Sarasehan Pusterad dan Media Massa, Wujud Edukasi Informasi di Masyarakat

Danpusterad, Letjen TNI Teguh Arief Indratmoko membuka sarasehan Pusterad dengan Media Massa, Rabu (13/10). [Abednego/bhirawa]

Bekasi, Bhirawa
Perkembangan informasi publik harus disikapi dengan bijak. Sehingga masyarakat bisa menyaring mana saja informasi yang benar adanya, dan juga mengetahui mana informasi yang bersifat hoaks (berita bohong).

Guna mewujudkan kebenaran isi informasi bagi masyarakat. Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) menggelar sarasehan bersama media massa di wilayah teritorial Kodam se-Indonesia, Rabu (13/10) di Hotel Horison, Bekasi, Jawa Barat.

Bertemakan “Refleksivitas Peran Media Massa Dalam Kegiatan Teritorial TNI AD”. Sarasehan dihadiri diantaranya Danpusterad, Letjen TNI Teguh Arief Indratmoko; Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Usman Kansong; Ketua Dewan Pers, M Nuh; perwakilan dari Pangdam Jaya, perwakilan Aster KSAD. Serta perwakilan media massa dari Kodam V/Brawijaya dan Kodam se-Indonesia.

“Silaturahmi ini dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia. Khususnya peran media massa dalam menyampaikan informasi kegiatan teritorial TNI AD maupun informasi publik yang terfaktual bagi masyarakat,” kata Danpusterad, Letjen TNI Teguh Arief Indratmoko dalam amanatnya.

Konsep pembinaan teritorial (binter), sambung Teguh, penyelenggaraannya dengan menggandeng semua elemen masyarakat, termasuk media. Dengan tujuan mengajak masyarakat untuk cerdas dalam menikmati informasi dari media massa. TNI AD mempunyai peran pembinaan masyarakat melalui kegiatan binter dengan mewujudkan ketahanan negara yang tangguh.

“Kecepatan informasi di era 4.0 menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Sama seperti Binter TNI AD yang bersinergi dengan media massa. Sehingga peran strategis media ini harus tetap dijaga dan dipertahankan sebagai pilar keempat dan kelima demokrasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Usman Kansong menjelaskan, kolaborasi yang baik antara TNI AD dan media massa dapat menggenjot informasi faktual bagi masyarakat. “Media massa merupakan pilar keempat dalam demokrasi. Sehingga perannya sangat penting dalam memajukan kehidupan bangsa dalam segala aspek. Dan ini perpaduan yang kuat,” jelasnya.

Begitu juga dengan teknologi yang mengalami kemajuan pesat, sambung Usman, di mana membuat informasi tersebut mudah disebarkan. Meski diakui Usman bila di beberapa daerah di Indonesia belum maksimal. Sehingga Pemerintah akan berupaya agar penyebaran teknologi ini menyebar rata.

Ditegaskan Usman, media massa harus bisa menyajikan berita yang dapat dipertanggungjawabkan. Poin itulah yang membedakan dengan media sosial. Sehingga nilai faktual dari informasi atau pemberitaan media massa dapat benar-benar dikomsumsi masyarakat.

“Berita adalah informasi yang terkonfirmasi, sehingga jangan sekadar katanya-katanya. Sehingga tidak ada yang merasa dirugikan,” tegasnya.

Sedangkan Ketua Dewan Pers, M Nuh dalam sarasehan ini menjelaskan bila peran jurnalistik dalam menggali informasi untuk disajikan kepada masyarakat hurus aktual, faktual, dan berimbang. Yang tidak kalah penting yakni menguasi bahasa sehingga tidak terjadi miss komunikasi.

“Bahasa yang digunakan menunjukkan derajat orang tersebut. Jangan sampai dampak dari berita tersebut tidak membuat masyarakat semakin pintar,” kata M Nuh.

Masih menurut M Nuh, bila dulu untuk mendapatkan informasi sangatlah sulit, namun untuk zaman sekarang seorang jurnalis harus pandai menyaring informasi. Sebab begitu mudah sumber informasi tersebut bermunculan.

“Kini ketika kita menerima informasi, filternya ada di kepala kita, sehingga media massa harus bisa menjadi dokter yang bagus. Sehingga ketika masyarakat mendapat informasi dari media sosial mereka bisa melakukan cek di media massa, bila tidak ada berita tersebut berarti kemungkinan besar hoaks,” pungkasnya. [bed]

Tags: