Rencana Perluasan Wilayah, Wali Kota Probolinggo Pantau Penggunaan KN Grantin 211

Rencana perluasan pelabuhan walikota pantau perairan Probolinggo.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kota Probolinggo, Bhirawa
Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin memantau rencana perluasan wilayah pelabuhan menggunakan KN Grantin 211. Bersama perwakilan anggota forkopimda, Sekda drg. Ninik Ira Wibawati dan sejumlah kepala Perangkat Daerah (PD) tampak pemantauan wilayah perairan Kota Probolinggo.

“Setelah melihat di tengah (laut) jarak dari pelabuhan 1 mil dengan kedalaman 16 meter, kami sudah lihat jaraknya. Inshaa Allah (pembangunan) tidak mengganggu alur nelayan, itu yang lebih penting,” terang Wali Kota Habib Hadi saat berada di dalam kapal milik Kementerian Perhubungan ini.

Melaju dengan kecepatan 15 knot, waktu tempuh perjalanan sekira 2 jam. “Alhamdulillah dengan menggunakan Kapal Grantin kami bisa tahu walaupun ada jembatan, masih bisa dilewati di bawahnya,” tuturnya, Rabu (24/3).

Habib Hadi memastikan perluasan pelabuhan tersebut tidak mengganggu aktivitas nelayan. Hal ini menjadi perhatian wali kota mengingat sebagian penduduk wilayah Kelurahan Mayangan berprofesi sebagai nelayan. “Karena sebagian masyarakat di Kelurahan Mayangan merupakan nelayan, kami memastikan betul-betul tidak ada dampak dengan adanya perluasan pelabuhan ke depannya,” harapnya.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Probolinggo Budi Krisyanto menyampaikan bahwa kedepan akan ada pengembangan perluasan atau perluasan menambah kedalaman dermaga yang berguna untuk sandar kapal pesiar. Selanjutnya akan ditata jalur pelayaran sehingga tidak mengganggu kepentingan nelayan dengan mempertimbangkan aspek keamanan sesuai aturan yang berlaku.

Lebih lanjut Wali kota Hadi Menegaskan, seperti yang diungkapkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan prioritas pengembangan Pelabuhan Probolinggo. Targetnya, ke depan pelabuhan yang berada di pesisir Utara Jatim itu dapat menjadi pusat hubungan perdagangan dan konektor titik-titik pariwisata unggulan di Jawa Timur.

“Dengan terbitnya Perpres No 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan di Jawa Timur, Pelabuhan Probolinggo ini bakal dikembangkan menjadi pusat pedagangan. Saat ini sudah menjadi pelabuhan yang cukup besar peranannya bagi Jawa Timur. Per bulannya ada sebanyak 140 kapal besar,” jelas wali kota Hadi.

Saat ini Pelabuhan Probolinggo sudah menjadi tempat bongkar muat kapal dari manca negara meski belum banyak. Misalnya, kapal dari Thailand yang membawa barang impor ke Indonesia dengan membawa raw sugar dan tepung tapioka sebanyak dua kali setiap bulannya.

“Pelabuhan ini dibangun atas sebuah obsesi dan harapan agar pelabuhan ini bisa menjadi salah satu shadow seaport of Singapore karena peluangnya sangat besar. Di sini, kedalaman 16 meter, sejauh ini yang kita tahu yang paling dalam ada di pelabuhan Benoa yaitu 20 meter,” jelasnya.

Menurutnya, Pelabuhan Probolinggo letaknya cukup strategis dan dikelilingi pulau Madura sebagai breakwater. Dengan begitu gelombang lautnya tidak tinggi, hanya 1,5 meter maksimal dan tingkat sedimentasi lautnya juga rendah.

Sedangkan secara ketersediaan fasilitas yang eksisting, Pelabuhan Probolinggo sudah memiliki kawasan pergudangan, pemadam kebakaran, rest area, serta jembatan timbang. Ke depan jalan akses ke Pelabuhan Tanjung Tembaga juga akan dilebarkan. “Jika saat ini jalan yang mampu dilewati beban 20 ton hanya berlebar 8 meter, ke depan akan dilebarkan menjadi 15 meter,” lanjutnya.

“Saat ini sudah ada 3 instansi yang paparan ke pemprov. Bahkan ada yang sudah memaparkan akan mempersiapkan untuk menjadikan seaport ini sampai kedalaman diatas 20 meter. Tapi belum putuskan,” tuturnya.

Selain potensial untuk urusan logistik, pengembangan kawasan Pelabuhan Tanjung Tembaga juga dalam rangka menjadikan menyokong sektor pariwisata. Pelabuhan Tanjung Tembaga digadang akan menjadi tempat sandarnya kapal-kapal pesiar yang membawa wisatawan untuk dibawa ke titik-titik pariwisata unggulan di Jawa Timur seperti di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Dalam lampiran Perpres ini pengembangan Pelabuhan Tanjung Tembaga membutuhkan alokasi anggaran APBN dan KPBU sekitar Rp 9 Trilliun, dan detail plannya akan digarap tahun ini.

“Captive market kita adalah wisatawan dari Eropa yang menggunakan kapal pesiar. Yang rata-rata mereka menghabiskan 14 hari di Indonesia. Kita ingin mereka menghabiskan waktunya di Bromo 2 hari, di Ijen 2 hari. Selama ini masing-masing hanya sehari,” paparnya.

Selain itu, gubernur Khofifah juga berencana menggandeng Pelabuhan Tanjung Tembaga turut menjadi konektor ke pariwisata di Kepulauan Madura. Seperti ke Gili Labak dan Giliyang. Ke depan, jalan akses ke Pelabuhan Tanjung Tembaga juga akan dilebarkan. Jika saat ini jalan yang mampu dilewati beban 20 ton hanya berlebar 8 meter, ke depan akan dilebarkan menjadi 15 meter, tambah Habib Hadi.(Wap)

Tags: