SAR Terpadu Pasca-gempa

Gunung Rinjani turut terguncang akibat gempa tektonik berkekuatan 6,4 Skala Richter di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lebih tiga ratus orang pendaki Rinjani terjebak, karena punggung gunung luruh, menutup rute pendakian. Bagai dua musibah saling ber-iringan. Korban “bawah” di sekitar kabupaten Lombok Utara, dan Lombok Timur, wajib segera ditolong evaluasi. Begitu pula korban “atas” di punggung Rinjani, memerlukan bantuan evakuasi yang lebih rumit.
Telah tercatat 14 korban jiwa di “bawah,” tertimpa reruntuhan bangunan, termasuk yang berada di dalam . Serta dua korban jiwa di”atas”di sekitar danau Segara Anak. Suasana di punggung Rinjani tak kalah kalut, karena diduga akan meletus tiba-tiba. Gunung Rinjani, merupakan gunung berapi (aktif) tertinggi kedua di Indonesia, setelah gunung Kerinci di Jambi. Gunung Rinjani, memiliki “anak” akibat desakan lava di danau Segara Anak, menjadi gunung Barujari.
Gunung Barujari, tergolong cukup aktif, sering meletus. Paling akhir pada 3 November 2015 (dan sepekan sebelumnya), tahun 2009, dan tahun 2004. Serta sebelumnya juga kerap meletus, antaralain tahun 1966, dan tahun 1944 (awal munculnya menjadi gunung berapi baru). Begitu pula gunung induk, Rinjani, juga kerap meletus. Sejak tahun 1847, tercatat telah terjadi 7 kali letusan, dengan interval antara 1 tahun (paling singkat) hingga 37 tahun (paling lama).
Dalam Babad Lombok, diceritakan gunung Rinjani memiliki “kembaran” yang berdampingan, bernama gunung Samalas. Para ahli vulkanologi memperkirakan pada tahun 1275, Samalas meletusdahsyat. Melebihi letusan gunung Krakatau (tahun 1883), maupun gunung Tambora (tahun 1815). Gunung Samalas, sudah terburai, kini menjadi danau Segara Anak.
Tetapi gempa vulkanik (meletusnya gunung berapi) biasanya diawali tanda-tanda. Sehingga otoritas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bisa meng-antisipasi.Sedang gempatektonik (pergerakan lempeng bumi), tanpa bisa diduga. Gempa tektonik terjadi di pulau Lombok, berpusat di daratan (perut bumi) sedalam 24 kilometer. Walau tidak berpotensi tsunami, namun guncangan terasa sampai di Bali (sebelah barat), dan Sumbawa (sebelah timur).
Guncangan yang hebat, diikuti gempa susulan (yang lebih kecil) lebih dari 130 kali. Sampai bisa menggoyang Rinjani, menyebabkan longsor. Jalur pendakian Senaru di kabupaten Lombok Utara dan rute via Sembalun di kabupaten Lombok Timur sudah tidak bisa dilewati karena tertutup material longsor dan bongkahan batu. Berdasar penuturan pemandu wisata pendakian, seluruh pendaki melakukan tiarap, sembari berdoa. Setelah guncangan mereda, para pendaki bergegas turun.
Suasana punggung Rinjani sampai puncak, biasa ramai pengunjung pada akhir pekan. Menyebabkan masih ratusan pendaki tertinggal di sekitar Segara Anak. Balai TNGR segera menyebar peringatan, termasuk melalui media sosial (medsos) kelompok, terutama ditujukan pada pemandu wisata. Diharapkan medsos bisa diterima seluruh pendaki. Isinya, disarankan, seluruh pendaki tidak bergerak jauh, sembari waspada keamanan lokasi.
Secara lex specialist, terdapat UU Nomor UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pada pasal 38 huruf b, diwajibkan adanya “kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya bencana.” Sebagai arena wisata gunung Rijani, niscaya telah diwaspadai berpotensi kebencanaan. Lebih lagi pulau Lombok bertebaran wahana wisata alam berkelas dunia.
Tim SAR (search and rescue), yang dikoordinasi oleh BNPP (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan) siaga bergerak. Bahkan tim SAR berbagai negara, di-koordinasi International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG, beranggota 80 negara), akan datang ke Indonesia secara langsung.

——— 000 ———

Rate this article!
SAR Terpadu Pasca-gempa,5 / 5 ( 1votes )
Tags: