Seleksi KI – KPU di Jatim Disinyalir Rawan Titipan

carokSurabaya, Bhirawa
Pelaksanaan seleksi Komisi Informasi (KI) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di sejumlah kabupaten/kota se-Jatim baru dilakukan. Namun JPPR Jatim dan Pusat Infornasi Rakyat (PIR) Jatim mengindikasikan banyak muatan titipan.
Salah satu indikasinya adalah ada beberapa calon komisioner lolos dalam 10 besar  baik di Komisi Informasi (KI) Jatim maupun di KPU Kabupaten/Kota.
Disampiakan M Yanto koordinator PIR Jatim didampingi  Koordinator JPPR Jatim, Aris As’ad  mengaku jika diantara peserta KI maupun KPU ada yang rangkap jabatan.
Hal ini tentunya akan merugikan keuangan negara. Sesuai aturan dan ketentuan, komisioner tidak bisa merangkap pada kelembagaan berbeda dalam waktu bersamaan.
“Kalau ada yang dobel, jelas ada kebutuhan anggaran lebih. Dan ini, bisa juga disebut pemborosan,” terang  Aris As’ad, Rabu(21/5).
Sementara itu, M Yanto, menegaskan terkait sikap timsel KPU Surabaya yang meloloskan Nurul Amalia dan Wahyu Kuncoro di  di 10 besar di Komisi Pemilihan Umum (KPU), padahal yang bersangkutan juga lolos 15 besar fit and propertest di Komisi Informasi (KI)  Jatim dengan waktu yang bersamaan.
Lebih lanjut, Suyanto menegaskan dengan mendaftar dibanyak lembaga pemerintah, mengindikasikan calon komisioner tersebut bukan untuk kepentingan mengawal demokrasi.
Namun, ada niatan tertentu, salah satunya mencari pekerjaan di komisi-komisi yang dibentuk Komisi A DPRD Jatim maupun Pemerintah Propinsi Jawa Timur.
“Semisal Wahyu Kuncoro yang dulu sudah pernah jadi Komisi Pelayanan Publik (KPP) dan Nurul Amalia sudah pernah jadi KPU Surabaya 2004-2009 dan jadi komisioner Komisi Informasi Jatim 2010-2014. Kenapa Timsel tidak selektif. Apa tidak ada resiko kalau keduanya di terima di kedua komisioner baik di KI Jatim dan KPU Surabaya,” ujar dia. [cty]

Tags: