Sebaran Kasus Positif Covid-19 Makin Meluas, Sidoarjo dan Magetan Susul Malang dan Surabaya

Pemprov, Bhirawa
Jumlah kasus terkait virus corona di Jawa Timur terus menunjukkan angka peningkatan. Bahkan, sebaran daerah yang terjangkit juga semakin meluas. Jika kemarin hanya Surabaya dan Malang yang diketahui merawat pasien positif Covid-19, kini bertambah di Sidoarjo dan Magetan, Sabtu (21/3).
Berdasar hasil pendataan yang dilakukan Pemprov Jatim, jumlah kasus terkait Covid-19 telah menjadi 898 orang. Secara rinci, jumlah positif sebanyak 26 kasus meningkat 11 kasus dari kemarin. Sementara Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mencapai 79 kasus dan status Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 793 kasus. “Terbanyak di Surabaya 20 yang positif dan 110 yang tercatat ODP serta 13 PDP,” tutur Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi.
Dijelaskannya, masuk dalam catatan tambahan adalah Kabupaten Magetan tiga orang positif dan Sidoarjo satu positif. Sementara Malang raya tetap dua pasien positif. “Dengan bertambahnya kasus covid-19, maka kami kembali mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kebersamaan untuk bisa memaksimalkan langkah-langkah pencegahan serta penyebaran dari covid-19,” tutur Khofifah.
Pencegahan menurutnya menjadi sangat penting, apakah dengan menjaga jarak sosial (social distance), olahraga atau tinggal di rumah saja dan keluar hanya untuk kepentingan-kepentingan yang sangat mendesak. “Kemudian pola hidup bersih dan sehat serta pola cuci tangan yang tepat juga sangat penting. Kami juga menginbau agar masyarakat tidak melakukan sesuatu yang menjadikan suasana menjadi panik,” ungkap orang nomor satu di Jatim tersebut.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengimbau agar jajaran pemerintah desa semakin optimal melakukan berbagai upaya pencegahan. Mulai dari kepala desa/lurah, kepala dusun, RT/RW hingga karang taruna serta posyandu dan polindes. “Kami berharap agar masing-masing mengajak masyarakat di wilayahnya untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat dan memastikan warga tinggal di rumah,” tutur Khofifah.
Terkait dengan keramaian, Khofifah juga menegaskan bahwa dengan sebaran data yang ada, maka seluruh tempat wisata diharapkan segera ditutup. “Tempat hiburan malam, diskotik, kami mohon segera ditutup. Hal-hal yang memungkinkan terjadinya penularan mari kita bersama-sama mengajak supaya bisa mencegah penyebaran covid-19,” sambung mantan Menteri Sosial RI tersebut.
Berkaitan dengan angka PDP yang meningkat, pemprov juga mengambil keputusan untuk mengkaver pembiayaan tes bagi pasien dengan status PDP. Karena itu, pasien yang telah terkonfirmasi PDP diharapkan segera minta rujukan ke rumah sakit yang telah masuk dalam daftar rujukan agar mereka bisa menndapat kesempatan pertama untuk swap. “Jadi kalau untuk PDP yang positif, maka biaya ditanggung pusat. Sedangkan PDP yang diswap negatif, kan tetap harus dibayar, maka itu yang akan ditanggung pembiayaannya Pemprov,” tutur Khofifah.
Sementara itu, Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi menuturkan, dari total pasien yang positif, sebagian besar atau sekitar 80 persen dalam kondisi baik. Selebihnya, adalah pasien yang menggunakan ventilator hingga kondisi berat. “Yang dirawat positif ada beberapa yang tidak memerlukan ventilator ada pula yang menggunakan ventilator. Di RSUD Dr Soetomo, pasien yang menggunakan ventilator perkembangannya makin hari makin baik. Informasi dari RSUD Saiful Anwar juga demikian,” kata dr Joni.
Disinggung terkait tenaga medis yang rentan tertular Covid-19, dr Joni mengakui bahwa mereka yang merawat pasien sebenarnya adalah ODR. Karena itu, persiapan diri sebelum merawat pasien harus dilakukan sebaik mungkin. “Kita tahu covid sampai saat ini baru diketahui penularannya lewat percikan, menempel di sesuatu yang menjadi terkontaminasi. Maka kebersihan dan social distance menjadi syarat utama. Sehingga tenaga medis juga diimbau tidak terlalu dekat dengan pasien,” tutur dia.
Secara epidemologis, kata Dirut RSUD Dr Soetomo tersebut, bukan virus corona yang ganars, tapi cara penularannya yang luar biasa. Hal yang menjadi masalah karena saat masa inkubasi, orang yang sehat saja bisa menularkan. “Tenaga kesehatan sudah sepakat, bahwa yang ada di front liner harus menggunakan APD lengkap. Harus, harus taat betul. Tapi yang biasanya tertular adalah saat kontak ketika belum positif dan yang bersangkutan tidak menggunakan APD sesuai standar,” pungkas dr Joni. [tam]

Tags: