“Rumah” De-radikalisasi

Sivitas akademis (mahasiswa dan dosen). yang terpapar radikalisme (dan intoleran), akan memperoleh pembinaan di kampus. Menjalani program reorientasi penguatan pluralisme berbasis pemahaman kebangsaan, dan moderasi agama. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Kementerian Agama telah mengawali program “Rumah Tampung.” Kampus perguruan tinggi negeri terbesar di Indonesia akan menjadi pilot project pendidikan deradikalisasi sistemik.

Sesuai prinsip dakwah, program deradikalisasi di kampus dilaksanakan dengan soft power. Sehingga bisa diikuti secara sukarela oleh seluruh sivitas akademis. Pelaksananya juga dari kalangan internal. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menduga kampus (negeri) telah terpapar radikalisme. Walau rekrutmen radikalisme bukan di dalam kampus. Namun kawasan kampus ditengarai telah dikunjungi mentor jaringan radikalisme.

Kampung kawasan kos-kosan mahasiswa menjadi incaran penyebaran dakwah radikal, setidaknya berupa olok-olok ke-agama-an. Berpotensi kegaduhan sosial di sekitar kampus. Mahasiswa menjadi sasaran dakwah radikal, “menumpangi” emosional pemuda. Juga disebabkan pemahaman ke-agama-an yang dangkal. Beragam kegiatan unit ke-rohani-an dijadikan ladang penyusupan radikalisme. Walau, mayoritas mahasiswa tersadar sebelum menjadi bagian sindikat radikalisme.

Potensi ancaman (radikalisme) ini patut diwaspadai pimpinan perguruan tinggi. Maka diperlukan aksi sistemik Kemendikbud Ristek, menghalau radikalisme dari kampus. Penanggungjawab kampus (terutama Rektor), tidak perlu risau (dan gusar) dengan rilis BNPT tentang kampus yang terpapar radikalisme. Sebab, analisis BNPT bukan dibuat asal-asal-an. Melainkan melalui pengintaian cukup lama, selama bertahun-tahun. Bahkan masyarakat sekitar juga mengetahui keberadaan kelompok radikal di sekitar kampus.

Kalangan kampus sesungguhnya telah bersama-sama turut dalam aksi pencegahan terorisme dan radikalisme. Sejak tahun ajaran baru 2017 lalu telah digaungkan deklarasi de-radikalisasi. Di berbagai kota pusat pendidikan (Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Malang, dan Makasar) telah dilaksanakan deklarasi. Berlanjut dengan dengan “pembinaan” dosen dan mahasiswa yang nyata-nyata terpapar radikalisme. Ironisnya, beberapa dosen memilih berhenti mengajar.

“Pembinaan” Kemendikbud terasa belum optimal. Sehingga perlu dijalin kerjasama masif, terutama dengan Kementerian agama, BIN (Badan Intelijen Negara) dan BNPT. Kerjasama lintas Kementerian akan dimulai tahun ajaran baru perkuliahan 2021 (bulan Juli). Program bertema “Rumah Tampung,” akan dimulai di Universitas Indonesia (UI Jakarta), Universitas Padjadjaran (Unpad, Bandung), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjahmada (UGM, Yogyakarta). Program serupa juga akan diselenggarakan di PTN Surabaya.

Program “Rumah Tampung” bersifat ekstra kurikuler menggunakan metode modul. Pengajar (mentor) terdiri dari kalangan akademisi. Termasuk anggota BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila). Serta tokoh ulama yang direkomendasikan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Modul de-radikalisasi memprioritaskan moderasi pemahaman agama. Termasuk penjejakan organisasi radikalisme dan terorisme berkedok agama. Juga penjejakan radikalisme “kiri” (anti agama).

Penjejakan radikalisme “kiri” tak kalah strategis. Karena sering pula terjadi penistaan terhadap agama-agama, berpotensi besar tawur sosial pada tataran grass-root. Walau sebenarnya, sindikat radikalisme belum berhasil benar membujuk sifitas kampus. Juga belum terdapat kalangan kampus yang menjadi teroris. Tetapi harus diakui, sudah banyak yang “ber-empati” terhadap kelompok radikal, aliran kiri (anti agama) maupun kanan (berlatar agama).

Di seantero pulau Jawa, diperkirakan terdapat 40 lembaga pendidikan agama (berkedok pesantren) di-indikasi radikal. Sepuluh diantaranya, berada di Jawa Timur. Disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di tiga kota pusat pendidikan utama di Jawa Timur (Surabaya, Malang dan Jember) telah terdapat lembaga pendidikan (non-formal) keagamaan berisifat radikal. Namun di pelosok daerah (pedesaan Gresik dan Banyuwangi) juga telah terdapat pesantren “nyeleneh.”

Aksi de-radikalisme, seyogianya diikuti seluruh lapisan masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan dan ke-profesi-an.

——— 000 ———

Rate this article!
Tags: