Semarak Tradisi Megengan

Ramadhan 1443 Hijriyah, sudah di depan mata. Terasa istimewa, karena bersamaan dengan susutnya pandemi CoViD-19. Tidak ada lagi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dengan level ke-gawat-an. Beberapa protokol kesehatan (Prokes) mulai disesuaikan. Termasuk jaga jarak (di warung, dan tempat ibadah) sudah dilonggarkan. Kegiatan ekonomi kreatif, dan peribadatan berjamaah mulai bangkit. Tradisi menyambut bulan Ramadhan dengan megengan, dilaksanakan lagi.

Selama dua tahun, Megengan sebagai persiapan (perilaku) bulan Ramadhan, menjadi hari ke-prihatinan mendalam. Namun tradisi kirim doa dan sedekah makanan untuk arwah (leluhur dan kerabat) tetap dilakukan di mushala dan di masjid. Walau dilaksanakan secara terbatas, serta istighotsah dalam tempo singkat. Tetap afdhal, dan tidak mengurangi kemanfaatan pahala kebaikan. Tetapi megengan saat ini (mulai Ahad, 3 April) bagai suasana pembebasan.

Magnitude bulan Ramadhan di Indonesia, sedang menghadapi suasana baru pasca wabah pandemi CoViD-19. Beragam spanduk menyambut bulan puasa, yang ditebar di berbagai lokasi juga diselingi saran beribadah di masjid. Mal, perkulakan dan tempat perbelanjaan lain nampak mulai semarak. Toko dan stand pakaian mulai buka. Begitu pula lapak baru kuliner mulai tumbuh di jalan sekitar permukiman. Hampir seluruh kampung ramai dengan persiapan ekonomi kreatif.

Suasana Ramadhan di Indonesia memang berbeda dengan negara lain yang dihuni warga muslim. Terdapat pergerakan sosial budaya paling panjang. Dimulai dengan adat megengan masyarakat mempersiapkan spirit dan suasana kebatinan. Terutama ziarah ke makam. Biasanya pula, masjid dan mushala menyelenggarakan megengan diikuti warga masyarakat sekitar. Ini sekaligus menjadi penyambung silaturahim antar rakyat. Juga antara yang masih hidup dengan leluhur yang telah meninggal.

Adat Megengan, berasal dari kata meng-agung-kan bulan yang dianggap paling suci, keramat dan penuh berkah. Megengan hanya terjadi selama kira-kira tiga hari dipenghujung bulan (Jawa) Ruwah (kalender Arab bulan Sya’ban). Terdapat pra-mudik (sehari), untuk mendatangi kuburan leluhur. Diyakini, menjelang Ramadhan, seluruh arwah memperoleh “rehat” alam kubur dan boleh “pulang” menjenguk keluarganya yang masih hidup. Karena itu yang masih hidup mestilah berlaku saleh.

Megengan bukan sekadar tradisi. Melainkan juga ajaran agama, sebagai kesiapan menyambut Ramadhan. Bahkan dipersiapkan dua bulan sebelumnya (sejak bulan Rajab). Sebagai tanda kesiapan mental menyambut Ramadhan, berlatih memperbanyak sedekah. Maka 3 hari menjelang bulan puasa, terdapat budaya ater-ater. Yakni, dibuat hidangan berupa kue tradisional dan buah (kadang dengan nasi dan lauk-pauk). Hidangan diantar ke rumah tetangga terdekat, tak terkecuali yang sedang bermusuhan.

Di Indonesia, Ramadhan bukan sekedar aspek pencerahan spiritual. Melainkan berfungsi eskalasi perekonomian paling besar, sejak dua abad silam. Identik dengan puncak bulan berbelanja. Sektor usaha ritel, kebutuhan makanan dan minuman sampai perbankan memperoleh berkah keuntungan berlebih selama bulan Ramadhan. Identik dengan periode puncak belanja selama setahun. Pada zaman teknologi komunikasi saat ini, megengan hanya berisi pesan melalui media sosial (medsos). Berisi permohonan maaf kepada kerabat dan sahabat.

IMF memperkirakan dampak pewabahan CoViD-19, merupakan resesi ekonomi terburuk global sejak masa Malaise (tahun 1930 silam). Depresi besar ekonomi dunia saat itu terjadi selama 10 tahun. Maka Ramadhan menjadi “penglipur” psikologi sosial, dan perekonomian. Keprihatinan dampak pandemi global dalam bulan Ramadhan tahun ini dapat menjadi muhasabah (introspeksi). Sekaligus “jeda” perburuan materi keduniaan.

Tradisi megengan bisa dilakukan dengan meningkatkan ke-dermawan-an social, termasuk membersihkan area makam leluhur. Juga menyediakan makanan, dan minuman tradisional menyehatkan, dan pemberian masker (berkualitas) gratis.

——— 000 ———

Rate this article!
Semarak Tradisi Megengan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: