Sejumlah Kios Mulai Kehabisan Stok Elpiji Melon

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Surabaya, Bhirawa
Setelah diumumkannya kenaikan harga gas elpiji 12 kg oleh Pertamina pada 2 Januari kemarin, beberapa kios penjual elpiji 3 kg  di wilayah Surabaya seperti daerah Tenggilis, Bendul Merisi, Jemur Andayani, Bratang, Pucang Anom mulai kehabisan stok dan belum ada kiriman dari agen ataupun pangkalan besar. Banyak warga pengguna elpiji 12 kg beralih ke  elpiji 3 kg untuk menyiasati membengkaknya pengeluaran, akibatnya dalam beberapa hari terakhir permintaan elpiji 3 kg meningkat tajam. Di tingkat eceran, harga elpiji 3 kg bervariasi antara Rp 17.000-20.000, sedangkan elpiji 12 kg bervariasi antara Rp 140.00 -145.00.
Sarminto pemilik kios elpiji di Bendul Merisi, mengatakan 30 tabung elpiji 3 kg yang dimilikinya telah habis dibeli oleh warga sekitar perumahan Bendul Merisi Selatan dalam sekejap. Padahal banyak dari warga tersebut merupakan warga yang berkecukupan.
“Tabung 3 kg sudah habis sejak 4 hari diumumkan kenaikan harga elpiji 12 kg.  Ada yang beli sekalian tabungnya, tidak hanya tukar tabung saja. Kalau saya bertanya kepada pembeli, karena selisih harga yang semakin melebar sehingga mereka banyak yang beralih membeli ke elpiji 3 kg,” jelasnya Rabu (7/1) kemarin.
Ada dari mereka yang membeli elpiji melon tersebut sampai 4 tabung karena besarnya tingkat kebutuhan yang diperlukan setiap harinya. Selain itu, dengan elpiji 3 kg, mereka dapat menghemat pengeluaran setiap harinya.  Jika mereka membeli 4 tabung sekaligus, jatuhnya sama dengan penggunaan elpiji 12 kg, namun harga yang didapat lebih murah. ” Harga sembako saja sudah naik, tentu untuk menyiasati besarnya pengeluaran tiap bulan setiap keluarga ya harus beralih ke elpiji 3 kg yang disubsidi,” ujarnya.
Sementara itu, Wahyuni, agen elpiji 3 kg dan 12 kg di Tenggilis Lama mengungkapkan  sebagian besar pemilik kios atau tempat penjualan elpiji mengaku kesulitan mendapat pasokan dari distributor karena permintaan tinggi, sedangkan stok mulai menipis, bahkan tidak ada. “Biasanya kami punya stok tambahan, tapi sekarang tak bisa lagi. Setiap kali elpiji masuk, selalu habis dibeli masyarakat dalam waktu singkat,” kata wanita berhijab ini.
Kelangkaan elpiji 3 kg tersebut dipicu oleh melonjaknya permintaan konsumen, sedangkan kios tak bisa meminta penambahan pasokan karena pihak distributor juga belum bisa mendapat penambahan pasokan. “Pasokan untuk kami memang sudah dijatah. Penambahan pasokan sebenarnya bisa dilakukan, tapi sekarang memang terjadi kelangkaan di tingkat distributor,” ujarnya.
Dengan kondisi ini warga kian kewalahan mendapat elpiji 3 kg. Bahkan, konsumen harus keliling ke tempat-tempat yang jauh untuk memperoleh elpiji  subsidi ini.
Sementara itu dari Kota Madiun dilaporkan pasca kenaikan elpiji ini, para pelaku bisnis kuliner atau penjual makanan  banyak yang kelimpungan. Salah satu pedagang makanan di wilayah Kecamatan Taman Kota Madiun, Wiji alias Kancil (47) mengatakan, ketika elpiji 12 kg belum naik, dia masih mendapatkan keuntungan yang lumayan dari berjualan kopi dan jajan gorengan. Namun setelah ada kenaikan, keuntungan yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari.
“Repot juga. Mau kita naikkan harga jajanannya, nanti pembeli lari. Kalau tidak kita naikkan, keuntungan tipis. Saya kan pakai elpiji 12 kg, biar tidak bolak-balik beli. Tapi kalau mahal seperti ini, saya mau pakai tabung kecil (3 Kg) saja,” kata Wiji kepada wartawan, Rabu (7/1).
Hal senada juga terlontar dari pengusaha kuliner bebek goreng di Jalan Soekarno-Hatta Kota Madiun, Budi (46). Menurutnya, sejak harga elpiji 12 kg naik, otomatis biaya yang dikeluarkan juga tinggi. Apalagi, dirinya juga harus membayar dua orang pembantu. “Dengan kenaikan elpiji 12 kg,  yang pasti secara otomatis menambah biaya operasional. Apalagi saya juga harus membayar pembantu. Padahal saya setiap hari membutuhkan elpiji 12 kg. Soalnya kalau pakai yang 3 kg, cepat habis,” terang Budi.
Padahal setelah kenaikan harga BBM November yang lalu, lanjut Budi, dia tidak menaikkan harga menu bebek gorengnya. Karena itu, setelah Pertamina mengumumkan kenaikan harga elpiji 12 kg, dia berusaha untuk memutar otak agar bisa tetap eksis dan tidak ditinggal pelanggan. “Sewaktu bensin naik saya berusaha tidak menaikkan harga. Karena itu, pelanggan tetap ramai. Tapi karena sekarang elpiji naik, entah kapan waktunya, harga makanan yang saya jual akan saya naikkan. La daripada merugi, siapa yang mau nomboki,” pungkas Budi. Untuk diketahui, harga elpiji 12 kg di Kota Madiun, naik Rp 11 ribu per tabung. Harga yang semula Rp 132 ribu menjadi Rp 143 ribu/tabung. Sedangkan harga elpiji 3 kg di tingkat eceran, sebesar Rp 17.500-18.000.

Bom Waktu
Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri  mengatakan kenaikan elpiji 12 kg dapat menjadi bom waktu jika tidak berhati-hati. Sebab, kenaikan tersebut akan menambah permasalahan, terlebih persoalan BBM dinilai masih belum selesai. “Masalah kan tidak berhenti-henti. Jangan sampai elpiji jadi bom waktu deh,” kata Faisal Basri.
Faisal melanjutkan, bahwa permasalahan BBM masih belum selesai saat ini. Dengan kenaikan elpiji memang dapat menjadi beban masyarakat. “BBM belum selesai, elpiji naik,” kata dia.
Menurutnya, terkait minyak dan gas tersebut seharusnya perlu dikaji lebih dalam agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar beberapa tahun mendatang. “Jangan sampai nanti lima tahun lagi BBM ada masalah lagi,” tambah dia. [wil,dar]

Tags: