebagai “Suami Istri yang Menempuh S3 Program Doktor Bidang Studi Ilmu Hukum Secara Bersama”.
Sedangkan rekor MURI yang kedua sebagai “Ayah, Ibu, dan Anak, Wisuda dalam Waktu Bersamaan di Universitas yang Sama (Universitas Airlangga)”.
Kedua piagam MURI tersebut diberikan pada 18 April 2009, bersamaan dengan wisuda 1.886 wisudawan Unair. Sedangkan rekor muri yang ke-3 ini juga akan diberikan pada momen wisuda pada sabtu 13 Agustus 2022.
Dekan Fakultas Hukum Unair, Iman Prihandono SH MH LL M PhD mengaku bangga atas prestasi yang dicapai oleh keluarga Tandyo Hasan. Namun, menurutnya hal yang lebih membanggakan ialah semangat Tandyo Hasan beserta istri yang bersedia mengabdikan diri untuk mengajar dan menjadi suri tauladan bagi mahasiswa FH Unair.
“Sebenarnya yang membanggakan bagi kami adalah Pak Tandyo dan Ibu Inge itu selain punya gelar doktor, tapi beliau juga mengajar di FH Unair, begitu juga Michael dan Mitchell tidak cuma S3 saja di Unair tapi S2-nya juga di luar negeri. Mereka memperkaya ilmunya di universitas yang bereputasi dan sekarang Michael juga mengajar di FH Unair,” tandasnya. [Diana Rahmatus S]

Tags: