Seniman Jatim Harus Pentingkan Kualitas Karya

Dr H Jarianto MSi

Dr H Jarianto MSi

Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemahaman terhadap seni rupa belakangan ini sudah bukan lagi sebatas lukisan dan patung, melainkan sudah merambah ke berbagai ranah yang tidak terbayangkan sebelumnya. Keberagaman wajah seni rupa inilah yang nantinya akan diwadahi dalam gelar pameran Jatim Biennale VI yang rencananya akan diselenggarakan tahun 2015.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Dr H Jarianto MSi  mengatakan, seniman dalam menghasilkan suatu karya diharapkan tidak hanya sekedar saja, melainkan kualitas karya juga diperhatikan.
“Sudah waktunya memikirkan karya berkualitas menjadi perhatian masyarakat. Goalnya menjadi kesejahteraan dari seniman itu sendiri. Saya percayakan bagaimana seniman dan kurator dalam menghasilkan karya berkualitas,” katanya dalam sarasehan pra pameran Jatim Biennale VI, di Graha Wisata.
Ia berpesan pada seniman agar bisa mendirikan sogo atau rumah emas perupa dimana seluruh hasil karya terbaik dipajang untuk bisa dinikmati masyarakat. Saat ini, Disbudpar Jatim melalui Taman Budaya Jatim dengan bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga tengah mendirikan bangunan untuk mewadahi dan memfasilitasi karya-karya  seniman seni rupa yang berkualitas.
Sementara, Kurator Jatim Biennale, Kus Indarto mengatakan, even Biennale ke depan ini tidak hanya setingkat lokal namun regional. Salah satunya dengan mengundang seniman yang ada yang ada di regional maupun dunia melalui jejaring seniman yang ada.
Menurutnya, banyak seniman Jatim yang berlevel dunia namun sayangnya tidak punya forum bersama, ruang kesempatan, dan jejaring kerja yang luas. “Kalau Biennale jadi forum bersama akan memunculkan dan membesarkan para seniman itu sendiri,” katanya.
Sedangkan Henry Nurcahyo selaku panitia Biennale VI mengatakan, pra sarasehan ini merupakan sosialisasi Biennale yang akan diselenggarakan 2015. “Saat ini kami masih menentukan tema dan peserta. Sehingga tahun ini bisa berjalan dengan baik. Tidak seperti tahun lalu, kebetulan krisis dan kegiatan hampir tidak dilaksanakan, hanya di galeri orasis. Sebelumnya pernah diberbagai galeri di Surabaya,” katanya. [rac]

Tags: