Seks dalam Balutan Hijab

Seks dalam Balutan Hijab

Seks dalam Balutan Hijab

Judul Buku      : Seks & Hijab; Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah
Penulis             : Shereen El Feki
Penerbit           : Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan           : Pertama, 2013
Tebal               : 444 halaman
Peresensi   : Lusiana Dewi
Pengajar di RA DWP UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dunia Arab yang kita kenal merupakan sebuah dunia yang kental dengan nuansa religiusnya (Islam). Para perempuannya mengenakan hijab sebagai busananya. Hijab menjadi simbol tersendiri bagi kaum perempuan Arab. Namun demikian, ada sesuatu yang kontras di balik hijab itu. Hal itu sebagaimana yang dikemukakan oleh Shereen El Feki dalam buku yang berjudul “Seks & Hijab; Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah” ini. Di dalamnya, penulis mengulas tentang sesuatu yang ada di balik hijab tersebut, yakni gairah seksualitas kaum hawa di Arab, terutama Mesir.
Dengan sangat gamblang, Shereen mengungkap sisi lain tentang para perempuan Arab. Dia menguraikannya dengan begitu jelas tentang kehidupan seksual masyarakat Arab yang terjalin erat dalam agama dan tradisi, politik dan ekonomi, serta gender dan generasi. Shereen melalui laporan ini menampilkan informasi terbaru dan segar tentang sejarah seksual di dunia Arab; dari tabu seks pranikah sampai urusan suami-istri di tempat tidur; dari tulisan hangat terkait seks sampai film porno; dari perdebatan ihwal pendidikan seks dan aborsi hingga perbincangan perihal single parent tanpa nikah; dari booming seks komersial sampai perjuangan kaum heteroseksual (hlm. 19).
Tidak ada yang ditutup-tutupi oleh Shereen. Dia hanya menginformasikan sesuai apa yang dilihatnya. Dunia Arab ternyata bukan hanya religiusitas, melainkan seksualitas yang berada di luar koridor keabsahan perspektif agama juga turut menjadi realitas. Hal itu seperti dua sisi mata uang, yang satu membelakangi yang lainnya. Mesir, yang merupakan bagian dari dunia Arab, secara tersembunyi telah menampilkan tabir-tabir ketabuan seksual. Ternyata memang sudah lazim dan tetap tersembunyi, pelacuran menjadi salah satu jalan yang ditempuh oleh sebagian kaum perempuan Mesir tersebut. Sebagaimana lazimnya, berbagai alasan ada di balik pelacuran tersebut; kenapa mereka melacur?
Profesi seks bisa dibilang merupakan kisah sukses kebijakan infitah Mesir, kemenangan sektor swasta yang menawarkan berbagai layanan untuk memenuhi segala jenis selera dan anggaran-meskipun dengan ongkos manusia yang mahal. Profesi seks merupakan salah satu cerminan paling jelas dari kekuasaan petriarki yang sedang berlangsung di Mesir dan dunia Arab yang lebih luas, dan suatu ukuran betapa tak konsistennya individu dan masyarakat mereka mengenai masalah seks, mengklaim ketaatan pada hukum Islam sementara pada saat yang sama mengabaikan, atau bahkan melakukan, eksploitasi dan pelecehan terhadap mereka yang berada di dalam bisnis tersebut, baik dengan kemauan atau paksaan (hlm. 284).
Masyarakat Mesir merupakan masyarakat yang jarang memperbincangkan seks, tetapi banyak dari mereka yang melakukan praktiknya dengan pasangan tidak sah mereka. Dengan kata lain, pelacuran di Mesir merupakan bagian terselubung dan tetap aman untuk dilakukan meskipun ada jeratan hukumnya.
Fenomena seks dan pelacuran tersebut seperti hendak menyangkal bahwa agama yang tegas mengharamkannya ternyata hanya ada di dalam ucapan para ulama. Sementara itu, konsistensi fenomena pelacuran menjadi sisi hitam dan kelam di balik ketaatan beragama. Lebih dari itu, berbagai aspek justru menjadi latar belakangnya; tuntutan ekonomi, kekotoran perilaku politik, konservativisme tradisi, dan kedok salah agama berbaur menjadi satu dan memunculkan wajah seks di balik balutan hijab.
Padahal, negara (Mesir) pun pada dasarnya telah melarang perilaku asusila yang menyimpang tersebut. Pekerja seks komersial termasuk ilegal di Mesir, dengan hukuman paling lama tiga tahun penjara dan denda 300 pound Mesir (50 dolar AS) kepada “setiap orang yang biasa mempraktikkan tindakan asusila atau pelacuran”, serta hukuman bagi mereka yang membantu atau bersekongkol dalam praktik tersebut, meskipun para pelanggan tetap lolos dari jeratan ini (hlm 238).
Tidak bisa dibantah lagi bahwa penelusuran yang dilakukan oleh Shereen El Feki, seorang penulis dan jurnalis keturunan Mesir-Inggris tersebut benar-benar telah membuka mata publik tentang sesuatu yang ada di balik hijab masyarakat Mesir secara khusus dan masyarakat Arab secara umum. Balutan indah hijab ternyata menyimpan sesuatu yang tidak pantas bersandang hijab.
Dengan membaca buku yang berjudul “Seks & Hijab; Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah” ini, para pembaca diajak untuk menelusuri seks di balik hijab. Tautan seks (pelacuran) dengan hijab (agama) memang tidak bisa disambungkan karena pelacuran merupakan larangan agama.
Arab yang dulunya begitu religius, realitas yang ada kini berkata lain. Balutan ayat-ayat suci yang berupa firman Tuhan ternyata telah bercampur aduk dengan bisikan dari setan yang terkutuk berupa seks pelacuran. Lebih dari itu, hijab yang seharusnya menjadi mediasi penolakan seks secara haram, ternyata tidak diartikan demikian, justru menjadi naungan untuk menutupi kebejatan moral.

Rate this article!
Seks dalam Balutan Hijab,5 / 5 ( 1votes )
Tags: