Sektor Pertanian Harus Miliki Kebijakan Agribisnis

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak (kiri) menanam pohon saat kunjungan kerja dan memantau sektor pertanian di Kabupaten.

Surabaya, Bhirawa
Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menilai sektor pertanian harus memiliki sudut pandang kebijakan agribisnis, terlebih saat ini sedang terjadi pandemi Covid-19.
“Terutama komoditas buah dan florikultura. Harapannya, kebijakan ini tidak bisa dipisahkan dengan agribisnis sehingga ini menjadi tantangan,” ujarnya di Surabaya, Senin (20/9).
Kebijakan agribisnis, kata dia, diharapkan tidak menjadi “kelatahan”, melainkan memiliki waktu untuk terus mengembangkan dari segi kualitasnya. “Kalau satu menanam porang, maka semua tidak harus menanam porang. Jadi ada waktu-waktunya,” ucap dia.
Orang nomor dua di Pemprov Jatim tersebut mengapresiasi upaya untuk menghasilkan ekonomi keahlian yang diluncurkan Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Yakni, membangun kawasan 200 kampung buah dan sayur, serta diagregasi di lahan seluas 10 hektare. “Di Jawa Timur, sepertiga penduduknya bekerja di sektor pertanian. Namun PDRB-nya hanya dikisaran 11 hingga 13 persen,” kata dia.
Terkait persoalan pandemi Covid-19 yang saat ini mulai menurun, Emil Dardak berharap pemulihan ekonomi dapat kembali bangkit, dan di sektor pertanian hortikultura memiliki potensi cukup besar, utamanya di hulu hingga hilir.
Ia juga menyatakan bahwa Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memiliki perhatian luar biasa dalam sektor pertanian, dan harapannya terdapat Belanja Inovasi (Belanova). “Atensi kami tahun lalu di sektor kesehatan, namun tahun ini saatnya melirik ke sektor pertanian. Pemerintah harus paling depan untuk mendorong inovasi, bukan hanya menerima saat sudah matang,” tuturnya.
Di sisi lain, Wagub Jatim pada Minggu (19/9) hadir pada proses penandatanganan komitmen antara Universitas Brawijaya (UB) dan Pemkab Malang yang diselenggarakan di UB Forest Malang.
Bupati Malang Sanusi mengatakan pemkab akan terus mengembangkan komoditi Alpukat Pemeling, apalagi potensi tersebut sudah mendapat apresiasi dari Presiden RI Joko Widodo karena hak ukurannya yang besar.
“Alpukat ini berasal dari Wonorejo, Lawang. Asal bibit dan induknya menjadi nominasi holtikultural se Indonesia. Pak Presiden tertarik dan layak dijadikan alpukat terbaik di Indonesia. Sehingga, Pak Presiden meminta untuk pengembangan 1 juta bibit yang akan disebar di Indonesia,” katanya. [ant]

Tags: