Setelah Ramadan dan Idulfitri Berlalu

Oleh:
Salman Akif Faylasuf
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Ramadan sudah kita lewati. Begitu juga perayaan Idul Fitri baru selesai kita dirayakan. Tentu saja, keduanya memberikan dampak positif yang luar biasa kepada umat manusia, khususnya umat Islam.

Dan, pada dua moment inilah umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah dan ketakwaan. Namun, terkadang apa yang telah diraih sudah dirasa cukup dan tidak berlanjut dibulan berikutnya. Lalu bagaimanakah sebaiknya yang dilakukan pasca Ramadhan dan Idul Fitri? Apakah ketakwaan yang sudah didapatkan sudah cukup bagi umat Islam?

Syahdan. Sesuatu yang kita sudah ketahui atau sudah meraihnya, sebenarnya masih bisa untuk ditingkatkan. Dalam al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 136 Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136).

Lha, kalau sudah beriman kenapa diajak lagi beriman? Maksudnya adalah tingkatkan keimananmu. Nabi Saw. dikenal sangat bersih, karena itu beliau senang memaki baju putih. Tentu saja, ini disebabkan, misalnya baju putih terkena sedikit noda maka langsung kelihatan. Berbeda dengan baju hitam.

Kendati demikian, Allah Swt. berpesan dalam Surat Al-Mudatsir ayat 4, Allah Swt. berfirman: “Dan bersihkanlah pakaianmu.” (QS. Al-Muddassir [74]: 4).

Sederhananya, pakaianmu bersihkan. Yakni, pelihara dan tingkatkan kebersihan itu. Nabi Saw. bertugas antara lain memberi hidayah, akan tetapi Nabi juga seperti manusia pada umumnya masih bermohon setiap hari “ihdinas shiraathal mustaqiim”. Kenapa demikian? Karena Allah Swt. menambah hidayahnya untuk orang-orang yang sudah dapat hidayah. Dalam al-Qur’an Surat Maryam ayat 76 dinyatakan: “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (QS. Maryam [19]: 76).

Begitu juga setelah puasa. Misalnya kita sudah meraih takwa.

Namun yang perlu diketahui, bahwa takwa bermacam tingkat. Dalam al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 93 dikatakan: “Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 93).

Kata Quraish Shihab, kita mau hidayah, ditambah hidayah dan ditambah lagi hidayah. Kita mau dapat ilmu, lalu mendapat tambahan ilmu dan mendapatkan tambahan lagi, dan begitu seterusnya. Kalau demikian persoalannya, maka berarti bukan sekedar mempertahankan apa yang sudah kita dapatkan, akan tetapi meningkatkan lagi apa yang sudah kita dapat.

Pendek kata, keliru kalau kita hanya sekedar mempertahankannya. Makin keliru lagi jika berkurang apa yang pernah kita dapatkan. Itu sebabnya dalam al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 92 ditegaskan: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An-Nahl [16]: 92).

Ada perempuan gila dalam cerita lama. Ia menenun pakaian berhari-hari. Akhirnya, setelah sarungnya siap pakai, entah apa yang ada dipikirannya (maklum orang gila), ia membukanya lagi tenunan sarung itu sehelai demi sehelai setelah ditenun. Inilah yang paling buruk. Orang berkata, kalau lebaran kita memakai pakaian baru. Namun, sebenarnya, pakaian baru yang lebih baik itu adalah pakaian rohani dan jasmani. Walibasut taqqa dalika khair

Lalu apa sebenarnya hikmah dari ini?
Quraish Shihab mengatakan, jangan pernah memandang apalagi mengandalkan amal Anda. Sebab, pertama, siapa tahu amal Anda tidak memenuhi syarat yang dikehendaki Tuhan. Boleh jadi ada riya’ yang mengalir di dalam darah tanpa kita ketahui. Perumpamaan riya’ dilukiskan seperti semut hitam berjalan ditengah malam yang gelap di atas batu yang licin. Tak heran, jika ulama-ulama dulu sangat takut sekali jika amalnya tidak ikhlas.

Kedua, tidak ada yang masuk surga karena amalnya. Kecuali Nabi berkata “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya”. Tiba-tiba ada yang bertanya kepada Nabi “Engkau pun tidak wahai Nabi?” Nabi menjawa “Saya pun tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmatnya.” Itu pula sebabnya, mereka orang-orang dulu mengajarkan doa “Ya Allah pengampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosaku. Dan rahmat-Mu lebih kuandalkan dari amalanku.”

Sedikit diterima, Allah Swt itu syakur, menerima yang sedikit dan menganggapnya sangat banget. Inilah harapan kita. Dengan selesainya Ramadhan, jangan sekali-kali menghandal amal, akan tetapi kita disuruh menanamkan optimisme di dalam jiwa kita.

Dalam hal ini, kita ingin meningkatkan diri dan keimananan kita, dari takwa yang pertama, kedua, dan seterusnya. Tentu saja dengan usaha yang diusahakan, sebab tanpa usaha maka tidak bisa. Kita ingin menaiki anak tangga, dan jangan mandek di anak tangga yang ketiga. Usahalah naik, jangan turun (jika sudah turun sulit naik).

Semakin tinggi puncak yang ingin didaki, maka akan semakin sulit. Seorang sufi besar berkata “Perjalanan menuju Allah itu adalah perjalanan mendaki”. Karena itu mereka berkata “Jangan membawa beban”.

Beban dalam hal ini adalah dosa kepada Allah Swt. dan kepada makhluknya. Semakin mendaki Anda, maka semakin banyak pula sorak-sorai yang menakut-nakuti Anda. Makin tinggi semakin pula soraknya merayu Anda untuk turun.

Akan tetapi, katanya, kalau Anda melanjutkan perjalanan, pada saatnya Anda akan menemukan bahwa rupanya dihadapan itu ada rambu-rambu jalan yang memberitahukan Anda “Jangan lewat di sini”. Dan, rupayanya ada tempat peristirahatan, ada air-air jernih untuk Anda minum pada saat sampai kepada tahapannya. Dengan demikian, ketika Anda mendaki untuk mencapai puncak, maka Ar-Rahman mengirim kendaraan buat Anda. Jadi persoalannya dalah tekad. Persoalanya adalah mengetahui bagaimana caraya untk sampai?

Para ulama berkata, kalau Anda ingin mencapau sukses, maka terlebih dahulu Anda harus mengetahui potensi diri, kelemahan diri, tahu lawan, tantangan, tak terkecuali mengetahui tentang peluang dalam segala hal. Misalnya dalam berbisnis dan berjuang juga harus tahu keistimewaannya. Jika Anda tidak tahu maka Anda tidak akan berhasil. Wallahu a’lam bisshawaab.

———- *** ———-

Rate this article!
Tags: