Serpihan AirAsia QZ 8501 Ditemukan

Serpihan benda-benda yang diduga kuat berasal dari pesawat AirAsia QZ 8501 ditemukan terapung di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Selasa (30/12).

Serpihan benda-benda yang diduga kuat berasal dari pesawat AirAsia QZ 8501 ditemukan terapung di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Selasa (30/12).

Pangkalan Bun, Bhirawa
Pencarian pesawat AirAsia QZ 8501 rute Surabaya – Singapura yang hilang kontak sejak Minggu (28/12) pagi mulai mendapat titik terang. Itu setelah Tim Basarnas dan TNI AL menemukan 6 jenazah dan serpihan benda-benda  yang diduga kuat  penumpang dan bangkai pesawat  nahas itu di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Selasa (30/12).
Personel TNI yang bertugas di KRI Bung Tomo telah mengangkat enam jenazah yang diduga korban AirAsia QZ 8501 dari perairan Selat Karimata hingga Selasa sore kemarin.  Proses pencarian akan terus dikebut. “Hingga pukul 16.00, enam jenazah telah dievakuasi ke dalam KRI Bung Tomo,” ujar Komandan Pusat Komando Operasi TNI Angkatan Laut (Puskodal) Kolonel Muspin.
Muspin belum mendapatkan laporan lebih jauh terkait jenis kelamin jenazah-jenazah tersebut. Namun, dari informasi yang didapat, semua jenazah itu masih dalam keadaan lengkap anggota tubuhnya, tidak berpelampung, dan dalam kondisi bergelembung alias membengkak lantaran terlalu lama berada di air.
Semua jenazah yang berhasil dievakuasi itu, lanjut Muspin, dimasukkan ke dalam kantong mayat dan diletakkan di tempat khusus dalam kapal. Jajarannya belum memfokuskan kepada identifikasi.
Saat ini, personel TNI masih fokus untuk mencari korban lainnya di wilayah perairan tersebut. “Kami belum mendapat kabar apakah jenazah itu akan langsung diterbangkan ke Pangkalan Bun atau tunggu jenazah lain ketemu dulu,” ucap dia.
Yang jelas, KRI Banda Aceh yang mengangkut tiga helikopter evakuasi dan tiga KRI lainnya tengah menembus ombak untuk dapat segera ke lokasi ditemukannya serpihan serta jenazah penumpang pesawat berpenumpang 155 orang tersebut.
Seperti diberitakan pesawat AirAsia QZ 8501 hilang kontak pada Minggu (28/12) pukul 07.55. Pesawat sempat menghubungi Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno-Hatta untuk meminta izin naik ke ketinggian 38.000 kaki dari yang sebelumnya 32.000 kaki untuk menghindari cuaca buruk.
Namun, tak lama setelah itu, pesawat hilang dari radar. Pesawat Airasia QZ8501 ini membawa 155 orang penumpang yang terdiri dari 138 orang dewasa, 16 orang anak-anak, dan 1 orang anak balita. Di dalam pesawat itu, ada pula 7 penumpang dan awak kabin warga negara asing, yakni Singapura 1 orang, Inggris 1 orang, Malaysia 1 orang, Korea Selatan 3 orang, dan Perancis 1 orang.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henry Bambang Soelistyo mengatakan pihaknya akan menerjunkan tim penyelam untuk mengevakuasi berbagai serpihan dan mencari jenazah lainnya di perairan Pangkalan Bun.
“Saya sudah siapkan pasukan penyelam. Untuk saat ini 11 orang dari dinas penyelam TNI AL, 10 dari Rescue Basarnas. Kedalaman laut yang ada di bawah serpihan ini antara 25 meter sampai 30 meter. Oleh karena itu penyelam masih bisa kita manfaatkan untuk evakuasi,” ungkap Bambang dalam jumpa pers di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat kemarin.
Bambang Soelistyo mengatakan dalam evakuasi tersebut pihaknya akan bekerja ekstra untuk menyisir lokasi dan mencari jenazah lain serta bangkai pesawat AirAsia QZ 8501. “Kita kerja 48 jam, bukan hanya 24 jam,” ujarnya.
Dia mengaku berdasarkan informasi yang diterima sampai saat ini belum ada laporan korban yang dinyatakan selamat. Sejauh ini hanya mendapat laporan berupa serpihan pesawat dan juga jenazah korban. Selain itu, semua jenazah yang ditemukan akan dikumpulkan di posko utama Basarnas yang ada di Pangkalan Bun. “Jadi kalau ketemu ditaruh sana (Pangkalan Bun) dulu dikumpulin,” ungkapnya.
Selanjutnya kata dia, pihaknya dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi awal ihwal semua temuan objek tersebut. “Saya mohon support semua unsur untuk terus berjuang melakukan langkah operasi berikutnya. Semua perkembangan yang ada di media, semua saya tangkap dan evaluasi. Tetapi final seluruh kegiatan operasi SAR ada di tangan Basarnas,” ujarnya.
Berdasarkan pengamatan Tim SAR di lokasi, keenam jenazah tersebut memiliki tubuh yang besar dan berkulit putih. Dia menduga korban merupakan WNA yang menumpang pesawat nahas tersebut. “Kulitnya putih dan bertubuh besar, kita menduga itu WNA,” pungkasnya.
Sementara itu sebanyak 6 kapal milik Ditpolair Polda Jatim disiagakan untuk membantu Basarnas dalam usaha pencarian pesawat AirAsia yang mengalami musibah.
Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf membenarkan bahwa Ditpolair Polda Jatim membantu pencarian pesawat AirAsia QZ 8501. Dengan menyiagakan 6 kapal, Ia berharap bantuan ini dapat digunakan semaksimal mungkin oleh Basarnas dalam mencari jejak pesawat AirAsia yang diperkirakan jatuh di perairan.  “Dari enam kapal ini, tiga kapal yang paling besar jenisnya kapal C1, C2, dan C3. Kami membantu semaksimal mungkin, selanjutnya kami serahkan kepada Basarnas,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf.

Pindahkan Posko Taktis
Basarnas kemarin sore memindahkan posko taktis yang berada di Bandara Depati Amir Pangkalpinang ke Pangkalan Bun, Ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.
“Posko taktis yang ada di Pangkalpinang sore ini (kemarin sore) juga langsung kami pindahkan ke Pangkalan Bun karena sudah bisa dipastikan 95 persen lokasi itu merupakan tempat ditemukan serpihan pesawat,” ujar Deputi Potensi SAR Marsekal Muda TNI Sunarbowo Sandi.
Ia menyebutkan, jarak tempuh dari Pangkalpinang ke Pangkalan Bun kurang lebih sejauh 310 kilometer. Sedangkan jarak lokasi ditemukannya serpihan ke Pangkalan Bun kurang lebih sejauh 90 mil. Dia merapat ke Pangkalan Bun menggunakan pesawat CN-235 milik TNI AL bersama dengan sembilan penyelam dari Paska.
Sunarbowo Sandi  juga mengatakan Basarnas Provinsi Bangka Belitung menyediakan 200 unit kantong mayat untuk mengevakuasi korban penumpang pesawat AirAsia QZ 8501.
Sebanyak 200 unit kantong mayat tersebut, kata dia, disalurkan oleh tim pencari AirAsia ke posko Pangkalan Bun atau lokasi penemuan mayat dan serpihan pesawat. “Saat ini, tim pencari sudah berangkat menuju Pangkalan Bun dan mudah-mudahan evakuasi korban dapat dilakukan dengan cepat,” ujarnya.
Dengan adanya penemuan tersebut, kata dia, pencarian di kawasan perairan Belitung Timur dihentikan dan pencarian difokuskan ke Pangkalan Bun.
“Hanya sebagian personel yang tetap bersiaga di posko-posko pencarian di Belitung Timur dan Pangkalpinang, sementara sebagian besar personel dan kapal difokuskan pencarian di lokasi penemuan mayat dan serpihan pesawat,” katanya.
Berbeda dengan Basarnas, Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri lebih memilih Surabaya sebagai pusat evakuasi penumpang AirAsia QZ 8501, ketimbang mendirikan posko di Pangkalan Bun.
Kepala Pusdokkes Polri, Brigjen Pol Arthur Tampi, menjelaskan, jumlah penumpang yang cukup banyak menjadi alasan pendirian pusat evakuasi di Surabaya lebih efektif. “Banyak sekali, 160 orang lebih yang harus diidentifikasi, mesti ke Surabaya karena lebih sulit kalau di Kalteng,” kata Arthur di Mabes Polri Jakarta.
Sumber Daya Manusia (SDM) Pusdokkes Polri di Jatim menurutnya lebih memiliki kualifikasi memadai dan jumlah personelnya lebih banyak daripada personel yang ada di Kalteng.
Selain itu, lemari pendingin untuk korban juga telah tersedia di Surabaya. Apalagi hampir semua korban, lanjut Arthur, merupakan warga Surabaya dan sekitarnya sehingga dapat memudahkan pencarian data antemortem korban untuk proses identifikasi. “Pertimbangan keluarga lebih banyak di sana (Surabaya) untuk kepentingan antemortem,” pungkas Arthur.  [geh,bed,ira]

Rate this article!
Tags: