Siaga Banjir dan Longsor

Musim hujan baru berjalan 4 pekan, tetapi dampak bencana hidrometeorologi sudah nampak pedih. Terdapat korban jiwa. Periode hujan masih tersisa 22 pekan lagi mengguyur seluruh daerah. Bencana berupa banjir, dan tanah longsor tebing jalan, semakin sering terjadi. Tebing bukit yang longsor menutup jalan (dan rel keretaapi). Bahkan banyak tanggul sungai jebol, karena tidak mampu menahan arus deras air. Hujan lebat yang mengguyurkan, menyebabkan aliran sungai menjadi sangat deras.

Seluruh daerah di Indonesia, dari Sabang di Aceh, hingga Merauke di Papua Selatan, telah memasuki musim hujan. Seketika pula dampaknya telah nampak. Berupa banjir dan tanah longsor. Paling parah dialami kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Banjir dan longsor luruh dari pegunungan, air mendorong bebatuan besar meluncur deras. Sebanyak 35 rumah rusak diterjang longsor, termasuk gereja. Juga merusak lahan pertanian di desa Simangulampe, perbukitan danau Toba.

Kampung di seputar DAS (Daerah Aliran Sungai) Asahan Toba, biasa indah, menjadi tujuan wisata. Kaswasan sub-DAS Nambunga, memiliki catchment area (area resapan) seluas 478 hektar. Mendadak porak-poranda diterjang longsor Kawasan hulu. Ditemukan korban jiwa 2 orang. Serta 10 orang masih dicari. Bencana di Humbang Hasundutan, mengingatkan tragedi serupa di kecamatan Panti, kabupaten Jember (2 Januari 2006).

Korban jiwa banjir dan longsor di Jember, saat itu mencapai lebih dari 76 orang. Berdasar data BPS Kabupaten Jember bencana tanah longsor yang terjadi 2 Januari 2006, sebanyak 15 orang masih dinyatakan hilang. Daya rusak banjir dan longsor terutama di desa Kemiri, dan desa Suci, kecamatan Panti, tahun 2006, berdaya rusak sangat besar. Sebanyak 1.900 orang mengungsi, karena rumah (36 unit rumah) hanyut. Sebagian besar (2.400 unit) rumah rusak, diterjang longsor bebatuan. Juga menerpa 6 jembatan sampai putus. Serta 140 hektar sawah rusak.

Banjir dan longsor di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, dan tragedi serupa di Jember 2006, diduga, sama penyebabnya. Yakni, rusaknya lingkungan di atas (hulu), sehingga tidak mampu berfungsi sebagai afrea resapan. Hutan dengan pohon tegakan digunduli, digantikan perkebunan semusim (kopi, the, dan kebun sayur). Realitanya, telah terjadi penebangan liar pada areal seluas 4 hektar. Sehingga Bupati bersama Forkompimpda Humbang Hasundutan, akan menempuh jalur hukum.

Saat ini, seluruh daerah seantero Jawa, wajib siaga. Seluruh kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) sudah digenangi banjir. Begitu pula Kawasan Bandung sampai Cimahi, telah sering dikepung banjir. Serta kawasan lingkar Semarang, selalu waspada sungai Siluwur, dan Kali Gawe. Biasa merendam stasiun Tawang, dan Pasar Johar. Juga jalan negara sepanjang pantai utara, Semarang – Demak, sering terendam.

Begitu pula Jawa Timur yang dilalui sungai Bengawan Solo, dan sungai Kali Brantas, wajib siaga banjir. Dengan kecepatan arus 40 kilometer per-jam, aliran air mampu menghanyutkan plengseng beton. Bahkan bisa menggeser konstruksi kaki tiang pancang jembatan, menyebabkan keruntuhan. Begitu pula Kawasan wisata di Malang Raya (termasuk Kota Batu), wajib waspada banjir dan longsor di area wisata.

Namun sebenarnya, tiada bencana dating tiba-tiba. Selalu terdapat gejala alam. Terutama menyusutnya daya dukung lingkungan pada kawasan hulu. Sehingga UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, meng-amanat-kan mitigasi. Pada pasal 38 huruf a, diwajibkan adanya “identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana.” Bahkan bencana hidro-meteorologi dapat diprediksi dengan tingkat presisi cukup baik. Kefatalan bencana bisa dicegah.

——— 000 ———

Rate this article!
Siaga Banjir dan Longsor,5 / 5 ( 1votes )
Tags: