Restorasi Islam Radikal dan Neo-Radikalisme

Oleh :
Moh. Rofqil Bazikh
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dengan fokus studi Perbandingan Mazhab. Selain itu bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta dan berdomisili di daerah Banguntapan Bantul DIY

Tulisan ini bisa saja tidak sama dengan wacana dan diskursus tentang frasa Islam radikal sebelum-sebeumnya. Barangkali, ada yang menegasikan tulisan ini dengan sangat teburu-buru, bahkan sejak baris judul di atas. Tetapi, tulisan ini bukan semata berangkat dari ruang kosong dan kecut. Lebih dari kedua hal tersebut tulisan ini berusaha dengan gamblang memotret apa yang sebetulnya terjadi dan sedang bertempur di kepala penulis. Secara khusus, yang sering menjadi konfrontasi antara corak Islam(yang disebut dan dituding) radikal dan rias Islam yang mendaku moderat. Titik itulah sejatinya yang sering membuat semacam kekacauan dan keributan kecil di kepala saya.

Belakangan memang terjadi semacam perselisihan yang sama sekali tidak menemukan ujungya. Kelompok Islam moderat sering melemparkan semacam lakab Islam radikal kepada kelompok yang corak beragamanya lebih ketat. Ketat dalam tanda kutip lebih berpegang pada teks bahkan secara hiper-teks. Sebuah pemaknaan(pada teks) yang basisnya masih sangat tekstualis sekali. Artinya apa yang ada dalam teks itulah yang menjadi patokannya. Hal ini berbeda dengan kelompok yang mendaku moderat, yang pemaknaannya bisa disebut melampaui teks. Kelompok yang kedua ini seringkali mengklaim dirinya sebagai Islam progresif. Itulah corak Islam yang beragam beserta konfrontasi di dalamnya.

Di sisi yang lebih jauh, klausa ‘Islam radikal’ dilekatkan kepada oknum atau bahkan kelompok yang menyerukan jihad memerangi non-muslim. Puncaknya, penyebutan ini juga mengarah pada oknum yang terlibat dalam aksi teror. Hal tersebut bisa diterima dan bisa dinalar dengan akal bijak. Tetapi, ihwal Islam radikal ini sebetulnya belum ada patokan yang klir. Kapan seseorang atau bahkan suatu kelompok(baca:ormas) bisa disebut terpapar virus-kalau itu dianggap penyakit-radikal atau tidak. Sehingga, dari tidak adanya sebuah patokan yang jelas lakab Islam radikal tidak jarang salah tempat.

Memang benar ada kekerasan berbaju agama, ada kekerasan atas nama agama. Tetapi, problemnya penyematan label Islam radikal tersebut tidak hanya tertuju pada oknum terlibat aksi kekerasan. Kacaunya, justru kadang-kadang label tersebut disematkan pada orang-orang yang berada di pihak oposisi. Orang-orang yang sering mengkritik pemerintah-meski ditengarai dengan cara kurang santun. Di sini, makna radikal dan penyematan Islam radikal mulai melenceng dari sasaran tembaknya. Bak melebarkan ukuran gawang, jika label Islam radikal ditunjukkan pada orang-orang di pihak oposisi.

Sehingga, pengembalian makna(restorasi) kepada yang semula agar tidak melebar ke mana-mana perlu dimulai. Lakab Islam radikal itu sejatinya harus lebih hati-hati untuk digunakan. Harus secara selektif mungkin dalam menuduh orang yang diklaim terpapar virus radikal. Sebab, jika hanya persoalan kritik dicap sebagai radikal, saya kira ada yang mulai tidak beres dengan lema ‘radikal’ ini. Jika boleh memberikan opsi dan saran, label ini hanya boleh digunakan kepada orang dan kelompok yang mengebiri kemanusiaan atas nama agama. Opsi yang lain, pemakanaannya harus direkonstruksi.

Neo-Radikalisme

Saya ingin melemparkan sebuah tawaran yang mungkin bisa disebut lompat pagar. Saya menginginkan sebuah konsep dan makna yang lebih baik dari pada sekadar radikal yang mengarah kepada kekerasan. Ini ada sebuah tawaran, yang bisa dianggap baru atau tidak sama sekali. Yang terpenting di sini, bagaimana pemaknaan radikal(isme) yang berbeda dari sebelumnya. Radikal jika ditarik dalam tataran bahasa bisa dimaknai sesuatu yang mendasar. Dari itu, saya menginginkan jika Islam radikal itu direkonstruksi menjadi Islam yang sangat mendasar.

Namun, di bagian ini titik tekannya, bukan mendasar dalam ranah teologis yang pada puncaknya saling klaim benar dan apologis. Tetapi, lebih kepada mendasar dalam ranah Islam sebagai agama pembebasan umat manusia. Artinya, dalam konsep neo-radikalisme atau radikalisme baru ini bukan hanya semata-mata soal teologis cum eskatologi. Ini jauh lebih dari itu, neo-radikalisme ini diproyeksikan sebagai sebuah wacana pembebasan. Sebab(kata kuncinya di awal tadi) memahami Islam secara mendasar. Bukankah fundamen dari Islam ada misi pembebasan?

Akhirnya, saya berharap Anda bisa memilih konsep yang terbaik. Berbagai konsep yang ditawarkan, antara Islam moderat, Islam radikal(yang pelabelan dalam ranah ini sering salah tembak), atau bahkan Islam yang tanpa embel-embel sekali pun. Intinya, saya hanya ingin mendobrak sebuah konsep yang ketika disebut Islam radikal yang terbesit di kepala adalah aksi teror, pengeboman tempat ibadah, dan semacamnya. Sekali lagi, saya ingin mengatakan, menjadi radikal tidak semenakutkan itu

———– *** ———–

Tags: