Ruang Isolasi Empat RS di Probolinggo Raya Hampir Penuh

IGD RSUD dr Moh Saleh kembali dibuka.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Probolinggo, Bhirawa
Sudah 18 kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang berstatus zona merah. Angka Covid-19 yang aktif juga tercatat ada 725 kasus. Kondisi itu, membuat empar rumah sakit (RS) di Probolinggo Raya hampir penuh. Empat Rumah sakit di Probolinggo Raya adalah RSUD Waluyo Jati Kraksaan, RSUD Tongas dan RS Wonolangan Dringu. Demikian pula RSUD dr Mohsaleh kota Probolinggo.

Juru Bicara Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica, Rabu (21/7) mengatakan, angka tambahan kasus Covid-19 di Kabupaten Probolinggo, terus naik. Kondisi itu, sangat berdampak pada ketersedian ruang isolasi Covid-19 di rumah sakit kabupaten.

Di Kabupaten Probolinggo sendiri, ada tiga rumah sakit rujukan pasien covid-19. Mulai RSUD Waluyo Jati Kraksaan, RSUD Tongas dan RS Wonolangan Dringu. Hampir rata-rata ruang isolasi di tiga rumah sakit tersebut mau penuh.

BOR (bed occupancy rate) ruang isolasi di Rumah sakit rujukan pasien Covid-19 Kabupaten Probolinggo sudah hampir penuh semua. Karena lonjakan kasus memang tinggi. Selain itu, pasien yang terpapar dan dibawa ke rumah sakit, banyak kondisi dengan gejala,” katanya.

Dewi menerangkan, pihaknya terus berusaha melakukan perputaran pasien Covid-19 baik di rumah sakit maupun rumah karantina kabupaten.

Bagi pasien Covid-19 di rumah sakit yang sudah tertangani dan kondisi mulai membaik, segera digeser pindah ke rumah karantina kabupaten. Dengan harapan, tidak sampai terjadi penumpukan atau overload pasien Covid-19 dirawat di rumah sakit.

“Perputaran pasien Covid-19 juga cepat mas. Jadi mereka yang kondisinya sudah membaik, langsung dipindah ke rumah karantina kabupaten,” terangnya.

Saat ini di Kabupaten Probolinggo dikatakan Dewi, orang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 4.597 kasus. Dengan keterangan 725 kasus aktif yang masih dirawat dan menjalani isolasi. Sedangkan 3.632 kasus dinyatakan sembuh dan 240 kasus meninggal dunia.

“Dengan adanya penambahan 158 kasus harian Covid-19 ini, kini sudah ada 18 kecamatan yang masuk zona merah. Yakni, Kecamatan Paiton, Kraksaan, Pajarakan, Gending, Dringu, Sumberasih, Tongas, Leces, Tegalsiwalan, Banyuanyar, Maron, Krejengan, Besuk, Kotaanyar, Pakuniran, Gading, Krucil dan Tiris,” terangnya.

Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo, yang berkapasitas 18 tempat tidur sempat overload. Karenanya, ditutup sementara. Senin (19/7), IGD kembali dibuka. Sejumlah pasien yang sempat ditangani di IGD, telah dipindah ke ruang perawatan.

Plt. Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo dr Abraar HS Kuddah, Rabu (21/7) mengatakan, melonjaknya pasien Covid-19 di Kota Probolinggo, membuat sejumlah rumah sakit kewalahan. IGD RSUD dr. Mohamad Saleh, sempat ditutup sementara. Karena, harus fokus menangani pasien yang sudah masuk IGD.

“Kami putuskan tutup sementara. Karena, di IGD sudah penuh dan melebihi kapasitas. Seharusnya hanya diisi 18 pasien, waktu itu sampai 24 pasien di IGD,” jelas dr Abraar.

Keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan juga menjadi perhatian serius. Pihaknya juga tidak bisa menerima semua pasien datang ke IGD. Tetapi, fasilitas dan nakesnya tidak mampu. Karena, bisa mengancam keselamatan pasien yang sudah parah di IGD.

Karenanya, pihaknya fokus menangani pasien di IGD. Kemudian, memindahkan mereka yang sudah tertangani ke ruang perawatan. “Kami juga kekurangan nakes di IGD. Kami sudah pindahkan nakes di dalam (luar IGD) untuk dipindahkan ke IGD. Tapi, semua itu belum cukup,” jelasnya.

Lonjakan kasus covid-19 di Kota Probolinggo, kata Abraar, cukup tinggi. Sampai kemarin, ruang isolasi Covid-19 yang berkapasitas 115 tempat tidur sudah terpakai 80 tempat tidur. “Jika mau menambah tempat tidur, harus menambah fasilitas kesehatan lainnya. Membuka ruangan isolasi Covid-19, bukan seperti membuka ruangan pasien biasa,” ujarnya.

Selain itu melonjaknya kasus Covid-19, membuat kebutuhan tabung gas oksigen juga meningkat. Termasuk di Probolinggo. Selain harganya naik, barangnya juga sulit didapatkan. Hal ini diungkapkan distributor tabung oksigen di Kota Probolinggo, Bambang Santoso. Warga Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu mengatakan sejak beberapa hari lalu oksigen sulit didapatkan. Dengan meningkatnya kasus Covid-19, kebutuhan tabung oksigen turut meningkat.

Bukan hanya tabungnya yang langka, kata Bambang, juga pengisian oksigennya. “Ini tabung saya banyak yang kosong. Saya ngisinya di Paiton. Pengisiannya dibatasi. Sebab, diprioritaskan untuk rumah sakit. Kami hanya bisa maksimal 50 tabung,” ujar pemilik UD Syarifa Gas tersebut, Rabu (21/7).

UD Syarifa Gas hanya melayani permintaan tabung oksigen secara mandiri. Dengan meningkatnya kasus korona, banyak warga luar daerah juga membeli oksigen di UD Syarifa Gas. “Selain warga kota (Probolinggo), juga banyak dari luar kota. Seperti Surabaya, Madura, Bangil, dan warga kabupaten (Probolinggo) datang ke sini untuk mencari tabung oksigen,” ungkapnya.

Melihat kebutuhan warga, Bambang mengaku, memperpanjang waktu pelayanan. Biasanya hanya buka mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00. Karena yang butuh untuk kepentingan kesehatan, pihaknya rela melayani 24 jam. “Ketika sakit tidak pandang waktu. Tak jarang jam satu dini hari, bahkan jam tiga dini hari ada permintaan tabung oksigen. Karena melihat unsur kemanusiaan, kami tetap layani,” ujarnya.

Sebelum pandemi, menurutnya permintaan antara 5 tabung sampai 15 tabung per hari. Akibat pandemi, meningkat. Antara 25 tabung sampai 60 tabung per hari. “Harganya juga naik. Yang normalnya tabung ukuran 1 kubik Rp 60 ribu, naik menjadi Rp 75 ribu. Tabung 6 kubik saya jual Rp 120 ribu, biasanya hanya Rp 100 ribu,” jelasnya.

Bambang mengaku kewalahan menghadapi membludak permintaan. Sementara stok tabung oksigen tidak ada. “Saya berharap pihak pengisian menambah stoknya. Harapanya, bisa 75 atau bahkan 100 tabung tidak masalah. Mengingat saat ini hanya dibatasi 50 tabung,” tandasnya.

Kepala Filling Station PT Sandana Multigas Stasiun Pengisian 02 (Samator) Probolinggo Donny Priambodo, membenarkan permintaan oksigen meningkat. Karenanya, stok di Samator, juga menipis. “Memang banyak permintaan, namun meski stoknya menipis, tetapi masih ada,” ujarnya.

Mengenai jumlah perminaatn baik ke RSUD dr. Mohamad Saleh dan Rumah Sakit Dhamar Husada, Kota Probolinggo, menurutnya tidak ada masalah. “Memang beberapa waktu lalu liquit yang kami terima lebih sedikit. Sehingga, harus dibagi keseluruhan. Jadi, untuk RSUD dr. Momahad Saleh, yang biasanya 200 tabung dalam sehari, hanya ter-supply 150 tabung,” tambahnya.(Wap)

Tags: