Selepas Hujan di Sebuah Kedai Kopi

Tidak terlihat bintang di langit malam itu. Mungkin karena awan mendung masih menggelayut sedikit di angkasa. Bau hujan masih terasa. Walau tak ada sisa gerimis. Beberapa genangan kecil tampak di jalan maupun trotoar.

Seorang lelaki yang sedang menikmati sebatang rokok yang tinggal separo duduk di kedai kopi. Secangkir kopi panas dan setangkup roti bakar khas Bandung di hadapannya. Sebotol air mineral turut menemani.

Kedai itu berlokasi di halaman kantor pos. Atapnya adalah payung-payung besar yang melingkupi empat kursi plastik dan meja yang melingkari tiang payung. Hanya ada lelaki itu di kedai seberang Gedung Negara Grahadi, pusat kota Surabaya tersebut. Tentu, seorang penjaga kedai di bawah payung besar berwarna-warni yang lain.

Lima belas menit setelah duduk di sana, seorang kawan lama menghampiri. Kawan dengan postur kurus, bertopi hijau, dan memakai tas ransel murahan. Kemeja kotak-kotak, celana jeans, dan sandal gunung bermerk. Mereka pun saling bertukar sapa dan memulai obrolan.

“Bagaimana, kabar beasiswamu, Safar Batutah?” tanya lelaki berusia tiga puluhan tahun itu seraya membuang puntung rokok dan menginjaknya. “Alhamdulillah, Cak Ri. Tampaknya, aku dapat. Dan aku milih kuliah yang di dekat tempat aku mengajar saja,” jawab Safar Batutah, merujuk sebuah kampus di Surabaya Barat yang tidak jauh dari sebuah sekolah internasional tempat dia mengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Perbincangan mereka terjeda. Safar Batutah memutuskan untuk mendatangi penjaga kedai dan memesan secangkir kopi tanpa gula. Kopi robusta dari Dampit, Malang.

Cak Ri dan Safar Batutah adalah dua kawan lama yang jarang berjumpa. Meski tinggal di kota yang sama. Namun, mereka masih sering bertukar salam, berbagi kabar, melalui media sosial: facebook dan Instagram. Cak Ri lebih tua dua tahun dari Safar Batutah. Sepuluh tahun yang lalu, mereka sama-sama tercatat sebagai reporter majalah klenik yang kantornya di Gayungsari, Surabaya Selatan.

Beberapa tahun silam, mereka mengundurkan diri hampir bersamaan. Cak Ri melanjutkan studi setelah mendapat beasiswa. Setelah lulus program magister, dia kembali kuliah program doktor, juga dengan beasiswa. Sementara Safar Batutah, yang masih setia menjomblo hingga saat ini, yang memiliki kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia lumayan, menjadi guru di sekolah internasional.

Safar Batutah adalah seorang yang memiliki hobi jalan-jalan ala backpacker. Tiap akhir pekan atau musim liburan sekolah, dia melanglang buana. Mungkin orang tuanya menamakan Safar Batutah agar dia menjadi pengelana yang religius. Walaupun soal religiusitas, Safar Batutah dalam lingkaran bimbang. “Agamaku adalah kebaikan,” kata dia dalam suatu kesempatan. Dia memang sholat, tapi kadang-kadang. Dia juga puasa, tapi kadang-kadang berbuka saat adzan dhuhur.

Safar Batutah suka menjelajah pantai, menyelam selat, mendaki gunung, dan melalui website backpacker internasional yang diikutinya, dia sudah menapak di nyaris semua benua. Hanya Afrika yang belum didatangi. Oleh karena saat di luar negeri dia menumpang-numpang di kediaman orang sesama pengikut website backpacker, dia pun kerap ditumpangi orang-orang dari luar negeri saat berada di Surabaya.

Penjaga kedai mendekat dan menyodori Safar Batutah kopi yang beberapa menit lalu dipesan. Aroma robusta menyeruak, bercampur dengan asap rokok yang baru disulut Cak Ri dan bau hujan. Kombinasi yang kompleks.

“Jadi, kamu dapat beasiswa yang mana?” selidik Cak Ri.

Pertemuan mereka itu memang punya topik diskusi soal beasiswa. Oleh karena memiliki rekam jejak memeroleh beasiswa S2 dan S3, Safar Batutah memutuskan untuk menjadikan Cak Ri kawan berunding tatkala dia ingin melanjutkan sekolah di program magister. “Belum ada pengumuman. Tapi, beasiswa yang dari komunitas itu sudah tahap wawancara dan forum diskusi umum. Para calon penerima beasiswa dikumpulkan menginap di Pasuruan akhir pekan lalu, dua hari, Sabtu dan Minggu. Kayaknya, semua peserta lolos dan ikut forum itu lulus semua. Termasuk aku,” jelas Safar Batutah.

“Kamu sudah coba yang beasiswa pemerintah?” tanya Cak Ri sambil tertawa sedikit. “Karena kupikir beasiswa pemerintah itu jauh lebih aman,” sambung Cak Ri seraya tertawa dengan terbahak. “Semuanya aman, kok, Cak Ri,” kata Safar Batutah yang lalu menyeruput kopinya. “Aman? Komunitas itu aman, katamu? Wah…. Kamu kena cuci otak selama dua hari itu, kayaknya,” Cak Ri kembali terkekeh.

Sekitar tiga bulan silam, dua kawan lama itu berjumpa dan membahas hal yang sama, perihal beasiswa S2. Spesifikasi Safar Batutah sudah detail. Dia ingin kuliah di Surabaya. Sementara dia tidak mungkin memakai rekomendasi dari tempat kerjanya, karena di sekolah internasional itu, tidak ada nomenklatur tugas atau izin belajar. Apalagi, dia belum berstatus karyawan tetap.

Seandainya Safar Batutah ingin kuliah di luar negeri, sponsor yang mungkin memberi beasiswa tentu lebih banyak. Namun karena keterbatasan dan keinginan Safar Batutah, Cak Ri menyarankan dia menjajal ikut program beasiswa pemerintah dari sebuah lembaga dana abadi.

“Selain beasiswa pemerintah dari lembaga dana abadi itu, ada satu sponsor lain yang bisa dicoba. Saya tidak menyarankan kamu ikut ini. Tapi kalau pun ikut, ya tidak apa-apa. Hanya saya kasih beberapa catatan di awal,” ungkap Cak Ri pada malam itu.

Saat itu, mereka berjumpa di sebuah tempat nongkrong bergaya modern dan outdoor di bilangan Sukolilo, Surabaya Timur. “Catatan apa ini, maksudnya?” tanya Safar Batutah.

Cak Ri langsung bercerita tentang sebuah komunitas yang terafiliasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat tingkat Asia Pasifik yang punya kantor pusat di Bangkok. Komunitas ini punya agenda penyadaran kesetaraan gender. Sub agendanya, seperti diduga oleh Cak Ri, kesetaraan antara mereka yang punya orientasi seksual hetero dan homo. Untuk mendapatkan beasiswa ini, persyaratan formalnya relatif mudah.

“Catatan saya, jangan sampai orientasi seksualmu berubah habis dapat beasiswa itu. Lalu, kuat-kuatkan imanmu. Jangan lagi berpikir kalau agamamu adalah kebaikan. Di dunia yang serba rumit ini, kebaikan saja tidak cukup,” ungakp Cak Ri seraya menyemburkan asap rokok dari mulutnya.

“Menarik beasiswa itu, Cak Ri. Yang penting, saya bebas memilih kampus dan persyaratannya tidak butuh terlalu banyak rekomendasi dan tanda-tanda tangan dari pihak lain. Dan soal catatanmu itu, tidak perlu risau. Toh, kamu juga tidak benar-benar tahu orientasi seksual saya,” ujar Safar Batutah yang kemudian menjadikan mereka terkekeh bareng.

Pengunjung mulai berdatangan di kedai tersebut. Kalau lagi tidak hujan, sejak habis senja, kedai itu memang cenderung penuh hingga dini hari. Suara riuh kendaraan di jalan raya menjadi penanda, tempat itu adalah potongan kota metro yang nyaris tak pernah terlelap.

“Cak Ri, memangnya menurutmu, homoseksual itu apa?” Safar Batutah bertanya dengan tatapan tajam. “Kamu tampaknya serius sekali. Apakah aku akan diceramahi oleh aktifis yang habis dua hari ditatar di sebuah vila di Pasuruan?” Cak Ri menyergah sambil tersenyum. “Sudahlah, jawab saja dulu,” singkat Safar Batutah.

“Bagiku, orientasi seksual yang tidak bermasalah adalah heteroseksual. Karena ujungnya dan muaranya jelas. Laki-laki dan perempuan yang akhirnya bisa berkembangbiak. Lantas homoseksual ini apa? Menurutku, homoseksual adalah problem kehidupan. Sama seperti problem ekonomi dalam rumah tangga. Atau problem politik dalam bernegara, dan lain sebagainya,” ungkap Cak Ri. “Aku mencoba untuk tidak doktrinal dengan menggunakan dalil Agama,” sambung dia.

“Cak Ri. Apakah kamu tidak pernah dengar kalau di Jawa Timur dan Sulawesi, dan lokasi-lokasi lain di nusantara, ada tradisi-tradisi yang implementasinya bentuk homoseksualitas? Artinya, kearifan lokal kita menerima homoseksual. Fenomena ini tiudak sesederhana problematika hidup, melainkan realitas sosial,” serang Safar Batutah. “Selain itu, kodrat manusia saat dilahirkan itu, memang ada yang homo dan ada yang hetero,” sambungnya.

“Kamu benar-benar sudah sukses dikondisikan di Pasuruan kemarin,” sambut Cak Ri sambil menggeleng-geleng. “Tanggapi saja pernyataan saya tadi,” cecar Safar Batutah.

“Safar Batutah. Mungkin yang kamu maksud itu budaya-budaya semacam warok, gemblak, calabai, calalai, dan sebangsanya. Aku tidak mau bicara dalam-dalam soal tradisi itu satu persatu. Yang pasti, saat ini, apakah homoseksual itu bisa masuk di akal masyarakat secara umum di Jawa Timur dan Sulawesi? Apakah akal dan penerimaan mayoritas publik itu tidak kamu masukkan kategori lokalitas masyarakat?” ungkap Cak Ri sambil membuang puntung rokok di asbak. Lalu, menyalakan batang rokok yang lain. Seketika menghisapnya dengan cepat tiga kali berturut-turut, sebelum kembali melanjutkan.

“Ada seorang gadis cantik yang hidup di kawasan merah Pantura. Dia lahir dari rahim perempuan nakal. Ayahnya siapa, tidak ada yang tahu. Saat remaja, dia punya pilihan untuk menjadi perempuan nakal, atau keluar dari kawasan itu dan menempuh hidup baru di lingkungan yang lain,” Cak Ri menghela nafas. Safar Batutah masih menancapkan pandangan pada mulut yang hampir tak berhenti menghisap dan mengeluarkan asap rokok itu.

“Analogi yang sama bisa disematkan pada orang yang mungkin lahir dengan kecenderungan homo. Dia bisa tetap pada kehomoannya, atau memilih untuk jadi tidak homo. Satu hal yang patut diingat pula, yang tidak boleh dan menjijikkan itu kan zina. Semisal ada orang homo, tapi tidak berzina baik dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, kan tidak apa-apa. Gambaran yang sama pula berlaku bagi kaum hetero. Kalau dia berzina, meskipun secara hetero, tetap saja tidak boleh dan menjijikkan. Paling tidak, menjijikkan bagi komunitas masyarakat dengan kultur nusantara ini,” Cak Ri menerangkan panjang lebar.

“Aku rasa kali ini kita bisa sepakat untuk tidak sepakat,” Safar Batutah menanggapi ringkas. “Dari awal, aku paham tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam pikiranmu. Tidak ada masalah. Mungkin nanti kamu akan jadi aktifis di isu ini. Jadi, kamu harus berlatih menyergah logika-logika yang aku kemukakan. Karena aku pasti di seberangmu. Aku juga begitu. Aku akan berlatih menyergah pendapat seperti yang ada dalam kepalamu dan kelompokmu,” lalu secara hampir bersamaan mereka menyeruput kopi di hadapannya sampai tumpas. (*)

———- *** ———-

Rio F Rachman, Lahir di Kotawaringin Timur 21 Februari 1988. Alumnus Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Penulis buku kumpulan puisi Balada Pencatat Kitab (2016), kumpulan cerita pendek Merantau (2017), dan kumpulan puisi Dari Tepi Mentaya Sampai Bukit-Bukit Di Soekarno-Hatta (2020). Saat ini tercatat sebagai pengajar di Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang.

Rate this article!
Tags: