Rinjani, Juni, dan Sunyi

Oleh:
Afthon I.H.

ada kudengar nama-Mu,
dalam nafas terpenggal buncah ambisi
: cucur harap para pendaki pada anggun dewi anjani

ada kusebut nama-Mu,
di atas taring batu muntahan senaru
kala lembut angin
menarikan cemara di hutan gua susu

ada kusimpan nama-Mu;
dalam tebing pengujian torean,
dalam legam biru segara anak dari tepian,
dalam gemetar lahar gunung anak barujari yang menahan-nahan
dalam sengat aik kalak asam belerang,
atau dalam gigil kabut juni yang menangis saat di bawah pelawangan.

di rinjani
pada juni
dalam sunyi,
tak lerai akan nama-Mu

Danau Segara Anak, 19-23 Juni 2021

Anjani, 1

lama kita khidmati,
menjaring tangis langit kemarau di kali mati
kini kita nikmati,
kenangan itu menggenang seisi diri

28 Juni, 2021

Anjani, 2

dalam nganga harap,
rindu rumah selalu lebih dulu menyergap

28 Juni, 2021

Selepas Isya Ditunaikan

selepas isya ditunaikan
malam-malam,
adalah kekasih paling romantis

di depan meja,
tepat di samping jendela tua
yang dimakan usia itu
kubiarkan tubuh ini
jadi santapan kawanan malam
: dingin yang kejam,
dan sunyi yang mencekam

desir angin malam itu
aku menyukainya, entah mengapa
pun ketika di luar sana
anjing-anjing meringis tak karuan

kau tahu?
aku seolah tidak membutuhkanmu berada di sini,
pun ketika di atas meja itu saat ini tengah kutuliskan riwayatmu
dan gagasan langit yang turun ke kepalaku melintasi
jendela tua itu hanya tentangmu
tidak ada yang mampu mengusikku, malam-malamku
kekasih paling romantis

2021
Hilang, Hilang

pergi
hilang
kembali
hilang
datang
hilang
pulang
hilang
hilang
hilang
seperti benggala akromatik dibelenggu tipu
kaulah kata yang memaki tuannya sendiri,
pecundang!

Mei, 2021

Tentang Penulis:
Afthon Ilman Huda
Kelahiran Mataram, NTB. Menulis Puisi, Cerpen, dan Esai. Karyanya masuk dalam Antologi Puisi Menenun Rinai Hujan (2019). Bergiat di Komunitas Endonesa Literate, Lombok Barat.

Rate this article!
Rinjani, Juni, dan Sunyi,5 / 5 ( 2votes )
Tags: