Sanitasimu, Masa Depanmu

Wahyu KSN2014Oleh :
Wahyu Kuncoro SN
Wartawan Harian Bhirawa
Alumnus jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya
“Sanitasi lebih penting daripada sebuah kemerdekaan”. Demikian, kalimat penuh filosofis yang disampaikan tokoh dunia Mahatma Gandhi. Semasa hidupnya, Gandi sudah mengampanyekan konsep cara hidup yang mengintegrasikan kebersihan dan sanitasi. Mimpinya adalah terciptanya sanitasi total untuk semua orang.
Menurut Gandi, sanitasi memiliki hubungan yang sangat kuat tidak saja dengan perilaku higienitas individu, tetapi lebih dari itu, sanitasi juga berhubungan dengan martabat manusia dan kesejahteraannya, kesehatan masyarakat utamanya gizi yang baik. Bahkan, sanitasi ikut mendukung pendidikan manusia yang bermartabat. Andai saja pemikiran tersebut sudah dipenuhi dan dijalankan maka keprihatinan akibat masih tingginya angka kematian akibat buruknya sanitasi sebagaimana yang terjadi di dunia hari ini tidak akan terjadi.
Simak saja data Bank Dunia (2013), bahwa dari total penduduk dunia yang diperkirakan sudah mencapai lebih dari 7 Miliar, ternyata hanya 4,5 miliar orang yang memiliki akses toilet atau kakus. Itu artinya, lebih dari 2,5 miliar orang yang umumnya hidup di daerah pedesaan tidak memiliki sanitasi yang layak alias tidak memiliki akses terhadap jamban dan  1 miliar penduduk diantaranya melakukan buang air besar sembarangan (BABS) di sungai dan ladang. Budaya hidup ini tentu berpotensi menyebarkan virus dan kuman dari tinja melalui makanan, air, dan pakaian.
Buruknya sanitasi menyebabkan jutaan kematian terutama kepada anak-anak miskin di seluruh penjuru dunia. Oleh karenanya, para pemimpin dunia seharusnya menyediakan akses layanan sanitasi dasar untuk masyarakat, sebagai salah satu cara memerangi kemiskinan. Negara-negara yang masih menerapkan pembuangan air besar di tempat terbuka, ternyata merupakan negara-negara yang jumlah kematian balita tertinggi, tingkat kurang gizi dan kemiskinan yang tinggi, serta kesenjangan ekonomi yang besar.
Tanpa jamban atau sistem pengolahan limbah yang layak, banyak penduduk negara-negara berkembang  buang air besar (BAB) di sungai atau ladang, tanpa sadar menyebarkan kuman-kuman penyebab penyakit diare – yang merupakan penyebab kedua kematian balita – ke lingkungan mereka sendiri dan kawasan hilir mereka. Lihat saja realitasnya, hampir 2.000 anak meninggal setiap hari akibat diare. Kerugian ekonomi akibat ketiadaan akses sanitasi di negara-negara berkembang mencapai angka US$ 260 triliun (Rp 2.396,68 triliun) per tahun.
Dampak dari sanitasi buruk merupakan inti dari berbagai hambatan yang dihadapi kaum miskin dalam upaya mencapai kesejahteraan – kesehatan, pendidikan, lingkungan, kesejahteraan, kesetaraan, dan harga diri. Imbal hasil dari investasi sanitasi sangatlah tinggi, terutama untuk kalangan miskin.
Insfrastruktur dan Perilaku
Dalam menggapai delapan target yang ditetapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs), Indonesia masih kesulitan untuk mencapai target peningkatan akses terhadap air bersih dan kualitas sanitasi. Naiknya populasi penduduk Indonesia setiap tahun membuat akses terhadap air bersih dan sanitasi semakin terhambat. Lantaran itu, Indonesia perlu upaya ekstra dalam meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih sebelum tahun 2015 apabila ingin mencapai target MDGs.
Adanya kesenjangan sosial antara penduduk di kota dan desa juga menjadi penyebab kualitas sanitasi dan air bersih di Indonesia kurang terjaga dengan baik. Kesenjangan sosial menentukan perilaku masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu. Banyak masyarakat kurang mampu yang masih menerapkan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) sehingga merusak lingkungan, selain itu masih banyak masyarakat di daerah yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih bahkan sampai menggunakan air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Di sinilah peran pemerintah, baik pusat maupun darerah perlu didorong untuk meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih dengan cara menambah alokasi dana dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dan APBD. Artinya pemerintah harus mulai memprioritaskan sanitasi dan air bersih sebagai salah satu target pembangunan. Idealnya, besarnya kurang lebih alokasi dana sanitasi dan air bersih dalam APBN sejajar dengan dana untuk pendidikan dan infrastruktur. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih sungguh menemukan relevansinya.
Menurut Bappenas, proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi yang layak di tahun 2013 masih dibawah 58 persen, sementara kalau merujuk target MDGs adalah pada angka 62 persen. Maka dapat kita perkirakan hampir 40 persen anak-anak Indonesia tumbuh dalam rumah tangga yang belum memiliki akses terhadap sanitasi layak. Berarti hampir separuh anak Indonesia terancam perkembangannya akibat buruknya sanitasi. Lebih mengherankan lagi, selama ini kita gaduh soal infrastruktur jalan tol yang lamban dibangun, ribut tentang infrastruktur rel kereta yang lambat bertambah, selalu protes keras tentang infrastruktur listrik yang tak memuaskan, tetapi lupa membangun infrastruktur sanitasi. Mirisnya, dari laporan Economic Impact of Sanitation in Indonesia kembali kita dapat mengutip data bahwa biaya pemulihan pencemaran air mencapai Rp 13,3 triliun per tahun. Biaya sebesar itu hampir sama dengan alokasi APBN bidang sanitasi yang dialokasikan untuk lima tahun. Sungguh, kita harus serius untuk membangun sanitasi supaya kerugian tak membengkak.
Kita harus menyingkirkan pandangan sinis terhadap pembangunan saluran pembuangan limbah, pembuangan sampah, hingga penjernihan air yang mungkin kini dipandang memboroskan anggaran atau tidak berdampak langsung, setidaknya bila dibandingkan pembangunan tol untuk mengatasi kemacetan. Pembangunan infrastruktur sanitasi harus dipandang sebagai investasi untuk masa depan. Pembangunan infrastruktur-infrastruktur itu merupakan pengejawantahan dari komitmen kuat pemerintah atas pembangunan sanitasi. Pada Sidang Umum PBB di akhir Juli 2010, Indonesia, misalnya, menjadi salah satu dari 122 negara yang menetapkan sanitasi sebagai hak asasi manusia. Indonesia juga termasuk ke dalam 189 negara pendukung Deklarasi Milenium yang menetapkan sanitasi sebagai sasaran Millenium Development Goals 2015.
Dalam konteks inilah, infrastruktur sanitasi sejatinya dinilai ampuh untuk memutus lingkaran setan kemiskinan-kematian-kemiskinan. Tanpa ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik, penyakit akan mendekat sehingga warga terpaksa ke dokter dan mengeluarkan dana untuk itu. Kemiskinan dan lingkungan juga terkait. Lingkungan akan terganggu jika masyarakat miskin.
Di tengah upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian PU yang memanfaatkan APBN yang terbatas bahkan sampai meminjam dari luar negeri guna membangun infrastruktur sanitasi dan air; tragisnya ternyata 76,3 persen dari 53 sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi telah tercemar bahan organik dan 11 sungai, terutama oleh amonium. Itu merupakan dampak dari perilaku pembuangan limbah yang sembarangan. Dengan demikian, bahwa masalah sanitasi di Indonesia bukan sekadar minimnya infrastruktur, melainkan juga buruknya perilaku.
Dalam meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih memang diperlukan upaya bersama tidak hanya pemerintah pusat maupun daerah namun anak anak muda atau mahasiswa juga bisa terlibat. Keterlibatan anak muda dalam meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih bisa dilakukan melalui social media, mahasiswa bisa menjadi anggota atau member dari MDGs Indonesia di Facebook maupun Twitter. Anak muda juga bisa ikut menyadarkan masyarakat, bahwa sanitasi dan air bersih merupakan salah satu bagian dari kesejahteraan masyarakat. Target MDGs yang hampir dicapai Indonesia adalah menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan pendidikan dasar, mendorong kesejahteraan gender, serta menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Peningkatan kesehatan yang ditandai oleh kondisi sanitasi yang lebih baik akan memungkinkan meningkatnya martabat kehidupan manusia : orang dewasa akan memiliki kesempatan waktu lebih berkualitas untuk bekerja, anak-anak usia sekolah bisa menempuh pendidikan dan belajar lebih baik, dan mampu bersosialisasi dengan kehidupan sosialnya bila mereka tidak sakit-sakitan. Akses terhadap sanitasi sehingga dapat buang air kecil dan besar secara sehat sejatinya sama pentingnya dengan kebutuhan makan, minum, istirahat, dan bernafas. Oleh karena itu, setiap kegiatan manusia harus mampu dipenuhi dan menjadi hak dasar, begitu juga untuk kegiatan bersanitasi.
Wallahu’alam Bhis-shawwab

——- *** ——–

Rate this article!
Sanitasimu, Masa Depanmu,5 / 5 ( 1votes )
Tags: