Siswa SMA Jaya Sakti Ingin Gugatannya Dimenangkan

25-demo ptun-bedPTUN Surabaya, Bhirawa
Setelah menggelar aksi demo pada Rabu (19/3) lalu. Puluhan siswa SMA Jaya Sakti kembali melakukan aksi demo untuk ke dua kalinya ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Dalam aksinya, para siswa menginginkan gugatan sekolahnya ke Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Surabaya dimenangkan oleh Majelis Hakim.
Didampingi sejumlah guru pembinanya, puluhan siswa mendatangi PTUN dengan membawa poster yang bertuliskan “Diknas penghambat program pendidikan”, “Diknas butan penghancur masa depanku” dan “Saya tidak mau hak pendidikan dirampas”.
Pembina SMA Jaya Sakti Sae mengatakan, sebanyak 21 siswa siswi kelas XII menginginkan agar bisa tetap mengikuti Ujian Nasional (Unas) tanggal 14 April mendatang. Menurutnya, aksi demo ini menunjukkan bahwa para siswa menginginkan PTUN untuk mengabulkan gugatan SMA Jaya Sakti dan menetapkan agar para siswa dapat mengikuti Unas.
“Kami minta pada Majelis Hakim supaya mengabulkan tuntutan kami. Persoalan ini menyangkut nasib puluhan siswa kami dalam memperjuangkan haknya ikut Unas,” ujar pembina SMA Jaya Sakti, Senin (24/3).
Dijelaskannya, Diknas Kota Surabaya tidak melakukan visi dan misi pendidikan. Padahal Pemerintah, sudah menekankan kepada peningkatan pendidikan. Tetapi Diknas tidak mengikuti program dari Pemerintah. Ini terbukti pada tahun 2013, saat sekolah mengajukan perpanjangan izin operasional. Namun dari Diknas tidak memberikan izinnya, malah melakukan mutasi masal kepala sekolah.
“Masih ada 21 anak kelas XII yang mau Unas malah dipindah. Kenapa tidak menunggu sampai Unas. Dan ini yang membuat kami kecewa,” jelas Sae kepada wartawan.
Sedangkan Kuasa Hukum SMA Jaya Sakti Sunarno Edi Wibowo menambahkan, pihaknya menginginkan agara Majelis Hakim mengabulkan gugatan SMA Jaya Sakti. Sebab, sidang gugatan itu menyangkut nasib para siswa yang sebentar lagi harus mengikuti Unas. “Intinya kita minta Majelis Hakim PTUN untuk menetapkan siswa SMA Jaya Sakti bisa ikut Unas,” ungkapnya.
Sementara itu, disinggung terkait aksi demo puluhan siswa SMA Jaya Sakti. Tak satupun perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang mau memberikan komentar.
Sebelumnya, Kepala Sekolah SMA Jaya Sakti Siswo Raharjo memaparkan bahwa dirinya tidak tahu untuk masalah merger. Tetapi yang pasti, sekolah dan gedung ada. Namun kenapa Dinas melakukan merger ke sekolah lainnya. Selain itu, kalau sekolah ini ditutup mana surat keterangan ditutup itu mana? Ini yang membuat pihaknya bingung. Dari masalah ini pihaknya sudah pernah berkoordinasi, kurang lebih 12 kali. Tetapi yang nemui hanya orang-orang itu saja dan tidak ada jawaban.
“Siswa yang dimerger ini tidak mau dan kembali ke sekolah ini. Dan sekolah pun tidak bisa berbuat banyak,” pungkasnya. [bed]

Tags: