Sambut New Normal, PHRI Desak TNBTS Segera Buka Wisata Bromo

Akibat covid 19 wisatawan di Bromo hanya singgah.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Hotel Siap Jalankan Protokol Kesehatan
Probolinggo, Bhirawa
Perhimpunan Hotel dan Restauran (PHRI) Kabupaten Probolinggo mendesak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) membuka wisata Bromo. Desakan dimaksudkan, di antaranya agar perekonomian warga kembali berputar.

Ketua BPC PHRI Kabupaten Probolinggo Digdoyo Djamaludin, menyebut desakan itu diwujudkan dalam surat yang dikirimkan pada Rabu (17/6). Melalui surat tersebut, PHRI meminta agar kawasan wisata Gunung Bromo kembali dibuka, demi mengembalikan perekonomian masyarakat.

Dengan adanya penutupan wisata ke kawasan Gunung Bromo beberapa waktu ini, ia mengungkapkan perekonomian telah menjadi limbung. “Masyarakat di kawasan Gunung Bromo banyak yang menggantungkan kehidupan ekonominya pada sektor pariwisata. Dampaknya, melumpuhkan sektor perekonomian masyarakat lokal. Serta melemahnya sektor pariwisata, baik hotel, restoran, rental kuda, jip, dan asongan,” kata Digdoyo Djamaludin.

Dalam catatan BPC PHRI Kabupaten Probolinggo, okupansi hotel selama penutupan wisata Gunung Bromo mencapai 0-10 persen. Rendahnya okupansi itu, dikarenakan banyak pembatalan pesanan kamar, baik dari koorporasi maupun dari wisatawan. Padahal untuk menjaga kelangsungan usaha tetap terjaga, standar tingkat hunian hotel minimal 60 persen.

“Sebagian besar hotel dan restoran merumahkan karyawan. Bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah mulai diambil, karena beratnya beban usaha dalam menghadapi situasi wabah Covid-19 ini,” ungkap pria yang karib disapa Yoyok itu.

Selain mendesak pembukaan Bromo, PHRI juga minta TNBTS menyiapkan meja kasir (point of sale/POS) tiket tambahan di hotel-hotel atau rest area terdekat. Dengan POS, disebutnya bisa mengurangi penumpukan pengunjung di pintu masuk TNBTS. Cara itu bisa dilakukan, bila ingin mendukung penerapan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

Dalam suratnya, PHRI juga meminta disiapkan satgas kesehatan pariwisata. Ini untuk mengantisipasi apabila terjadi hal yang tidak diinginkan selama berada di kawasan wisata Gunung Bromo. “Menciptakan rasa aman dan nyaman untuk para wisatawan Gunung Bromo,” ungkapnya.

Sebagai industri padat modal kerja, industri pariwisata melibatkan pelaku mitra UKM sebagai pendorong ekonomi rakyat. “Karena itu pula, kami harapkan kepedulian, empati, dan toleransi kepada kepala TNBTS dan Bupati Probolinggo, termasuk dapat membantu memberi kebijakan pembukaan akses masuk di kawasan lautan pasir Gunung Bromo,” tandas pemilik Yoschi’s Hotel itu.

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas pada TNBTS Syarif Hidayat menyebut pihaknya belum menerima surat dari PHRI Kabupaten Probolinggo. “Surat secara resmi belum diterima. Kami cek di bagian persuratan, belum ada surat dari PHRI masuk,” ungkapnya.

Bersiap hadapi penerapan New Normal di tengah pandemi Covid-19, para pengusaha hotel dan restoran di kawasan wisata Gunung Bromo, berbenah dan menyiapkan protokol kesehatan dalam melayani para tamu. Sekitar tiga bulan usaha hotel terdampak penutupan area wisata dan Physical-Social Distancing di masa pandemi Covid-19, New Normal menjadi angin segar dalam menghidupkan kembali sektor pariwisata, lanjut Yoyok.

Penyedia jasa hotel dan restoran menyiapkan perangkat pembersih tangan, baik sabun cuci tangan maupun hand sanitizer. Pengunjung juga diharuskan menggunakan masker dan diperiksa suhu tubuhnya menggunakan Thermo Gun. Begitu juga bagi para petugas layanan hotel, seluruhnya wajib bermasker dan menggunakan face shield, mereka juga menggunakan sarung tangan untuk meminimalisir sentuhan fisik secara langsung.

Pengusaha hotel dan restoran di kawasan wisata Gunung Bromo yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo, menegaskan tetap semangat menyambut tatanan New Normal pasca terdampak pandemi Covid-19.

“Kami PHRI kawasan Sukapura sudah cukup siap menghadapi new normal ini. Entah itu kapan, kalau di bulan Juli diberlakukan kita juga sudah siap,” kata Wakil Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo, Fatkhurohman.

Selama penutupan area wisata, para pengusaha hotel terpaksa merumahkan sebagian besar karyawan dan sebagian kecil lainnya terpaksa di PHK. Hal itu terjadi lantaran tak adanya satu pun tamu kunjungan wisata, sementara beban biaya perawatan hotel tetap berjalan.

“Memulai dengan new normal yang penting kita sudah bisa bergerak, bernafas dan berkegiatan. Karena kami selalu mempunyai beban moral terhadap karyawan yang kita rumahkan,” jelas salah satu Manajer Hotel kawasan Wisata Gunung Bromo, Ahmad Hutomo.

Di kawasan wisata Gunung Bromo Kabupaten Probolinggo, terdapat delapan hotel dan restoran yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Penerapan tatanan New Normal menjadi angin segar bagi pengusaha hotel, untuk mengembalikan geliat pariwasata dan menguatkan perekonomian dari sektor jasa hotel dan restoran, tambahnya. [wap]

Tags: