Rata-rata Tumbuhnya IPM Jatim 0,99 Persen

Foto Ilustrasi

Pemprov Jatim, Bhirawa
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jatim kontinu mengalami kemajuan selama periode 2013- 2019. Dari 67,55 (2013) meningkat menjadi 71,50 (2019) atau selama periode tersebut tumbuh 5,85 persen. Rata-rata pertumbuhan selama kurun waktu 2013-2019 sebesar 0,99 persen per tahun.
Kabupaten/kota di Jatim dengan kategori IPM “sangat tinggi ” sebanyak 4 kota, dan kategori “tinggi” sebanyak 20 kabupaten/kota, sedangkan yang berkategori “sedang” sebanyak 14 kabupaten/kota.
“Adanya pertumbuhan itu, menunjukkan upaya Pemprov Jatim dalam meningkatkan pembangunan manusia cukup berhasil. Keberhasilan in ditunjukkan perubahan kategori untuk beberapa wilayah. IPM di Jatim tidak ada yang masuk kategori rendah,” kata Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan, Senin (17/2)
Dikatakannya, IPM tertinggi tercatat di Kota Surabaya sebesar 82,22, sebagaimana posisi tahun sebelumnya. Surabaya bersama Kota Malang, Kota Madiun, Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah dengan IPM berkategori “sangat tinggi”, yang sebelumnya berkategori “tinggi” pada tahun 2019 naik kelas menjadi “sangat tinggi”.
Selanjutnya, ada kabupaten lainnya yang juga naik kelas, Kabupaten Blitar, Ponorogo, Ngawi dan Kabupaten Malang dari yang semula berkategori “sedang”, kini mereka juga berubah menjadi kategori “tinggi”.
“Pemprov Jatim terus berupaya meningkatkan kinerja pembangunan manusianya, agar tidak terjadi ketimpangan pembangunan manusia antar wilayah di Jatim. Wilayah yang mempunyai IPM tergolong “sedang” diupayakan untuk mencapai kategori “tinggi”,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam pencapaian pembangunan manusia diukur dengan memperhatikan tiga aspek esensial yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. “Dengan melihat capaian masingmasing komponen, diharapkan pemda mendapatkan input untuk meningkatkan pembangunan manusia wilayahnya masing-masing,” tambahnya.
Jika dilihat lebih mendalam, lanjutnya, meningkatnya pembangunan manusia di Jatim setiap tahunnya dikarenakan adanya kenaikan masing-masing komponen pembentuknya (umur harapan hidup (UHH), harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS) dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan.
Dipaparkannya, komponen pembentuk UHH, selama periode 2013 hingga 2019, Jatim telah berhasil meningkatkan UHH saat lahir dari 70,34 tahun (2013) menjadi 71,18 tahun (2019) atau naik sebesar 0,84 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, secara rata-rata UHH tumbuh sebesar 0,21 persen per tahun atau naik 0,15 tahun per tahunnya. “Ini menunjukkan adanya perbaikan pembangunan kualitas kesehatan di Jatim. Masyarakat semakin menikmati pembangunan di bidang kesehatan dan rata-rata lama sekolah (RLS),” katanya.
Kedua indikator ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya angka HLS dan RLS menunjukkan bahwa pembangunan manusia di sisi pendidikan lambat laun mengalami kemajuan di Jatim. Meningkatnya angka harapan lama sekolah menjadi sinyal positif semakin banyak penduduk yang bersekolah.
Di tahun 2019, harapan lama sekolah di Jatim telah mencapai 13,16 tahun yang berarti bahwa anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan mereka hingga lulus D1. Pada periode yang sama, rata-rata lama sekolah di Jatim tumbuh 1,49 persen per tahun.
Pertumbuhan yang positif ini juga merupakan modal penting untuk mendukung pembangunan di Jatim. Kondisi tersebut itu menandakan kualitas sumber daya manusia dari sisi pendidikan yang semakin membaik akan berdampak terhadap peningkatan daya saing sumber daya manusia sebagai pelaku utama pembangunan.
“RLS Jatim tahun 2019 mencapai 7,59 tahun menunjukkan bahwa secara umum rata-rata penduduk Jatim usia 25 tahun ke atas sebagian besar telah mengenyam pendidikan kelas VII (SMP kelas I) hingga kelas VIII (SMP kelas II),” katanya.
Sedangkan komponen pembentuk standard hidup layak,pada tahun 2019 pengeluaran per kapita masyarakat Jatim yang disesuaikan, mencapai Rp 11,74 juta per tahun naik sebesar 17,65 persen dibanding tahun 2013.
Selama periode 2013- 2019, pengeluaran per kapita disesuaikan masyarakat meningkat sebesar Rp. 277,36 ribu per tahun. Peningkatan pengeluaran per kapita yang disesuaikan ini menunjukkan kemampuan ekonomi masyarakat Jatim semakin membaik.
Kondisi ini sejalan dengan makro ekonomi yang ditunjukkan dari angka produk domestik regional bruto (output wilayah) yang mengalami kenaikan selama periode tersebut. Selain itu, harga barang dan jasa khususnya kebutuhan pokok cukup terjaga inflasinya selama tahun 2019.
“Stabilnya inflasi tersebut menguatkan daya beli masyarakat Jatim , sehingga roda ekonomi berputar cukup dinamis,” ujarnya. [rac]

Tags: