Rasialisme dan “La Philosopie de la Libertie” Amerika

Oleh :
Ken Bimo Sultoni
Alumnus FISIP Universitas Diponegoro Malang; Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Pemikiran akan sebuah kebebasan sedari awal terbentuknya peradaban awal kehidupan manusia merupakan suatu hal yang selalu dicita-citakan. Keinginan akan suatu kebebasan yang tak terikat akan suatu hal yang membelenggu menjadi hal mendasar umat manusia untuk berjuang.

Dimulai dari karya klasik para filsuf seperti plato dan aristoteles yang mengimpikan suatu era kehidupan yang ideal dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan hingga zaman ambisius layaknya pemikiran machiaveli dan Hitler lewat dominasi dan akusisi kekuasaan sepihak, umat manusia berusaha mencoba mecari essensi kebebasan yang diimpikan. Socrates, seorang filsuf Yunani yang biasa disebut sebagai bapak filsuf barat memulainya dengan keresahan akan suatu pencarian essensi kehidupan lewat kata-kata “To find yourself, think for yourself”.
Ia berpendapat bawa jika kita ingin menemukan jati diri kita mulailah dari berpikir tentang hal itu. Hal ini memacu pencari-pencarian essensi kehidupan lain yang dilakukan oleh para murid-muridnya seperti plato hingga aristoteles. Para filsuf besar ini mengabdikan kehidupannya untuk sesuatu yang digdaya dan murni yaitu apa yang disebut dengan “Peradaban” dan untuk memulai sebuah peradaban maka diperlukan sebuah inti dari peradaban itu sendiri yaitu “Nilai Kehidupan”.

Sebuah peradaban dapat menjadi garis pembatas dan juga pembeda antara manusia dengan para binatang ataupun tumbuhan. Peradaban mengandung essensi tata kelola nilai, buah pikir dan juga filosofi kehidupan itu sendiri. Akan tetapi disetiap keberjalanannnya waktu kehidupan umat manusia, peradaban tak selalu dilakukan dalam situasi yang positif dan juga humanis. Hingga pada akhirnya peradaban itu menenggalamkan umat manusia menjadi lebih rendah dibandingkan makhluk hidup lainnya.

Penindasan, perbudakan, dan juga pembantaian selalu mewarnai pola peradaban yang coba dikembangkan umat manusia. Amerika adalah contoh sebagai salah satu negara di barat yang dipandang sebagai negara terbaik di bumi hingga tercetus apa yang populer berkembang dimasyarakat yaitu “American Dreams” juga memulai fase awal peradabannya dengan cara-cara yang kadang lebih bringas dibanding binatang.

Penjajahan dan juga perbudakan mewarnai negara yang sedang mengalami konflik rasialisme ini. Hingga disuatu titik ada beberapa orang yang memimpikan tentang sebuah arti kehidupan yang harmonis dan humanis. Batu peletakannya sendiri dipelopori oleh seseorang pria tua berjanggut lucu yang bernama Abraham Lincoln. Melalui keresahannya ia menyadari bahwa untuk memulai sebuah peradaban yang baik maka diperlukan pula tata kelola nilai kehidupan yang baik dan humanis salah satunya dengan cara menjunjung tinggi apa yang disebut dengan nilai “Liberty” atau kebebasan.

Layaknya perjuangan yang dilakukan oleh Prancis, Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran akan ide, nilai dan juga filosofi zaman “Renaissance” atau zaman pencerahan yang sebelumnya disebut dengan zaman kegelapan yang hampir menjangkiti seluruh dataran eropa. Perjuangan yang dilakukan oleh Amerika dan Prancis mempunyai tujuan yang sama yaitu suatu bentuk kebebasan hidup. Bebas dari keterbelengguan akan perbudakan dan juga penindasan oleh pihak lain. Jika Amerika menitikberatkan pada nilai kebebasan sebagai fondasi perdabannya maka prancis memuat 2 nilai tambahan selain liberte sebagai fondasi peradabannya, yaitu Egalite dan juga Fraternite yang berarti persaudaraan dan juga persamaan. Kebebasan memang merupakan nilai yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat orang barat khususnya Amerika Serikat dengan pahamnya yang bernama “Liberlism”.

Franklin D. Roosevelt dalam pidatonya didepan dewan perwakilan rakyat Amerika pada tanggal 6 januari 1941 juga pernah mengemukakan empat poin penting kebebasan atau “Four Freedoms”. Hal ini mencakup kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, kebebasan untuk beragama dan beribadah, kebebasan dari kekurangan atau kemiskinan dan juga kebebasan dari rasa ketakutan. Semua itu digali dari semangat awal yang dicita-citakan saat periode awal koloni di Amerika saaat terjadinya monopoli dan akusisi kekuasaan oleh pihak Inggris.

Pemerintahan yang berbeda terhadap cara yang dilakukan oleh inggris atas tanah Amerika membuat sebagaian besar masyarakat koloni Amerika tergerak untuk melakukan perlawanan. Disaat itu inggris melihat tanah Amerika sebagai sebuah tanah jajahan yang wajib untuk diolah lewat cara dominasi dan monopoli sementara masayarakat koloni Amerika memandang bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sejatinya karena pemerintahan yang benar-benar mereka. Paham kebebasan itu meraku pada dua hal utama yaitu dalam bidang politik dan juga perdagangan. Selain itu munculnya pajak yang dianggap sangat tinggi dan juga terjadinya perlawanan Boston Tea Party semakin mengukuhkan perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat koloni Amerika saat itu.

Untuk mengenang akan semangat perjuangan masyarakat Amerika terhadap kemerdekaan dan juga kebebasan itu pada tanggal 28 oktober 1886 prancis menghadiahi Amerika patung liberty (sebutan lain dalam bahasa Inggris: Liberty Enlightening the World, bahasa Prancis: La Liberté éclairant le monde) sebagai hadiah 100 tahun kemerdekaan Amerika dan ungkapan persahabatan dari kedua negara. Akan tetapi setelah ratusan tahun negara Amerika merdeka, tak sedikit juga yang masih salah mengartikan dan juga menarapkan arti sebuah kebebasan dalam sendi-sendi kehidupan di negara tersebut. Contoh kasus yang baru-baru ini terjadi adalah kematian dari seorang pria kulit hitam bernama George Floyd yang dilakukan oleh seorang polisi kulit putih bernama Derek Chauvin. Hal ini bukanlah kali pertama yang terjadi di Amerika Serikat, pada tahun 1968 pembunuhan tokoh Afro-Amerika Martin Luther King Jr yang bermotifkan rasialisme juga mengakibatkan kerusuhan besar di negara tersebut. Dalam keadaan seperti itu media sekelas BBC menganggap bahwa negara tersebut sedang mengalami apa yang disebut dengan turbulensi rasial dan juga kerusuhan sipil. Akar permasalahan terjadinya rasialisme dan tindak ketidakadilan yang dialami masyarakat berwarna didasari pada pemahaman kuno sebagaian masyarakat kulit putih Amerika yang memandang bahwa mereka merupakan satu-satunya ras unggul yang dapat memimpin Amerika. Selain itu sejarah panjang akan perbudakan kulit hitam yang pernah dialami Amerika juga menambah sisi kelam sejarah negara tersebut hingga berdampak pada era modern saat ini.

Menurut ilmuwan politik University Of Minnesota Lawrence R. Jacobs tindakan rasialisme yang terjadi di negara Amerika dapat dilihat dari cara pembagian lingkungan atau tempat tinggal, sistem pendidikan, sistem transportasi dan yang pasti kepolisian. Hal ini membuat banyak kalangan khususnya warga negara Amerika yang berkulit hitam memandang bahwa negara Amerika tidak sepenuhnya menerapkan apa yang dicita-citakan negara tersebut diawal pembentukannya. Sehingga apa yang disebut oleh presiden roosevelt dalam pidatonya yaitu terbebas dari rasa ketakutan belum dapat terjadi.

Harapan dari tokoh masyrakat kulit hitam Amerika dari pidatonya yang terkenal “I Have A Dreams” belum dapat terjadi sehingga cincin kebebasan (freedom ring) belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh seluruh masyarakat Amerika tanpa terkecuali. Dan pada akhirnya Patung Liberty yang berdiri anggun dan tegap tak lebih dari sebuah simbol Libertas, seorang dewi kebebasan Romawi yang menggenggam sebuah tabula ansata dengan tulisan Romawi yang menggambarkan tanggal Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, “JULY IV MDCCLXXVI” (Juli 4, 1776) yang masih belum tercapai hingga saat ini.
———– *** ————–

Tags: