Ritail Tetap Tak Boleh Jual Miras

DPRD Surabaya,Bhirawa
Pansus Raperda Peredaran Minuma Keras tetap bersikukuh memasukkan larangan penjualan Miras di toko-toko ritail termasuk mini market. Ketua Pansus Raperda Peredaran Miras, Blegur Prijanggono menegaskan tidak ada jaminan penjualan Miras di toko ritail bebas pembeli di bawah umur.
” Tidak ada yang bisa menjamin peredaran Miras di toko-toko ritail termasuk mini market bisa terkontrol dari pembeli di bawah umur.  Ini sangat berbahaya bagi generasi kita, ditambah lagi  banyak produk Miras justru sangat menarik bagi remaja, baik kemasan maupun rasa,” tegas Blegur saat hearing Raperda Peredaran Miras bersama sejumlah pelaku bisnis minuman beralkhohol, Selasa(1/4).
Memang dalam rapat dengar pendapat (hearing) di ruang komisi B kemarin muncul usulan dari sejumlah perwakilan asosiasi pengusaha miras golongan A (APMA) Surabaya, agar peredaran miras bisa dilakukan di toko-toko ritail.
Untuk meyakinkan anggota asosiasi yang hadir di komisi B, Blegur sengaja membawa beberapa contoh minuman beralkohol klas A yang dikemas dengan berbagai rasa dan belakangan sudah dijadikan minuman pergaulan bagi remaja usia sekolah.
“Lihat saja minuman yang saya bawa ini, siapa yang mengira jika ternyata minuman ini mengandung alkhohol dan memabukkan, padahal harganya murah, rasanya manis, apalagi dicampur es, pasti tambah menarik karena terkesan menyegarkan, apakah anda semua rela jika anak-anak anda mengkonsumsi minuman ini,” tantang Blegur meyakinkan argumentasinya.
Blegur berharap kota Surabaya mampu mengatur peredaran minuman beralkohol, dengan mengendalikan jumlah dan tempat penjualannya, karena daerah lain seperti Bali telah mampu menghadang penjualan minuman berlakohol kepada anak di bawah usia 21 tahun.
“Disamping kota-kota lain, saya juga melakukan studi banding soal penjualan minuman beralkohol di Bali yang notabene sebagai kota pariwisata tingkat dunia, mereka spontan menanyakan umur dan memeriksa identitas pembelinya jika dicurigai dibawah umur 21 tahun, maka kami berharap hal ini juga diberlakukan di kota Surabaya,” tandasnya.
Namun demikian Blegur tetap memberikan kesempatan kepada kelompok asosiasi pedagang maupun produsen minuman beralkohol untuk turut memberikan masukan sekaligus data tempat penjualannya, untuk dijadikan bahan dalam akhir pembahasan rapedanya.
“Sejujurnya Raperda Miras ini  sudah final, namun kami tetap memberikan kesempatan kepada anda semua dan asosiasi lain termasuk produsen untuk memberikan masukan dan memberikan data tempat penjualannya, karena sudah jelas kios dan minimarket tidak diperboleh lagi menjadi tempat penjualan minol, karena sebetulnya aturan ini justru akan membantu mereka yang legal dan akan menyingkirkan minuman illegal,” tegas Blegur.
Randy sekretaris Asosiasi Pengusaha minuman Beralkhohol Golongan A (APMA) mengatakan jika anggotanya telah mematuhi aturan meski belum diatur dalam perda karena pertimbangan sosial.
“Anggota kami murni distributor, agen dan penjual eceran, jadi non produsen, selama ini anggota kami telah melakukan seperti apa yang disampaikan oleh pimpinan rapat, karena kami tidak menjual di dekat tempat ibadah dan sarana pendidikan,” ucap Rendy.
Namun dengan raut muka yang kecut, Randy mengaku bahwa kelompoknya hanya menjadi korban, akibat munculnya sejumlah minimal beralkohol illegal. “Sebetulnya kami ini hanya terkena dampak dari munculnya berbagai minuman beralkohol illegal seperti cukrik dan oplosan, karena selama ini di Surabaya tidak pernah ada masalah,” sahutnya sembari meninggalkan ruang rapat. [gat]

Rate this article!
Tags: