Running Pilkada Surabaya, Ning Lia: Sekali Layar Terkembang, Pantang Mundur

Surabaya, Bhirawa
Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Surabaya semakin dekat. Nama-nama bakal calon wali kota dan wakil wali kota sudah mulai mengkerucut dan banyak yang tenggelam seiring waktu. Salah satu nama yang masih tetap eksis adalah Lia Istifhama.

“Saya orangnya tidak munafik. Semua apa adanya, saya sampaikan. Saya tidak gentar soal pilwali yang katanya harus punya uang sekian meter dan sebagainya. Biarpun ada yang menuding saya bonek (bondho nekat) soal finansial, tapi yang terpenting bagaimana saya bisa memberikan manfaat untuk orang lain selama proses berlangsung,” ujar Ning Lia, Jumat (17/7/2020).

Dalam proses running Pilwali Surabaya, kata putri tokoh senior NU yang juga mantan Ketua DPW PPP Jawa Timur almarhum KH Masykur Hasyim ini, telah mendapat restu dari orang tua. Baginya, restu dan izin orang tua adalah segala-galanya. Dari restu itu pula membuka jalan kemudahan selama berproses.

“Saya sampaikan bahwa ini semua bukan sesuatu hal yang saya pikirkan sebelumnya. Relawan dari awal tahun 2019 sudah semangat mendorong. Saya tidak ngapa-ngapain, mereka tak henti melakukan aksi untuk mendukung. Masak saya jadi pengecut terus memilih mundur hanya soal mikir cost politic?. Saya punya prinsip yang sama dengan ayah, sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang,” ungkapnya.

Dosen yang merupakan arek asli wonocolo tersebut juga menjelaskan, pentingnya motivasi bagi warga Surabaya agar berani tampil ke depan.

“Dengan relawan dan teman-teman saya, selalu saya sampaikan. Ayo berani maju, buat karya, kembangkan potensi. Tidak usah ribet soal bondho. Bismillah, rezeki itu datang dari Allah SWT. Opo jare sing ngecat lombok. Buktinya, saya sampai sekarang masih bisa berproses bersama kawan-kawan relawan. Ini sudah setahun tapi Alhamdulillah ada saja rezeki untuk melakukan aksi sosial,” ujarnya.

Tak lupa, ibu dua anak itu menambahkan pentingnya spirit berbagi. “Seperti yang saya terus sampaikan pada kawan-kawan. Kalau kita misalnya punya 10 tahu di rumah, maka janganlah segan-segan berbagi tahu itu untuk orang lain. Taruhlah kita makan dua biji bersama keluarga, maka sisakan yang lain untuk dikasih orang lain. Ikhlas dan harus yakin, nyenengin orang itu berpahala. Malah insya Allah membuka pintu rezeki untuk kita. Berpikir positif itu intinya,” pungkas mantan Putri NU 2005 yang juga dikenal sebagai penulis itu. (iib)

Tags: