Setahun Pandemi CoViD-19

Pandemi CoViD-19 nasional sudah mewabah setahun, sejak dijejaki kasus pertama di Depok (2 Maret 2020). Dalam sepekan, CoViD-19 mulai “booming” mewabah di Jawa, terutama di Jakarta. Bahkan mulai akhir Maret 2020, masjid negara Istiqlal tidak menyelenggarakan shalat Jumat (pertama kali terjadi sejak 50 tahun). Menyusul seluruh tempat ibadah agama-agama tidak menyelenggarakan jamaah peribadatan. Begitu pula seluruh sekolah tutup, berganti belajar secara daring.

Berbagai upaya dilakukan cemerintah, dan rakyat Indonesia. Seluruhnya bermakna pengorbanan. Terutama pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sesuai UU Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Secara spesifik pasal 49 ayat (1), dinyatakan “Dalam rangka melakukan tindakan mitigasi faktor risiko di wilayah pada situasi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dilakukan Karantina Rumah, Karantina Wilayah, Karantina Rumah Sakit, atau Pembatasan Sosial Berskala Besar oleh pejabat Karantina Kesehatan.”

Secara nasional, seluruh daerah (propinsi) diberlakukan PSBB mulai bulan Mei 2020. Dampak pandemi makin terasa pedih, secara sosial, ketahanan kesehatan, dan ekonomi. Seluruh rakyat, dan Negara, menanggung kerugian. Pemerintah juga tekor, mengalami defisit APBN, dan APBD (daerah propinsi, serta kabupaten dan kota). Seluruhnya disesuaikan melalui cara refocusing, dan realokasi anggaran. Pemerintah fokus pada pemulihan ketahanan kesehatan, sembari mempertahankan perekonomian.

Pada masa pandemi (dan pemberlakuan PSBB) banyak masyarakat kehilangan nafkah. Perkantoran bisnis, dan industri berlaku separuh kerja. Banyak pekerja diberhentikan (PHK, Pemutusan Hubungan Kerja). Begitu pula warung makan, tidak melayani santap ditempat. Bahkan banyak warung memilih tutup usaha, karena omzet merosot drastis. Niscaya menambah penduduk miskin (termasuk rentan miskin dan hampir miskin).

Pemerintah juga waspada dampak pedih perekonomian nasional. Pemerintah seluruh dunia juga menanggung dampak yang sama. UU Kekarantinaan Kesehatan dalam pasal 11 ayat (1) menyatakan, “Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan pada Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat secara cepat dan tepat berdasarkan besarnya ancaman, efektivitas, dukungan sumber daya, dan teknik operasional dengan mempertimbangkan kedaulatan negara, keamanan, ekonomi, sosial, dan budaya.”

Nyata-nyata dimanatkan pertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan budaya. Maka pemerintah berkewajiban menggelontor bantuan social (Bansos). Namun perekonomian tetap terdampak kemerosotan. Kontraksi pertumbuhan ekonomi (minus) terjadi di seluruh propinsi di Jawa. Realitanya, Banten (-5,77%), Jawa Barat (-4,08%), Jawa Tengah (-3,93%), DKI Jakarta (-3,83%). Serta Jawa Timur (-3,75%), dan DI Yogya lebih “lebih beruntung” karena susut terendah (-2,84%).

Sebenarnya pandemi pernah “terkendali” pada Oktober 2020. Rate of Transmission (RoT, tingkat penularan) di bawah angka 1, diawali dari Jawa Timur. Tetapi kembali mengganas pada bulan Januari 2021. Terutama setelah libur panjang. Serta menurunnya disiplin pelaksanaan protokol kesehatan (Prokes), terutama kerumunan pada kegiatan sosial, dan hiburan. Maka pemerintah perlu memulai PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) skala mikro. Dilakukan “lockdown” tingkat RT, dan RW.

“Amunisi” melawan pandemi, kini berharap pada percepatan vaksinasi CoViD-19. Negara-negara seluruh dunia berebut memperoleh vaksin. Beberapa negara produsen vaksin (Amerika, China, dan Jerman) juga diminta berbagi. Indonesia juga berpotensi memproduksi vaksin, dan bisa mengekspor ke berbagai negara. Terutama sesama negara Asia, dan negara OKI (Organisasi Konferensi Islam).

Namun pandemi CoViD-19 juga memiliki “hikmah,” berupa kebersatuan negara-negara seluruh dunia. Melupakan perseteruan politik, dan perang dagang. Seluruh dunia bersatu mencari obat, dan vaksin. Tetapi walau telah ditebar suntik vaksin, pandemic masih mengintai. Masyarakat seluruh dunia masih wajib mematuhi Prokes 3M. Mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan secara benar.

——— 000 ———

Rate this article!
Setahun Pandemi CoViD-19,5 / 5 ( 1votes )
Tags: