SDM Pertanian di Era Digital

Oleh :
Harun Rasyid
Dosen FPP Universitas Muhmammadiyah Malang

Pertanian di era digital saat ini sangatlah berbeda dengan pertanian masa lalu. Pasalnya, pertanian saat ini, bukan hanya tentang makan. Namun, lebih dari itu pertanian sekarang adalah bagian dari lapangan kerja. Bahkan, pertanian itu mampu memperkuat perekonomian suatu daerah dan negeri ini. Oleh sebab itu, peningkatan sumber daya manusia (SDM) tidak hanya dibatasi peningkatan produktivitas petani. Namun, juga peningkatan kemampuan petani untuk lebih berperan dalam proses pembangunan.

Penguatan SDM pertanian

Indonesia merupakan negara pertanian yang artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk dan tenaga kerja yang hidup atau bekerja dari sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari pertanian. Menurut Suryana (2003) sektor pertanian dengan produksi berbagai komoditas bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan nasional, telah menunjukkan kontribusi yang sangat signifikan.

Melansir data BPS, sektor pertanian tumbuh positif pada triwulan II 2020 PDB sektor pertanian tumbuh 16,24 persen quarter to quarter. Ekspor produk pertanian juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Nilai ekspor kumulatif selama Januari- Desember 2020 mencapai 451,8 triliun atau meningkat 15,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 390,2 triliun, (Republika, 4/6/2021)

Namun, kendati demikian kebutuhan pangan akan terus meningkat dalam jumlah, keragaman, dan mutunya, seiring dengan perkembangan populasi kualitas hidup masyarakat. Jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar dari data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri, 2021) menyatakan jumlah penduduk Indonesia, sekitar 271.349.889 jiwa dan terus bertambah 1,6 persen per tahun, membutuhkan ketersediaan pangan yang cukup besar, yang tentunya akan memerlukan upaya dan sumberdaya yang besar untuk memenuhinya.

Realitas pangan dan laju pertumbuhan penduduk tersebut, tentu perlu terantisipasi dan termenejemen dengan baik. Pasalnya, tanpa manajemen SDM yang handal, pengelolaan, penggunaan dan pemanfaatan sumber – sumber lainnya menjadi tidak berdaya guna dan berhasil guna. Dalam situasi demikian tidak mustahil gambaran tentang usaha pencapaian tujuan nasional menjadi kabur yang pada gilirannya dapat berakibat pada kegelisahan atau keresahan di kalangan masyarakat.

Menjadi logis adanya jika pemenuhan pangan menjadi isu yang sensitif di dalam pembangunan karena akan mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemenuhan pangan sangat ditentukan oleh ketersediaan pangan yang bergizi yang didukung dengan pengetahuan tentang gizi yang baik sebagai akibat dari semakin baiknya kualitas SDM. Sekaligus, guna mendukung pemenuhan pangan agar dapat mencapai ketahanan dan kedaulan pangan maka urgent adanya jika penguatan SDM pertanian sangat mutlak perlu dihadirkan dan termanajemen dengan baik.

Manajemen SDM pertanian

Indonesia sebagai negara agraris dengan pertanian sebagai salah satu sektor utama dalam pembangunan bangsa. Maka, idealnya hampir bisa dipastikan seluruh kegiatan perekonomian Indonesia berpusat pada sektor pertanian. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sehingga hal ini menjadikan sektor pertanian sebagai sektor penting dalam roda struktural perekonomian Indonesia. Berangkat dari kenyataan itulah, maka menjadi ideal adanya jika SDM pertanian perlu termanajemen dengan baik. Nah, berikut ini ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memenajamen SDM pertanian di era digital agar SDM pertanian bisa tetap eksis di tengah berbagai tantangan.

Pertama, mendorong keterlibatan SDM dalam kemajuan sektor pertanian mulai dari hulu hingga hilir dengan membangun pertanian berskala ekonomi dan bisnis dengan melibatkan teknologi pertanian yang modern sehingga mutlak adanya untuk meningkatkan SDM pertanian agar memiliki kemampuan dalam skill dalam penguasaan teknologi dan informasi.

Kedua, membantu petani dalam sertifikasi lahan, mendorong pengelolaan dan konsolidasi lahan, advokasi petani dalam pengelolaan warisan agar tidak terbagi menjadi lahan sempit dalam upaya mengurangi segmentasi lahan. Upaya-upaya tersebut dimaksudkan untuk menekan laju alih fungsi lahan pertanian dan segmentasi lahan, serta mendorong pengembangan usaha tani berskala ekonomi.

Ketiga, melakukan pemberdayaan pertanian, yakni petani dan penyuluh sebagai agen utama pertanian. Oleh sebab itu, revitasilasi kinerja kelembagaan dan penyuluh pertanian akan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan SDM pertanian. Selain itu pemberian ruang yang cukup untuk sektor swasta melalui privatiasi penyuluhan juga akan mendorong terciptanya penyediaan layanan informasi pertanian yang lebih kompetitif, efisien, dan efektif.

Keempat, mendorong petani untuk menggunakan sistem pemupukan berimbang yang diintegrasikan dengan pupuk organik, dan menerapan praktek budidaya pertanian yang tepat guna dan ramah lingkungan.

Kelima, meghadirkan pengadaan berbagai penyuluhan kepada petani lokal di setiap daerah tentang penerapan teknologi pertanian dan keuntungannya serta mengajak para petani lokal untuk beralih dari cara-cara konvensional menuju cara-cara yang lebih modern. Termasuk, pengembangan dan memantapkan kelembagaan petani pemakai air, serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, penyadaran, kepedulian dan partisipasi petani.

Melalui kelima menajamen SDM pertanian di era digital tersebut diatas, besar kemungkinan jika teraplikasikan dengan baik maka besar kemungkinan akan memberikan kontribusi yang baik bagi sektor pertanian di negeri ini. Sehingga, dengan begitu potensi SDM sektor pertanian di negeri dapat tereksplorasi dan termanajemen dengan baik.

——— *** ———

Rate this article!
Tags: