Siapkan Varietas Tebu Sesuai dengan Kondisi Daerah

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Pemprov, Bhirawa
Tekstur tanah dan kondisi yang berbeda, membuat Dinas Perkebunan (Disbun) Jatim akn menyiapkan varietas tebu yang akan ditanam di daerah potensial. Dalam waktu dekat Disbun akan merilis jenis tebu tebu khusus untuk Pulau Madura namun hingga kini belum diberi nama.
Hal ini merupakan upaya peningkatan produktivitas dan kualitas tebu lokal guna meningkatkan produksi gula terus diupayakan. Salah satunya melalui riset varietas bibit tebu baru yang potensial.
“Setiap tahunnya selalu ada jenis tebu baru yang dirilis sesuai dengan kondisi daerah potensial yang menjadi sasaran pengembangan areal tanam tebu. Tahun depan akan ada tebu dengan rendemen 15% yang bakal dilepas ke petani,” kata Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir Moch Samsul Arifien MMA, Senin (30/6)
Untuk tahun ini, jenis varietas tebu yang telah dirilis Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yakni PSDK atau singkatan dari Pasuruan Desa Kemlagi dan bibit tebu N11KT untuk PT Perkebunan Nusantara XI.
Setiap tahunnya P3GI terus meningkatkan produksi bibit tebu guna memacu produksi gula nasional. Tahun lalu, P3GI menaikkan produksi bibit tebu hingga 400 persen. Jika sebelumnhya hanya mencapai 100-150 juta mata tebu telah ditingkatkan hingga 500 juta mata per tahun.
Sementara, Direktur P3GI, Aris Toharisman menambahkan, P3GI juga menyediakan bibit tebu unggul berbentuk bagal mata 2-3, bud chip, dan budshet dalam jumlah jutaan sesuai dengan permintaan.
Peningkatan kapasitas produksi bibit tebu tersebut guna memenuhi kebutuhan petani tebu di Pulau Jawa dan luar Jawa. Sebagian di antaranya memasok Ditjen Perkebunan yang memprogramkan bongkar ratoon (penggantian bibit lama dengan bibit baru tebu).
“Kami menyiapkan sejumlah varietas tebu unggul sesuai kecocokan lahan di setiap lokasi, guna mendukung peningkatan produksi gula nasional,” katanya.
Menurutnya, sebagian bibit tebu di areal penanaman perlu dilakukan bongkar ratoon dan diganti bibit baru dengan kualitas rendemen yang tinggi. Hal ini karena varietas bibit tebu yang telah berusia 8 tahun mengalami degradasi klonal (penurunan kualitas dan produktivitas).  Lahan tebu seluas itu guna memenuhi kebutuhan bahan baku bagi 62 pabrik gula, dimana setiap hektare lahan membutuhkan bibit tebu sebanyak 25-30 ribu mata.
Sebagai informasi, P3GI adalah satu-satunya lembaga penelitian di Indonesia yang khusus meneliti tentang gula dan pemanis, mulai dari sektor on-farm, off-farm hingga konsep kebijakan dan tata niaga.
Oleh karena itu, kinerja industri gula Indonesia tidak terlepas dari peran P3GI. Tahun ini, kinerja industri gula juga meningkat tajam dibanding tahun lalu. Produksi gula naik dari sekitar 2,2 juta ton tahun 2011 menjadi 2,58 juta ton tahun ini.
“Kenaikan tersebut selain karena perbaikan manajemen pengelolaan dan iklim yang kondusif, juga tidak terlepas dari peran varietas tebu yang dihasilkan P3GI,” katanya.
P3GI didirikan pada 9 Juli 1887 dengan nama Proefstation Oost Java. P3GI adalah garda depan riset dan pengembangan industri berbasis tebu di Indonesia. P3GI secara konsisten melakukan penemuan varietas-varietas tebu yang sangat produktif. [rac]

Tags: