Sinyal Positif Terapkan Kurikulum 2013

Suasana belajar mengajar salah satu SMA di Jatim. Jatim mendapat diskresi (pengecualian) dari pusat untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2013.

Suasana belajar mengajar salah satu SMA di Jatim. Jatim mendapat diskresi (pengecualian) dari pusat untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2013.

Dindik Jatim, Bhirawa
Koordinasi yang digalang Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim bersama 38 Dindik kabupaten/kota se-Jatim terkait Kurikulum 2013 (K-13) mulai membuahkan hasil menggembirakan. Ini setelah Kepala Dindik Jatim Dr Harun menyampaikan hasil rapat koordinasi itu dan mendapat sinyal positif dari Kemenbuddikdasmen untuk tetap melaksanakan K-13 di Jatim.
Harun mengaku telah bertemu dengan Dirjen Pendidikan Dasar, Kemenbuddikdasmen Hamid Muhammad  di Jakarta. Menurutnya, Hamid tidak menolak usulan Jatim. Bahkan Hamid mengatakan akan ada diskresi (pengecualian) bagi sekolah-sekolah yang tidak masuk kuota 6.212 untuk tetap bisa melaksanakan K-13. Dengan catatan, sekolah dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan, seperti mutu dan kualitas gurunya.  “Kalau mereka mampu, tidak masalah tetap menggunakan K13. Tidak perlu khawatir,”kata Harun saat dihubungi, Minggu (14/12).
Harun tidak mempermasalahkan syarat yang diminta Hamid agar sekolah yang mengajukan sendiri ke Kemenbuddikdasmen. Hanya saja, untuk itu harus ada koordinasi dengan Dinas Pendidikan kabupaten/kota yang mengetahui benar tentang kondisi sekolah dan tenaga pendidiknya. Jika sekolah sendiri yang mengajukan, dikhawatirkan kondisi sekolah ternyata belum siap memberlakukan K13.
“Jangan sampai sekolah yang ternyata belum siap tapi memaksa siap, atau sekolah yang akreditasinya A dan semua gurunya siap justru tidak ikut K-13. Itu semua yang tahu Dindik kabupaten/kota,”kata alumnus Lemhanas 2008 itu.
Harun berharap ketika data sekolah yang sudah siap memberlakukan K13 ini masuk ke Kemenbuddikdasmen, bisa menjadi pertimbangan pemerintah untuk alokasi anggaran pengadaan buku maupun pelatihan.
Diakui Harun, kedatangannya ke Kemenbuddikdasmen itu bukanlah inisiatifnya sendiri. Melainkan untuk mengakomodir keinginan kabupaten/kota untuk tetap memberlakukan K-13 sebagaimana hasil rakor di Dindik Jatim, Rabu (11/12) lalu. “Sejak awal saya katakan Jatim sangat siap dengan K-13, tetapi bukan 100 persen melainkan 80 persen. Jadi masih ada yang belum siap. Dan mereka inilah yang akan kami dorong untuk siap melaksanakan K-13,” kata dia.
Dihubungi terpisah, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh saat ditemui di sela peletakan batu pertama SMP Al Islah di Gunung Anyar kemarin memastikan, K-13 akan dilaksanakan secara serentak pada 2019 mendatang. Hal ini sesuai dengan payung hukum implementasi K-13, yaitu Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Dalam peraturan tersebut menyatakan, K-13 tetap akan dijadikan kurikulum nasional mulai tahun ajaran 2019/2020.
Di pasal empat Permendikbud itu disebutkan, satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum  2006  paling   lama   sampai   dengan   tahun   pelajaran 2019/2020. Itu berarti pada tahun ajaran 2019/2020 nanti sekolah tetap harus menerapkan K-13. Dengan Permen ini, ada payung hukum dan jaminan bahwa K-13 akan terus berlanjut. “Kalau memang wajib diimplementasikan secara nasional pada tahun ajaran 2019/2020, itu berarti kalau mulai sekarang kan juga tidak salah,” tutur Nuh.
Menurutnya, Menbuddikdasmen tidak perlu sampai melarang sekolah yang baru satu semester untuk terus melanjutkan K-13. Terlebih jika memang sekolah sudah menyatakan kesiapannya. “Guru yang masih mengeluhkan sulitnya sistem menilai, itu karena belum terbiasa, semua butuh proses. Kalau tidak dimulai bagaimana bisa terbiasa,” jelas Nuh.
Dia menambahkan, wajar jika mayoritas guru jengah untuk menilai dengan sistem K-13 yang autentik dan diskriptif. Ini lantaran guru masih terbawa kebiasaan lama untuk menilai siswanya dengan angka eksak dan tidak diskriptif. Untuk itu, dirinya tidak sepakat jika sekolah justru diinstruksikan untuk kembali ke KTSP. Ia lebih sepakat untuk terus dilanjutkan dengan serentetan evaluasi yang memang perlu untuk dilakukan. “Kalau bicara masih belum sempurna dan masih banyak kekurangan ya memang kenyataannya begitu. Tapi untuk kembali lagi kan sayang sekali, toh nantinya tetap akan K-13,” imbunya. [tam]

Tags: