Sekolah “Normal” Terbatas

Rindu berangkat ke sekolah. Sebagian murid sudah “jemu” belajar di rumah melalui zoom, selama setahun. Anak-anak sudah mulai mendesak orangtua melakukan belajar tatap muka di sekolah, bertemu guru dan teman. Pengharapan sekolah tatap muka akan segera terwujud, setelah seluruh guru, dan murid memperoleh vaksinasi. Tahun ajaran baru 2021 bisa dimulai masuk sekolah normal dengan melaksanakan (ketat) protokol kesehatan (Prokes). Terutama pada zona “hijau,” dan zona “kuning.”

Ke-ceria-an memulai sekolah dengan mengenakan seragam, masih menjadi pengharapan setiap murid. Hingga kini pembukaan pembelajaran secata tatap muka masih tentatif. Boleh dibuka melalui rekomendasi Pemerintah Daerah (Dinas Kesehatan) dengan persetujuan sekolah, dan orangtua murid. Hanya di-izin-kan pada zona hijau. Sekolah bisa mengatur jumlah murid yang hadir di sekolah, tak lebih 28 anak. Murid juga boleh memilih tetap belajar jarak jauh melalui zoom, tetap di rumah.

Gagasan sekolah tatap muka dengan protokol kesehatan (Prokes) digagas Presiden Jokowi setelah meninjau vaksinasi CoViD-19 untuk kalangan tenaga pendidik. Selingkup nasional, jumlah tenaga pendidik (tidak termasuk dosen pada peguruan tinggi) sebanyak 2,7 juta orang. Rinciannya, guru SD sebanyak 1,446 juta, guru SMP sebanyak 640.050, dan guru SMA-SMK 612.141 orang. Sedangkan jumlah siswa sebanyak 45.534.371 anak. Secara perbandingan jumlah guru hanya 5,9% jumlah siswa.

Propinsi dengan jumlah guru terbanyak, adalah Jawa Barat (370.757 orang), Jawa Timur (325.531 orang), dan Jawa Tengah (293.165 orang), serta Sulawesi Selatan (115.378 orang). Vaksinasi tenaga pendidik dimulai pada 24 Pebruari, dengan sasaran sebanyak 5,1 juta guru dan tenaga pengajar perguruan tinggi. Termasuk penjaga sekolah, dan tenaga administrasi sekolah dan kampus.

Namun PDAI (Persatuan Dokter Anak Indonesia) masih mengkhawatirkan sekolah bisa menjadi kluster pewabahan CoViD-19. Kecuali seluruh siswa telah divaksinasi CoViD-19. Juga diberlakukan Prokes 3M, dan hanya boleh dilaksanakan belajar tatap muka pada zona hijau. Sudah banyak daerah kabupaten dan kota telah lepas dari status zona merah. Tetapi masih sangat jarang zona hijau.

Namun sesuai asas “zonasi” sekolah berbasis kecamatan, sudah ribuan wilayah kecamatan tergolong zona hijau. Berdasar catatan Satgas CoViD-19, terdapat tambahan zona hijau sebanyak 137 kabupaten dan kota. Sedangkan zona merah (tingkat pewabahan tinggi) makin berkurang, termasuk Jawa Timur. Tetapi di seantero Jawa belum terdapat zona hijau.

Berdasar pola PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berbasis tingkat RT dan RW, maka status zona merah juga dipersempit. Maka sekolah tatap muka harus mempertimbangkan area (se-RW) lokasi sekolah, sekaligus area (se- RW) tempat tinggal siswa. Sehingga zona hijau, secara tentatif, boleh mulai membuka kelas sekolah tatap muka dengan Prokes 3M ketat. Serta isi ruang kelas hanya sebanyak 18 siswa.

Sedang kawasan zona kuning, oranye, dan terutama merah, tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), dengan materi ajar yang sama. Pemerintah bertanggungjawab menjamin akses internet setiap daerah zona merah, oranye, dan kuning. Termasuk mengirim bahan pembelajaran pada peserta didik yang tidak memiliki sarana teknologi informasi. Namun seluruh sekolah, pada seluruh jenjang pendidikan telah siap melaksanakan pembelajaran, secara PJJ maupun secara tatap muka.

Mulai masuk sekolah,(tatap muka) menjadi wahana kebahagiaan setiap peserta didik. Mengenakan seragam sekolah bagai penglipur kesepian selama setahun menjalani PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dan PPKM. Pendidikan tergolong sebagai HAM (Hak Asasi Manusia) diamanatkan konstitusi. Namun sekolah juga wajib diatur selaras suasana keselamatan peserta didik, dan tenaga kependidikan.

——— 000 ———

Rate this article!
Tags: